OPINI
Getah Kezaliman Tak Pandang Bulu
Oleh: Enha
(MIMÙ…_Muslimah Indramayu Menulis)
TanahRibathMedia.Com—Kota Mangga gaduh. Senin (4/5), Jalan Jendral Sudirman sempat ditutup, dan dilakukan rekayasa arus lalu lintas, disebabkan adanya unjuk rasa di depan gedung Pengadilan Negeri Indramayu. Rupanya, kasus tragedi pembunuhan satu keluarga di bulan Agustus tahun lalu, kembali memanas (Kompas.com, 4-5-2026).
Pasalnya, usai sidang digelar pada Rabu (29-4-2026), seorang terdakwa bernama Ririn Rifanto berteriak dan mengejutkan publik dengan statement kontroversialnya. Bahwa, ia bukan pelaku pembunuhan namun dipaksa mengaku, dan disiksa sampai kakinya patah, serta mengklaim ada pelaku sesungguhnya. Narasi pun bergulir ke arah salah tangkap. Hal ini menjadi trigger terjadinya unjuk rasa, sebab perwakilan warga melihat adanya "drama" penggiringan opini dan framing sehingga mengaburkan perkara.
Hingga saat ini, belum terlihat titik terangnya, proses persidangan pun masih berjalan. Warga, terutama pihak keluarga korban, berharap kebenaran terungkap, dan keadilan bisa ditegakkan. Sedikit flashback, delapan bulan lalu, tepatnya pada Kamis (28-8-2025) malam, satu keluarga dibantai di rumah mereka sendiri, yang terletak di Jalan Siliwangi Nomor 52, Kelurahan Paoman, Indramayu. Total ada lima korban, dan dua di antaranya adalah anak berusia 7 tahun dan bayi 8 bulan.
Di tengah kesimpangsiuran yang terjadi, agaknya perlu kita renungi mengapa kejahatan sekeji ini hadir di tengah masyarakat, bahkan bukan yang pertama kali. Beragam kasus kriminal mencuat. Siapapun bisa menjadi korban, orang dewasa, anak-anak sampai balita. Di manapun bisa terjadi, bahkan di tempat yang paling dirasa aman seperti rumah. Pagi, siang, petang, maupun dini hari saat sebagian orang Islam melakukan tahajud, para kriminal malah sedang beraksi.
Jika dikaji secara mendalam, fakta-fakta tragis dan mengoyak sanubari ini, akan mampu membuka mata dan membawa kesadaran. Inilah situasi saat manusia banyak berpaling dari bimbingan Penciptanya. Urung dari mencari tahu misi hidup dan arah untuk pulang. Memilih hawa nafsu sebagai tuhan, menafikan panduan dari Al-Qur'an.
Sedang sebagian yang sudah paham, memilih diam, enggan meraih tongkat estafet perjuangan untuk melakukan perubahan secara mendasar. Membiarkan aturan hidup sekuler, yang memisahkan agama dari kehidupan, berlaku dan dilegalkan. Akhirnya, kezaliman merajalela. Seakan peradaban manusia kembali ke zaman jahiliyah. Jika dahulu hanya bayi-bayi perempuan yang dibunuh, saat ini tak pandang jenis kelaminnya, semua terdampak, semua terkena getahnya.
Padahal tak pernah sepi ayat-ayat Al-Qur'an berbicara soal aturan main dalam berkehidupan. Bagaimana menyelesaikan masalah agar keadilan tegak di muka bumi. Allah Swt. sudah memperingatkan tentang bahaya menjadikan hawa nafsu sebagai tuhan. Yakni, pada saat seseorang menempatkan keinginan dan syahwatnya di atas ketundukan pada aturan Allah Swt.
"Maka apakah engkau telah melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (TQS. al-Jatsiyah: 23)
Saat hawa nafsu mendominasi, mata menjadi buta, dosa pahala sudah tidak dijadikan standar. Perkara utang, dendam, sakit hati, seketika menjadi pembenaran untuk menumpahkan darah. Inilah didikan sistem sekuler. Dan pertanyaannya, apakah kita masih mau untuk tetap mempertahankan sistem perusak moral dan fitrah manusia ini. Atau kita sepakat bersama-sama beranjak menuju sistem Islam, yang berasal dari Allâh, Al-Khalik Al-Mudabbir. Hidup adalah pilihan, dan saatnya kita memilih dengan benar.
Wallahu a’lam bish-shawwab.
Via
OPINI
Posting Komentar