Telusuri
  • Pedoman Media
  • Disclaimer
  • Info Iklan
  • Form Pengaduan
Tanah Ribath Media
Pasang Iklan Murah
  • Home
  • Berita
    • Nasional
    • Lensa Daerah
    • Internasional
  • Afkar
    • Opini Tokoh
    • Opini Anda
    • Editorial
  • Remaja
    • Video
  • Sejarah
  • Analisa
    • Tsaqofah
    • Hukum
  • Featured
    • Keluarga
    • Pernikahan
    • Pendidikan Anak
    • Pendidikan Remaja
    • FiksiBaru
Tanah Ribath Media
Telusuri
Beranda IBRAH Fatimah Az-Zahra: Cahaya Kesabaran dari Rumah Kenabian
IBRAH

Fatimah Az-Zahra: Cahaya Kesabaran dari Rumah Kenabian

Tanah Ribath Media
Tanah Ribath Media
14 Apr, 2026 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp



Oleh: Siti Aisyah, S.Sos. 
[Koordinator Kepenulisan Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok]

TanahRibathMedia.Com—Malam itu, Kota Madinah terasa sunyi sepi dari biasanya. Angin pun berembus pelan, seolah membawa sisa duka yang belum juga reda sejak wafatnya Rasulullah saw. Di sebuah rumah sederhana, seorang perempuan duduk dalam diam. Wajahnya teduh, namun matanya menyimpan kesedihan yang mendalam. Pasalnya, Ayah yang sangat dicintainya sudah tiada (wafat). Ia adalah Fatimah az-Zahra radhiyallahu ‘anha, putri tercinta yang sejak kecil telah menemani luka-luka dakwah ayahnya (Rasulullah saw.).

Kenangan itu masih begitu jelas dalam benak Fāṭimah binti Muḥammad yang lahir sekitar 605 H/632 M. Di Makkah dahulu, ketika ayahnya dihina dan disakiti kaum Quraisy, dialah yang berlari membersihkan kotoran dari punggung beliau saat sujud. Tangisnya pecah, bukan karena takut, tapi karena tak sanggup melihat orang yang paling ia cintai diperlakukan dengan begitu kejam.

Sejak saat itu, ia pun dikenal dengan julukan Ummu Abiha yang artinya, Ibu bagi Ayahnya. Sebuah gelar yang bukan sekadar panggilan, tapi cerminan dari kasih sayang dan pengorbanan yang luar biasa. Terlebih setelah wafatnya Ibundanya (Khadijah binti Khuwailid), Fatimah seakan mengambil peran besar dalam merawat dan menguatkan hati Rasulullah saw.

Ketika pertama kali wahyu turun kepada ayahnya, ia masih sangat muda. Namun sejak usia belia, Fatimah telah menjadi saksi berbagai bentuk penindasan yang dialami Rasulullah saw. dari kaum Quraisy yang menentang dakwah Islam. Salah satu peristiwa yang tak pernah dilupakan ketika ia menemani ayahnya di Ka’bah. Saat Rasulullah saw. sedang bersujud, orang-orang musyrik sengaja meletakkan kotoran dan isi perut unta di punggung beliau. Beban itu membuat beliau tidak mampu bangkit.

Melihat hal itu, Fatimah kecil bergegas menghampiri. Dengan tangan mungilnya, ia membersihkan kotoran tersebut sambil menangis. Hatinya hancur melihat penderitaan ayahnya, tapi dari sanalah tumbuh keteguhan yang kelak menjadikannya wanita mulia. Sejak kepergian Ibunya, peran Fatimah semakin besar. Ia bukan hanya seorang anak, tapi juga penenang, penguat, dan pelindung bagi ayahnya. Kedekatan mereka begitu dalam terjalin oleh cinta, ujian, dan iman.

Meski telah menikah dengan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, perhatian Fatimah kepada Rasulullah saw. tidak pernah berkurang. Ia kerap mengirimkan makanan kepada ayahnya, meskipun dirinya sendiri hidup dalam kesulitan. Rasulullah saw. pun membalasnya dengan cinta yang sama yakni cinta yang tulus, yang tak pernah lekang oleh waktu maupun keadaan.

Dalam banyak riwayat sahih, disebutkan, Fatimah adalah orang yang paling mirip dengan Rasulullah saw., baik dalam cara berjalan, berbicara, maupun sikapnya. Hal ini diriwayatkan oleh Aisyah binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anha. Setiap kali Fatimah datang, Rasulullah saw. bangkit menyambutnya, mencium keningnya, dan mempersilakannya duduk di tempat beliau. Sebuah penghormatan yang begitu agung.

Namun cinta itu bukan tanpa ujian. Fatimah hidup dalam kesederhanaan. Ia menikah dengan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Rumah tangga mereka jauh dari kemewahan. Tangannya pernah kapalan karena menggiling gandum, tubuhnya lelah karena mengurus rumah. Ketika ia meminta pembantu, Rasulullah SAW tidak memberinya. Sebaliknya, beliau mengajarkan zikir sebelum tidur yakni tasbih, tahmid, dan takbir (HR al-Bukhari dan Muslim). Dari sinilah Fatimah belajar, kekuatan sejati ada pada kedekatan dengan Allah, bukan pada kemudahan dunia.

