OPINI
Masjid Dipenuhi Orang Tua, Remaja ke Mana?
TanahRibathMedia.Com—Azan berkumandang, saf-saf salat terisi, tetapi wajah-wajah yang mendominasi adalah mereka yang telah menua mulai dari para ayah, ibu, dan orang dengan rambut-rambut yang mulai memutih. Lalu ke mana para remaja yang dahulu berdiri satu saf bersama kita? Di mana gelora muda yang dulu memenuhi masjid dengan semangat, tadarus panjang selepas tarawih, dan air mata tobat di bulan Ramadan?
Fenomena ini bukan sekadar perubahan suasana, melainkan kegelisahan zaman. Masjid masih berdiri kokoh, namun ikatan generasi muda dengannya perlahan merenggang. Ramadan datang setiap tahun membawa panggilan yang sama, tetapi tidak semua hati menjawabnya. Dahulu Ramadan menjadi momentum kebangkitan ruh generasi muda berlomba mengejar rida Allah. Kini, masjid sering dipenuhi usia senja, sementara energi pemuda semakin jarang terlihat. Ini bukan sekadar perubahan zaman; ini alarm bagi peradaban.
Dalam sejarah Islam, pemuda adalah tulang punggung kebangkitan. Ali bin Abi Thalib memeluk Islam pada usia delapan tahun dan berdiri di barisan dakwah tanpa ragu.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
“Tujuh golongan yang dinaungi Allah dalam naungan-Nya pada hari ketika tidak ada naungan kecuali naungan-Nya:
(1) imam yang adil;
(2) seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allah;
(3) seseorang yang hatinya bergantung pada masjid;
(4) dua orang yang saling mencintai di jalan Allah, berkumpul dan berpisah karena-Nya;
(5) seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan, lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah’;
(6) seseorang yang bersedekah lalu ia menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan tangan kanannya; serta
(7) seseorang yang berzikir kepada Allah dalam keadaan sepi lalu meneteskan air mata.”
Hadis ini bukan sekadar keutamaan, tetapi standar kemuliaan generasi. Namun realitas hari ini lebih kompleks. Remaja hidup di tengah arus hedonisme, budaya viral, dan standar eksistensi yang diukur dari pengakuan media sosial. Jika masjid tidak menjadi ruang alternatif yang hidup dan bermakna, maka dunia luar akan selalu tampak lebih menarik. Jika dakwah tidak menjawab kegelisahan mereka tentang jati diri, cinta, masa depan, dan tekanan sosial, maka mereka akan mencari jawaban di tempat lain.
Memang benar, di beberapa tempat masih ada remaja masjid. Namun sering kali keberadaannya terbatas pada momen-momen tertentu sekadar membantu kegiatan besar, menjadi panitia acara, atau meramaikan peringatan hari-hari tertentu. Aktivitasnya bersifat seremonial, bukan pembinaan berkelanjutan. Bahkan tidak sedikit yang secara tampilan luar terlihat aktif dan baik, tetapi di dalam dirinya tauhid belum benar-benar tertanam kokoh. Semangat ada, tetapi fondasi belum kuat. Ramai dalam kegiatan, namun belum tentu dalam kedekatan dengan Allah.
Padahal Allah berfirman:
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ ۖ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَن ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا
“Dan bersabarlah engkau (Muhammad) bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia; dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan keadaannya sudah melewati batas.” (QS. Al-Kahfi: 28)
Ayat ini adalah perintah untuk membersamai, bukan menjauhi. Dakwah bukan sekadar menyuruh, tetapi menemani dan membina. Rasulullah ﷺ membangun generasi dengan kedekatan dan keteladanan, bukan dengan celaan dan penghakiman.
Karena itu, menghidupkan kembali masjid tidak cukup dengan memperbanyak acara, tetapi dengan membangun ekosistem iman. Masjid harus kembali menjadi pusat peradaban tempat ilmu ditanamkan, akhlak dibentuk, dan tauhid ditancapkan dalam jiwa. Pembinaan remaja harus berkelanjutan halaqah rutin, mentoring akidah, kajian yang relevan dengan realitas mereka, serta ruang dialog yang jujur tanpa menghakimi.
Orang tua harus menjadi teladan sebelum menjadi penuntut. Pengurus masjid perlu membuka ruang kepemimpinan bagi pemuda, memberi mereka tanggung jawab nyata, dan membimbing mereka dengan sabar. Remaja tidak hanya butuh panggung kegiatan, tetapi fondasi akidah yang kokoh, pemahaman makna ibadah, serta kesadaran bahwa masjid adalah rumahnya bukan sekadar tempat singgah.
Menghidupkan masjid berarti menghidupkan hati generasi. Ketika tauhid tertanam kuat, maka aktivitas bukan lagi sekadar rutinitas, tetapi lahir dari kesadaran iman. Dan ketika remaja telah merasa memiliki masjid, mereka tidak akan menunggu acara untuk datang mereka akan datang karena cinta.
Jika saf remaja kosong hari ini, yang hilang bukan hanya jumlah jamaah, melainkan kader penjaga masa depan umat. Sebab peradaban tidak diwariskan oleh yang menua, tetapi diperjuangkan oleh yang muda. Maka pertanyaannya kini bukan sekadar, “Remaja ke mana?” Tetapi, “Sudahkah kita serius menjadikan masjid sebagai pusat pembinaan tauhid dan rumah peradaban bagi generasi muda?”[] Rianti Budi Anggara
Via
OPINI
Posting Komentar