OPINI
Kesatuan Negeri Muslim: Kekuatan Menghadapi Hegemoni Global
TanahRibathMedia.Com—Fakta perang antara AS-Israel dan Iran menunjukkan bahwa kekuatan negara adidaya ternyata tidak mutlak. Meskipun Iran hanya satu negeri muslim, AS dan Israel tidak mampu dengan mudah menundukkannya. Bahkan diberitakan bahwa “Iran berhasil memaksakan supaya Amerika menerima 10 persyaratan yang diminta (AntaraNews, 12 April 2026).
Hal ini menunjukkan bahwa Iran tetap memiliki posisi tawar di tengah tekanan militer dan politik dari kekuatan besar dunia. Di sisi lain, AS juga tidak berhasil memaksa seluruh sekutunya untuk terlibat langsung dalam konflik tersebut. Namun fakta lain yang memprihatinkan adalah masih adanya sebagian penguasa negeri muslim yang justru berpihak kepada AS, sehingga memperlihatkan rapuhnya solidaritas politik di dunia Islam. Kondisi ini menunjukkan bahwa potensi kekuatan umat Islam sebenarnya besar, tetapi terhambat oleh perpecahan dan loyalitas kepada kepentingan asing.
Dari fakta tersebut terlihat bahwa AS dan Israel tidak sekuat citra hegemoni global yang selama ini dibangun. Iran membuktikan bahwa keberanian politik dan keteguhan sikap mampu memberikan tekanan terhadap negara adidaya. Hal ini juga menegaskan bahwa hubungan antarnegara dibangun atas dasar kepentingan, bukan loyalitas abadi ataupun akidah Islam.
Sayangnya, keberpihakan sebagian penguasa muslim kepada Barat justru melemahkan posisi umat Islam secara keseluruhan. Perpecahan politik negeri-negeri muslim adalah celah yang dimanfaatkan kekuatan besar untuk mempertahankan dominasi atas dunia Islam. Padahal bila umat bersatu, negeri-negeri muslim memiliki sumber daya strategis dan kekuatan geopolitik yang dapat menjadi kekuatan baru di kancah dunia sebagaimana firman Allah Swt. pada surat Al-Imran 110:
"Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah."
Karena itu, diperlukan konstruksi kesadaran politik umat bahwa persatuan negeri-negeri muslim merupakan kebutuhan mendesak. Kesatuan itu tidak cukup dibangun dengan kerja sama pragmatis, tetapi harus dilandasi aqidah Islam sebagai fondasi politik yang menyatukan visi, kekuatan ekonomi, dan pertahanan umat yang diikat dalam institusi Khilafah Islam sebagai mekanisme pemersatu negeri-negeri muslim. Dengan kekuatan persatuan yang terorganisasi melalui jihad dan khilafah, umat Islam akan mampu menjadi kekuatan global yang disegani dan membawa rahmat bagi dunia melalui dakwah, jihad dan penerapan syariat Islam secara kaffah.
Perang AS-Iran memberikan pelajaran besar bahwa hegemoni global dapat dilawan ketika ada keberanian dan kekuatan politik. Jika satu negeri muslim saja mampu memberi tekanan kepada negara adidaya, maka persatuan seluruh negeri muslim melalui institusi khilafah akan menjadi kekuatan yang jauh lebih besar. Kebangkitan umat hanya dapat terwujud melalui persatuan politik yang berlandaskan akidah dan penerapan syariat secara menyeluruh, sehingga umat Islam mampu menjaga akidah, kedaulatan, dan membela umat Islam lain yang tertindas. Dengan demikian, kesatuan umat bukan hanya cita-cita ideal, tetapi merupakan jalan strategis untuk menghadirkan kemuliaan Islam dan rahmat bagi seluruh alam.
Wallahualam bisshawab
Yelly
(Sahabat Tanah Ribath Media)
Via
OPINI
Posting Komentar