Telusuri
  • Pedoman Media
  • Disclaimer
  • Info Iklan
  • Form Pengaduan
Tanah Ribath Media
Pasang Iklan Murah
  • Home
  • Berita
    • Nasional
    • Lensa Daerah
    • Internasional
  • Afkar
    • Opini Tokoh
    • Opini Anda
    • Editorial
  • Remaja
    • Video
  • Sejarah
  • Analisa
    • Tsaqofah
    • Hukum
  • Featured
    • Keluarga
    • Pernikahan
    • Pendidikan Anak
    • Pendidikan Remaja
    • FiksiBaru
Tanah Ribath Media
Telusuri
Beranda OPINI Labu Menghilang, Nyawa Melayang dalam Kapitalisme
OPINI

Labu Menghilang, Nyawa Melayang dalam Kapitalisme

Tanah Ribath Media
Tanah Ribath Media
11 Mar, 2026 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp


Oleh: Shintia Rizki Nursayyidah, S.Pd.
(Sahabat Tanah Ribath Media)

TanahRibathMedia.Com—Miris dan pilu. Seorang lansia, di Kampung Bayabang, Desa Talaga, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur tewas dianiaya tetangganya setelah nekat mencuri dua buah labu siam. Satreskrim Polres Cianjur mengungkapkan bahwa dua buah labu siam yang dicuri tersebut akan diolah menjadi makanan untuk berbuka puasa (news.republika.co.id, 5-3-2026).

Siapa yang tidak terenyuh membaca berita tersebut? Tentu orang yang masih mempunyai hati dan pikiran akan merasa sedih. Dua buah labu siam yang jika kita beli di pasar harganya tidak lebih dari 5.000 rupiah, harus membuat nyawa melayang. Kemiskinan hari ini benar-benar telah mencekik rakyat. Rakyat dibiarkan berjuang dan menanggung sendiri semua kebutuhan pokoknya. Sementara kebijakan pengentasan kemiskinan seperti bansos, MBG (Makan Bergizi Gratis), dan lain sebagainya tidak menyentuh akar masalah dan terkesan hanya pencitraan belaka.

Inilah konsekuensi dari penerapan sistem kapitalis-sekuler. Penerapan sistem kapitalis-sekuler membuat masyarakat menjadi individualis, di mana dalam struktur sosial yang menempatkan kebebasan pribadi, hak milik pribadi, dan akumulasi kekayaan maksimal sebagai fokus utama. Mendorong kemandirian, persaingan, dan materialisme, sehingga mengabaikan kepentingan sosial demi keuntungan pribadi.

Kasus meninggalnya lansia yang mencuri 2 buah labu untuk makan karena dianiaya penjaga kebun labu, membuktikan bahwa pola hubungan tetangga dalam masyarakat kini sudah bergeser. Tingkat kepedulian berubah menjadi individualistis dan hanya berasas manfaat dan cenderung abai satu sama lain. Masyarakat minim empati. Hanya karena 2 buah labu hilang dicuri untuk mengganjal perut yang lapar, semudah itu emosi memuncak hingga membuat nyawa melayang. 

Adanya kasus ini pun menggambarkan lemahnya peran pemimpin di negeri ini dalam bentuk kepedulian dan pelayanan rakyat. Kapitalis-sekuler telah menciptakan penguasa populis dan tidak hadir sebagai penanggungjawab penuh atas urusan rakyat. Masalah kemiskinan akan terus bergulir, sebab kemiskinan di negeri ini terjadi secara struktural. Ketimpangan begitu nyata, yang kaya makin kaya. Rakyat miskin semakin menderita.

Berbeda dengan Sistem Islam. Islam memiliki mekanisme yang sempurna dalam mengentaskan kemiskinan. Sistem ini berbasis syariat Islam dan akidah menjadi landasannya. Dalam Islam, penguasa merupakan penanggung jawab atas urusan rakyatnya. Nabi saw. bersabda:

“Imam (kepala negara) itu adalah pemimpin dan bertanggungjawab atas rakyat yang dia pimpin.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Untuk itu, negara dalam Islam akan bertanggungjawab penuh memenuhi kebutuhan pokok rakyatnya sesuai dengan politik ekonomi Islam. Politik ekonomi Islam menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok rakyat, baik sandang, pangan, papan maupun kesehatan, pendidikan serta keamanan. Negara menjamin ketersediaan lapangan pekerjaan sehingga rakyat bisa bekerja dan memenuhi kebutuhan pokok keluarganya. 