Hari-hari terakhir Rasulullah saw. menjadi hari yang paling berat bagi Fatimah. Dalam riwayat sahih hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim, disebutkan, suatu saat Rasulullah saw. memanggil Fatimah dan membisikkan sesuatu. Seketika, Fatimah menangis. Tak lama kemudian, beliau membisikkan lagi sesuatu. Kali ini, Fatimah tersenyum. Setelah Rasulullah saw. wafat, Aisyah binti Abu Bakar bertanya tentang hal itu.

Fatimah menjelaskan, pada bisikan pertama, Rasulullah saw. memberi tahu, beliau akan wafat, itulah yang membuatnya menangis.  Bisikan kedua, ia akan menjadi orang pertama dari keluarga yang menyusul beliau, itulah yang membuatnya tersenyum. Senyum itu bukan karena gembira dunia, tetapi karena rindu yang akan segera terobati. Beliau juga mengabarkan kepada Fatimah bahwa ia pemimpin para wanita semesta alam. 

Sejak wafatnya Rasulullah saw., kesedihan menyelimuti hidup Fatimah. Dalam riwayat disebutkan, ia jarang terlihat tersenyum setelah itu. Ia tetap menjalani hidupnya dengan sabar, mengurus rumah, mendidik anak-anaknya, Hasan bin Ali dan Husain bin Ali, serta menjaga amanah sebagai seorang Muslimah. Namun tubuhnya semakin lemah, seakan hatinya telah lebih dulu pergi. Enam bulan setelah wafatnya Rasulullah saw., sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Bukhari, Fatimah jatuh sakit. Ia mengetahui waktunya telah dekat. Dengan tenang, ia berwasiat kepada suaminya, Ali bin Abi Thalib, agar ia dimakamkan pada malam hari secara sederhana, tanpa keramaian. 

Malam itu, Madinah kembali hening. Tanpa gemuruh, tanpa keramaian, Fatimah az-Zahra dimakamkan. Tidak seperti kebanyakan manusia yang dikejar dunia hingga akhir hayatnya, Fatimah justru meninggalkan dunia dengan tenang, seperti embun yang jatuh tanpa suara. Ia wafat dalam usia yang masih muda pada 11 Hijriah, atau sekitar tahun 632 Masehi, usianya sekitar 27 tahun, namun meninggalkan warisan yang sangat besar yakni iman, kesabaran, dan kemuliaan.

Rasulullah saw. pernah bersabda, “Fatimah adalah bagian dariku. Siapa yang menyakitinya, maka ia telah menyakitiku.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain, “Fatimah adalah pemimpin wanita penghuni surga.” Kehidupan Fatimah mengajarkan, kemuliaan tidak diukur dari harta, tetapi dari keteguhan iman. Ia hidup sederhana, tetapi namanya harum di langit. Ia menangis karena cinta, bersabar karena iman, dan wafat karena rindu. Fatimah az-Zahra telah pergi, tetapi cahayanya tetap hidup, menerangi hati setiap Muslimah yang ingin meneladani jalan menuju ridha Allah. Semoga Allah meridhai Fatimah az-Zahra, penghulu wanita surga.
Via IBRAH
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar

- Advertisment -
Pasang Iklan Murah
- Advertisment -
Pasang Iklan Murah

Featured Post

Legalisasi Hukuman Mati Tahanan Palestina, Bukti Nyata Kebiadaban Zionis

Tanah Ribath Media- April 14, 2026 0
Legalisasi Hukuman Mati Tahanan Palestina, Bukti Nyata Kebiadaban Zionis
Oleh: Yuke Octavianty (Forum Literasi Muslimah Bogor) TanahRibathMedia.Com— Keadaan Palestina makin mencekam. Senin (30 Maret 2026) lalu, Parlemen …

Most Popular

Arus Balik, Arus Masalah: Urbanisasi sebagai Bukti Gagalnya Sistem

Arus Balik, Arus Masalah: Urbanisasi sebagai Bukti Gagalnya Sistem

April 08, 2026
BoP dan Ilusi Perdamaian, ketika Umat Harus Bersikap Tegas

BoP dan Ilusi Perdamaian, ketika Umat Harus Bersikap Tegas

April 08, 2026
Urbanisasi setelah Idulfitri, Wujud Kesenjangan

Urbanisasi setelah Idulfitri, Wujud Kesenjangan

April 08, 2026

Editor Post

Tak Habis Pikir

Tak Habis Pikir

Juni 11, 2023
Untuk Engkau yang Merindu Bahagia

Untuk Engkau yang Merindu Bahagia

Juni 09, 2023
Lebih dari 70 Muslimah Hadiri Talk Show Kajian Risalah Akhir Tahun 2023

Lebih dari 70 Muslimah Hadiri Talk Show Kajian Risalah Akhir Tahun 2023

Januari 01, 2024

Popular Post

Arus Balik, Arus Masalah: Urbanisasi sebagai Bukti Gagalnya Sistem

Arus Balik, Arus Masalah: Urbanisasi sebagai Bukti Gagalnya Sistem

April 08, 2026
BoP dan Ilusi Perdamaian, ketika Umat Harus Bersikap Tegas

BoP dan Ilusi Perdamaian, ketika Umat Harus Bersikap Tegas

April 08, 2026
Urbanisasi setelah Idulfitri, Wujud Kesenjangan

Urbanisasi setelah Idulfitri, Wujud Kesenjangan

April 08, 2026

Populart Categoris

Tanah Ribath Media

Tentang Kami

Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Contact us: contact@gmail.com

Follow Us

Copyright © 2023 Tanah Ribath Media All Right Reserved
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Advertisement
  • Contact Us