OPINI
‘Rasa’ Tak Terbalaskan yang Berujung Kekerasan
Oleh: Irohima
(Sahabat Tanah Ribath Media)
TanahRibathMedia.Com—Kekerasan dan kriminalitas di kalangan remaja semakin meresahkan. Semakin hari perilaku remaja kerap mengundang kekhawatiran. Setiap tindakan kekerasan yang pada akhirnya berujung penganiayaan hingga pembunuhan terkadang dipicu oleh beberapa hal seperti pertengkaran, persaingan hingga rasa yang tak terbalaskan. Sudah begitu rapuhkah generasi penerus sekarang, hingga menggunakan kekerasan sebagai satu-satunya solusi permasalahan?
Lagi dan lagi, terjadi baru-baru ini, seorang mahasiswa berinisial RM melakukan aksi brutal dengan membacok seorang mahasiswi yang bernama Faradilla Ayu hingga mengalami luka berat di bagian kepala dan tangan. Peristiwa penganiayaan ini terjadi saat korban akan mengikuti seminar proposal di lantai 2 Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum UIN Sultan Syarif Kasim kota Pekan baru, Riau. Pelaku berhasil ditangkap dan diserahkan ke Polsek Bina Widya kota Pekanbaru sebagai tersangka untuk kemudian diproses hukum (www.metrotvnews.com, 26-02-2026).
Diduga motif tersangka melakukan aksi brutal tersebut karena ‘rasa’ yang dimiliki tersangka tak mendapat balasan dari korban. Tersangka RM menaruh hati sejak keduanya mengikuti KKN, sementara korban diketahui telah sering menolak dan menegaskan bahwa hubungan mereka tak bisa lebih dari sekedar teman. Penolakan korban rupanya tak dapat diterima tersangka yang akhirnya berujung pada penyerangan di kampus.
Sungguh miris, dari hari ke hari kita selalu disuguhi fakta tentang generasi yang memiliki perilaku yang cenderung dekat dengan aktivitas kekerasan, pembunuhan dan pergaulan bebas. Tak terhitung sudah jumlah korban ataupun pelaku dari generasi muda dalam persoalan ini. Kasus Faradilla Ayu adalah salah satu dari sekian dampak yang muncul akibat penerapan sistem sekular kapitalisme dalam segala aspek, termasuk pendidikan. Sistem pendidikan ala sekularisme yang meniadakan agama dalam kehidupan telah membentuk generasi yang menganggap bahwa kebebasan tidak memiliki batas, hingga berakibat pada aktivitas yang tidak memiliki tolok ukur halal haram dan kerap tidak memikirkan dampaknya bagi orang lain.
Sistem pendidikan ala sekularisme telah terbukti gagal dalam membentuk generasi berkepribadian mulia. Saat ini kita bisa melihat maraknya normalisasi nilai-nilai liberalisme, khususnya pergaulan bebas seperti pacaran, perselingkuhan dan lain sebagainya di tengah keluarga dan masyarakat. Hal ini tentu berdampak besar dalam pembentukan karakter dan perilaku generasi.
Banyak dari mereka yang pada akhirnya memiliki perilaku yang bertentangan dengan norma agama, mudah tersulut emosi, ceroboh dan kerap menyelesaikan segala persoalan dengan kekerasan bahkan dengan pembunuhan.
Negara yang menerapkan sistem sekuler kapitalisme dinilai kurang memprioritaskan pembinaan generasi, hingga generasi sering dipandang hanya sebagai faktor ekonomi yang bernilai produktif dan berorientasi pada keuntungan materi. Hal ini tentu saja sesuatu yang wajar, karena negara dalam sistem kapitalisme memang cenderung memprioritaskan pertumbuhan ekonomi dan akumulasi kekayaan yang mendorong individu khususnya generasi lebih fokus pada kekayaan dan status sosial tanpa memperhatikan nilai agama dan moral.
Sistem pendidikan sekuler juga lebih mementingkan pengetahuan akademis dan keterampilan tapi tidak dalam pendidikan karakter dan moral. Sistem kapitalisme telah menumbuhkan individualisme, menciptakan generasi yang tak hanya mandiri dan kompetitif tapi juga kurang empati. Tak heran jika generasi yang lahir dari sistem ini, begitu akrab dengan kekerasan, memuja kebebasan tanpa batas dan tak menjadikan halal haram sebagai tolok ukur perbuatan.
Lain halnya dengan sistem pendidikan ala Islam. Dalam Islam, sistem pendidikan akan dibangun berdasarkan akidah dengan tujuan membentuk kepribadian Islam yang mulia yakni generasi yang memiliki pola pikir dan pola sikap yang sesuai dengan syariat. Negara dalam Islam akan mendidik generasi agar memiliki kesadaran untuk taat pada syariat, menjadikan halal haram sebagai tolok ukur dalam setiap aktivitas. Hal ini selaras dengan tujuan mulia pendidikan dalam Islam, yakni mencetak generasi yang tak hanya cerdas dan cakap namun juga generasi yang tangguh, beriman, bertakwa, dan bertanggung jawab.
Kewajiban amar makruf nahi munkar akan menumbuhkan kesadaran pada diri setiap muslim untuk peduli dan memiliki empati, hal ini akan menciptakan suatu masyarakat yang saling mengingatkan dalam kebaikan dan menentang kemaksiatan. Kondisi ini tentu akan mendorong tumbuhnya situasi yang kondusif di tengah masyarakat dan menjauhkan kita dari perilaku menyimpang.
Negara akan menerapkan sistem pergaulan Islam di mana kehidupan laki-laki dan perempuan diatur oleh syariat untuk mencegah interaksi berlebihan antara laki-laki dan perempuan juga menutup celah terjadinya kemaksiatan seperti perzinahan, kekerasan dan hal- hal lain yang bertentangan. Sanksi tegas sesuai syariat juga akan diberlakukan untuk memberi efek jera bagi para pelanggar aturan agar keamanan dan kehormatan masyarakat terjaga. Tidak seperti yang terjadi saat ini, di mana kasus kekerasan terus terjadi berulang–ulang akibat hukum yang tidak tegas dan tidak berefek jera, hingga persoalan kekerasan terus menjadi mimpi buruk di tengah malam.
Wallahualam bish shawab.
Via
OPINI
Posting Komentar