Negara juga memampukan rakyatnya dalam memenuhi kebutuhan sekunder maupun tersier, dengan menciptakan keseimbangan ekonomi ditengah masyarakat. Dalam surat Al-hasyr ayat 7, syariat mengatur bahwa harta tidak boleh berputar pada kalangan tertentu saja. Maka, negara akan memastikan bahwa harta bisa terdistribusi secara merata sehingga tidak terjadi ketimpangan. 
Negara dalam Islam juga akan mengurusi orang-orang yang lemah dan tidak ada orang yang wajib menanggung nafkahnya. Orang yang temasuk golongan fakir dan miskin akan mendapatkan bagian dari harta zakat. Maka tidak akan ada kasus seperti lansia yang terpaksa mencuri labu untuk memenuhi rasa laparnya, karena negara akan bertanggungjawab untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. Kita mungkin sudah pernah membaca kisahnya, bagaimana seorang pemimpin dalam Islam, yakni Umar bin Khatab memikul sendiri sekarung gandum ke rumah seorang ibu yang memasak batu untuk menenangkan anaknya yang kelaparan. Inilah bentuk tanggung jawab luar biasa seorang pemimpin dalam Islam. Umar memposisikan dirinya sebagai pelayan rakyat, bukan penguasa yang dilayani.

Dalam Islam, seluruh pembiayaan pengentasan kemiskinan yang dilakukan negara bersumber dari harta fai, kharaj, maupun harta kepemilikan umum dari tambang migas dan nonmigas, bukan dengan mengeluarkan kebijakan yang akan menambah beban rakyat di tengah ekonomi yang sulit dan karut marut.

Sejarah telah membuktikan bagaimana pertanggungjawaban seorang pemimpin dalam Islam dan juga negara Islam atau Khilafah dengan mekanismenya telah mampu mewujudkan kesejahteraan bagi rakyat. Tidakkah kita ingin kembali kepada sistem yang akan mengentaskan kemiskinan, mewujudkan keadilan, dan kesejahteraan bagi manusia?
Via OPINI
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar

- Advertisment -
Pasang Iklan Murah
- Advertisment -
Pasang Iklan Murah

Featured Post

Romansa Ditolak, Nyawa Terancam: Potret Gagalnya Sistem Pendidikan Sekuler

Tanah Ribath Media- Maret 11, 2026 0
Romansa Ditolak, Nyawa Terancam: Potret Gagalnya Sistem Pendidikan Sekuler
TanahRibathMedia.Com— Lagi-lagi, terjadi kekerasan remaja di lingkungan pendidikan. Kali ini ada di UIN Sultan Syarif Kasim Riau yang melibatkan se…

Most Popular

Kekerasan Aparat dan Suburnya Ketidakadilan, Dampak Sistem Sekuler

Kekerasan Aparat dan Suburnya Ketidakadilan, Dampak Sistem Sekuler

Maret 10, 2026
Aneh, MBG tetap Jalan Meski di Bulan Ramadan

Aneh, MBG tetap Jalan Meski di Bulan Ramadan

Maret 10, 2026
Kekerasan Aparat, Cermin Gagalnya Sistem Sekuler

Kekerasan Aparat, Cermin Gagalnya Sistem Sekuler

Maret 08, 2026

Editor Post

Tak Habis Pikir

Tak Habis Pikir

Juni 11, 2023
Untuk Engkau yang Merindu Bahagia

Untuk Engkau yang Merindu Bahagia

Juni 09, 2023
Terhubung tapi Terasing: Mengungkap Kesepian akibat Media Sosial di Era Kapitalisme Liberalisme

Terhubung tapi Terasing: Mengungkap Kesepian akibat Media Sosial di Era Kapitalisme Liberalisme

Oktober 02, 2025

Popular Post

Kekerasan Aparat dan Suburnya Ketidakadilan, Dampak Sistem Sekuler

Kekerasan Aparat dan Suburnya Ketidakadilan, Dampak Sistem Sekuler

Maret 10, 2026
Aneh, MBG tetap Jalan Meski di Bulan Ramadan

Aneh, MBG tetap Jalan Meski di Bulan Ramadan

Maret 10, 2026
Kekerasan Aparat, Cermin Gagalnya Sistem Sekuler

Kekerasan Aparat, Cermin Gagalnya Sistem Sekuler

Maret 08, 2026

Populart Categoris

Tanah Ribath Media

Tentang Kami

Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Contact us: contact@gmail.com

Follow Us

Copyright © 2023 Tanah Ribath Media All Right Reserved
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Advertisement
  • Contact Us