Telusuri
  • Pedoman Media
  • Disclaimer
  • Info Iklan
  • Form Pengaduan
Tanah Ribath Media
Pasang Iklan Murah
  • Home
  • Berita
    • Nasional
    • Lensa Daerah
    • Internasional
  • Afkar
    • Opini Tokoh
    • Opini Anda
    • Editorial
  • Remaja
    • Video
  • Sejarah
  • Analisa
    • Tsaqofah
    • Hukum
  • Featured
    • Keluarga
    • Pernikahan
    • Pendidikan Anak
    • Pendidikan Remaja
    • FiksiBaru
Tanah Ribath Media
Telusuri
Beranda OPINI Sekularisme: Pangkal Kerusakan Moral di Ruang Akademis
OPINI

Sekularisme: Pangkal Kerusakan Moral di Ruang Akademis

Tanah Ribath Media
Tanah Ribath Media
24 Apr, 2026 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp

Oleh: Eci Aulia 
(Sahabat Tanah Ribath Media)

TanahRibathMedia.Com—Kita cukup kaget dengan suguhan berita pelecehan seksual yang terjadi di Universitas Indonesia (UI), salah satu kampus terbaik di negeri ini. Meskipun ini bukan kasus pertama yang pernah terjadi di dunia kampus, tapi cukup menyesakkan dada karena pelecehan seksual itu justru terjadi di fakultas penegak hukum (Kompas.id, 14-04-2026).

Selang beberapa hari dunia pendidikan tinggi kembali heboh dengan kasus serupa. Namun, kali ini pelecehan seksual tidak dilakukan oleh mahasiswa, tapi oleh guru besar di salah satu kampus ternama di Indonesia, Universitas Padjajaran (Unpad) (iNews.id, 17-04-2026).

Kampus yang dicitrakan sebagai ruang akademis pencetak para intelektual dan calon pemimpin di masa depan ternyata menyimpan sisi gelap yang tersembunyi. Pertanyaannya, apakah hal disebabkan oleh kesalahan oknum semata. Tidak, ini bukan hanya soal individu yang gagal mengendalikan diri, tapi ini gejala sistemis dari sebuah peradaban yang rusak.

Pangkal dari kerusakan ini adalah sekularisme, pemisahan agama dari kehidupan. Sebuah pandangan hidup yang menjadi fondasi peradaban Barat modern yang kini diadopsi oleh sebagian negeri-negeri Muslim, termasuk dunia pendidikan. Ketika pondasi kampus dibangun di atas paradigma sekularisme, agama menjadi urusan pribadi. Agama tidak diizinkan mengatur ranah publik seperti pergaulan sosial. Output pendidikan tidak lagi berbicara tentang adab, akhlak, moral, dan kepribadian, tapi hanya seputar kecerdasan akademik. Inilah yang melahirkan dan menumbuhsuburkan perilaku-perilaku nir-moral pada generasi jenjang pendidikan tinggi.

Maka jangan heran, kalau hari ini kita menyaksikan para akademisi baik kalangan mahasiswa, guru, profesor dengan gelar mentereng melakukan pelecehan dan kekerasan seksual. Pintar berorasi dan berbicara tentang tentang hukum dan keadilan, tapi gagal membentuk keimanan dalam diri. Kecerdasan akademik saja tidak akan bisa menjadi rem atas perilaku menyimpang jika tidak dilandasi dengan akidah Islam yang kokoh.

Kepribadian dalam Islam tidak dibentuk oleh rupa, warna kulit, harta, jabatan, dan gelar berjejer panjang. Kepribadian seseorang dibentuk oleh 2 unsur: pola pikir (aqliyah) dan pola sikap (nafsiyah). Pola pikir yang berpijak pada sekularisme akan membentuk pribadi yang berpikir bebas sesuai hawa nafsunya. Namun, pola pikir yang bersandar pada akidah Islam akan melahirkan individu yang sadar akan hubungannya dengan Allah dan sadar bahwa kelak akan mempertanggungjawabkan setiap perbuatannya di hadapan Allah Swt.

Pola sikap yang bersandar pada sekularisme akan membentuk perilaku yang menyimpang dari syariat. Sebaliknya, pola sikap yang dibangun atas akidah Islam akan meletakkan standar setiap perbuatannya pada hukum syarak yakni halal dan haram.

Sekularisme tidak mengizinkan agama mengatur urusan pakaian dan pergaulan sosial. Setiap individu bebas memilih ingin bergaul dengan siapa saja. Tidak ada batasan interaksi antara laki-laki dan perempuan. Pun setiap individu bebas mengenakan model pakaian sesuai keinginannya tanpa tahu batasan aurat. Padahal, aurat adalah pintu masuk bagi pelecehan seksual.

Sistem pergaulan dalam Islam mengatur perihal: menundukkan pandangan, menutup aurat, larangan khalwat, ikhtilat, dan tabbaruj bagi laki-laki maupun perempuan. Ini bukanlah suatu bentuk pengekangan yang sering dinarasikan oleh paham sekularisme, tapi ini bentuk penjagaan Allah terhadap manusia.

Allah Swt. berfirman di dalam QS. Al-Nûr: 30:

قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat". (QS An-Nur ayat 30)

Adapun sanksi dan tindakan preventif terhadap pelaku pelecehan seksual yang dilakukan di kampus hanya sebatas penonaktifan para pelaku, memperketat aturan kampus, membentuk dan memperkuat satgas kelembagaan kampus, dialog internal hingga edukasi terhadap mahasiswa baru. Sama sekali tidak menyentuh akar dari kerusakaan itu sendiri yaitu sekularisme. Sementara sanksi hukum pidana yang diberikan alih-alih memberikan efek jera bagi pelaku. Justru melahirkan pelaku-pelaku baru dengan motif yang berbeda.

Berbeda dengan Islam yang memiliki sanksi tegas terhadap para pelaku kejahatan seksual. Tujuannya memberikan efek jera (zawajir) dan penebus dosa (jawabir). Mulai dari hukum ta'zir berupa penjara, cambuk, dan pengasingan jika kasusnya ringan. Jika kasusnya berat hingga mendekati zina maka berlaku hukum had yang jenis dan kadarnya ditetapkan oleh Allah Swt. dalam Al-Qur'an.

Paham sekularisme yang meletakkan standar perbuatan pada suka atau tidak suka hanya akan membawa kesengsaraan bagi manusia, sudah selayaknya kita campakkan dari kehidupan. Islam yang meletakkan standar perbuatan pada halal dan haram akan membawa kebahagiaan dan keberkahan bagi manusia, sudah sepatutnya kita ambil.

Syekh Taqiyuddin An-Nabhani berkata, kaum Muslim tidak pernah mengalami kemunduran dari posisinya sebagai pemimpin dunia selama tetap berpegang teguh pada agamanya. Kemunduran kaum Muslim mulai tampak tatkala mereka meninggalkan dan meremehkan ajaran agama, membiarkan peradaban asing masuk menyerbu negeri-negeri mereka, membiarkan paham-paham Barat bercokol dalam benak mereka.

Maka, untuk bangkit dan mengembalikan peradaban Islam itu sendiri, kita butuh generasi yang tidak hanya cerdas dan pintar dari sisi akademis, tapi juga generasi yang beriman sekaligus takut kepada Allah Swt. Generasi yang kepribadiannya terbentuk oleh pola pikir dan pola sikap Islam. Di mana keduanya tegak lurus di atas akidah Islam. Hanya sistem pendidikan berbasis akidah Islam yang bisa melahirkan generasi-generasi seperti itu.
Wallahu alam bissawwab.
Via OPINI
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar

- Advertisment -
Pasang Iklan Murah
- Advertisment -
Pasang Iklan Murah

Featured Post

Melampaui Batas Nasionalisme, Melawan Hegemoni Global; Sebuah Pelajaran dari Perang Iran melawan AS

Tanah Ribath Media- April 24, 2026 0
Melampaui Batas Nasionalisme, Melawan Hegemoni Global; Sebuah Pelajaran dari Perang Iran melawan AS
Oleh: Putri Ramadhini (Sahabat Tanah Ribath Media) TanahRibathMedia.Com— Iran telah di embargo selama hampir 50 tahun oleh AS sejak revolusi pada t…

Most Popular

Dampak Judi Online terhadap Kerusakan Moral Generasi dalam Sistem Kapitalisme

Dampak Judi Online terhadap Kerusakan Moral Generasi dalam Sistem Kapitalisme

April 19, 2026
Negeri di Atas Kertas: Memutus Rantai Sandera Energi Global

Negeri di Atas Kertas: Memutus Rantai Sandera Energi Global

April 19, 2026
Dana Umat Mengentaskan Kemiskinan, Solutifkah?

Dana Umat Mengentaskan Kemiskinan, Solutifkah?

April 19, 2026

Editor Post

Tak Habis Pikir

Tak Habis Pikir

Juni 11, 2023
Lebih dari 70 Muslimah Hadiri Talk Show Kajian Risalah Akhir Tahun 2023

Lebih dari 70 Muslimah Hadiri Talk Show Kajian Risalah Akhir Tahun 2023

Januari 01, 2024
Untuk Engkau yang Merindu Bahagia

Untuk Engkau yang Merindu Bahagia

Juni 09, 2023

Popular Post

Dampak Judi Online terhadap Kerusakan Moral Generasi dalam Sistem Kapitalisme

Dampak Judi Online terhadap Kerusakan Moral Generasi dalam Sistem Kapitalisme

April 19, 2026
Negeri di Atas Kertas: Memutus Rantai Sandera Energi Global

Negeri di Atas Kertas: Memutus Rantai Sandera Energi Global

April 19, 2026
Dana Umat Mengentaskan Kemiskinan, Solutifkah?

Dana Umat Mengentaskan Kemiskinan, Solutifkah?

April 19, 2026

Populart Categoris

Tanah Ribath Media

Tentang Kami

Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Contact us: contact@gmail.com

Follow Us

Copyright © 2023 Tanah Ribath Media All Right Reserved
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Advertisement
  • Contact Us