Telusuri
  • Pedoman Media
  • Disclaimer
  • Info Iklan
  • Form Pengaduan
Tanah Ribath Media
Pasang Iklan Murah
  • Home
  • Berita
    • Nasional
    • Lensa Daerah
    • Internasional
  • Afkar
    • Opini Tokoh
    • Opini Anda
    • Editorial
  • Remaja
    • Video
  • Sejarah
  • Analisa
    • Tsaqofah
    • Hukum
  • Featured
    • Keluarga
    • Pernikahan
    • Pendidikan Anak
    • Pendidikan Remaja
    • FiksiBaru
Tanah Ribath Media
Telusuri
Beranda OPINI Luka Perempuan dan Anak-Anak Gaza, Saatnya Peradaban Islam Memimpin Dunia
OPINI

Luka Perempuan dan Anak-Anak Gaza, Saatnya Peradaban Islam Memimpin Dunia

Tanah Ribath Media
Tanah Ribath Media
05 Mar, 2026 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp


Oleh: Rina Ummu Syahid
(Sahabat Tanah Ribath Media)

TanahRibathMedia.Com—Derita perempuan dan anak-anak di jalur Gaza bukan sekadar berita berkala yang lalu-lalang di layar televisi. Ia adalah potret kegagalan peradaban modern dalam menjunjung tinggi nilai kemanusiaan yang selama ini dielu-elukan. Sebuah investigasi mendalam yang dilakukan oleh media Al Jazeera Arabic mengungkap fakta mengerikan terkait agresi militer Israel di Jalur Gaza. Laporan tersebut menuding militer Zionis menggunakan senjata terlarang jenis termal (thermal weapons) dipasok oleh Amerika Serikat, yang menyebabkan ribuan jasad warga Palestina menguap tanpa sisa (Metrotv.com, 15-02-2026).

Sejak eskalasi besar pada Oktober 2023, ribuan warga sipil menjadi korban. Angka-angka itu bukan statistik kering, di baliknya ada ibu yang kehilangan anak, anak yang kehilangan orang tua, dan generasi yang tumbuh bersama trauma. Konflik antara Israel dan Palestina telah berlangsung puluhan tahun. Namun babak terbaru ini menunjukkan intensitas yang semakin brutal. Penggunaan senjata dengan daya hancur masif di wilayah padat penduduk menambah daftar panjang kekhawatiran dunia terhadap pelanggaran hukum humaniter internasional. Jika benar digunakan, dampaknya bukan hanya mematikan secara fisik, tetapi juga menghapus jejak kemanusiaan dengan cara yang mengerikan.

Tragedi ini membuka pertanyaan mendasar di manakah posisi nilai-nilai hak asasi manusia yang sering dikampanyekan negara-negara besar? Dunia modern mengaku menjunjung demokrasi, kebebasan, dan perlindungan sipil. Namun ketika perempuan dan anak-anak menjadi korban serangan tanpa pandang bulu, respons yang muncul sering kali terbatas pada kecaman diplomatik tanpa daya paksa nyata. Standar ganda ini melukai rasa keadilan umat manusia.

Lebih jauh, penderitaan di Gaza bukan sekadar konflik teritorial. Ia adalah simbol ketimpangan kekuasaan global. Ketika satu pihak memiliki dukungan militer dan politik yang kuat, sementara pihak lain terkungkung blokade dan keterbatasan, maka yang lahir bukanlah kompetisi setara, melainkan dominasi. Dalam kondisi seperti ini, warga sipil selalu menjadi korban pertama dan paling menderita.

Perempuan memikul beban berlapis, kehilangan keluarga, harus bertahan hidup di tengah reruntuhan, sekaligus menjaga anak-anak yang ketakutan. Anak-anak kehilangan hak paling dasar mereka—hak untuk merasa aman, bermain, dan bermimpi. Trauma kolektif yang tertanam hari ini berpotensi membentuk generasi yang tumbuh dalam luka mendalam. Jika dunia sungguh peduli pada masa depan perdamaian, maka melindungi anak-anak hari ini adalah investasi moral yang tak bisa ditunda.

Secara ideologis, tragedi ini juga menuntut refleksi umat Islam dan masyarakat global secara luas. Solidaritas tidak boleh berhenti pada slogan atau kemarahan emosional. Ia harus diterjemahkan menjadi gerakan moral dan politik yang terorganisir. Tekanan internasional untuk pembukaan akses bantuan kemanusiaan tanpa hambatan, serta investigasi independen atas dugaan pelanggaran perang adalah langkah minimum yang harus diperjuangkan.

Persatuan dunia Islam adalah kunci kekuatan politik, namun persatuan bukan hanya retorika, ia membutuhkan visi bersama. Membela kaum tertindas adalah kewajiban moral, tetapi cara pembelaan harus tetap berada dalam koridor ideologi Islam. Ideologi yang kuat adalah yang mampu menegakkan keadilan tanpa kehilangan prinsip keimanan.

Di sisi lain, komunitas global juga harus berani mengevaluasi sistem internasional yang ada. Jika lembaga-lembaga dunia tidak mampu menghentikan pembantaian atau setidaknya mencegah eskalasi, maka kredibilitasnya dipertanyakan. Keadilan yang tebang pilih hanya akan melahirkan ketidakpercayaan dan memperdalam polarisasi global.

Tulisan ini bukan sekadar seruan emosional, melainkan ajakan untuk berpihak secara sadar dan terarah. Berpihak pada perempuan yang kehilangan rumahnya. Berpihak pada anak-anak yang tidur di bawah suara dentuman. Berpihak pada nilai keimanan yang seharusnya menjadi fondasi peradaban. Keberpihakan ini dapat diwujudkan melalui advokasi, edukasi publik, bantuan kemanusiaan, serta tekanan politik yang konsisten terhadap para pengambil kebijakan, serta penerapan hukum-hukum Islam.

Sejarah akan mencatat bukan hanya siapa yang menembakkan senjata, tetapi juga siapa yang memilih diam. Gaza hari ini adalah cermin bagi nurani dunia. Apakah kita akan terus membiarkan tragedi ini berulang, ataukah kita menjadikannya momentum untuk menata ulang komitmen terhadap keadilan universal?

Perempuan dan anak-anak di tanah yang terkepung itu tidak membutuhkan simpati sesaat. Mereka membutuhkan perlindungan nyata, keberanian politik, dan solidaritas global yang tulus. Jika peradaban modern ingin disebut beradab, maka penghentian penderitaan sipil harus menjadi prioritas utama, selain itu berjuang menegakkan aturan Islam dalam segala lini kehidupan seharusnya juga menjadi prioritas utama. Karena stabilitas perdamaian dunia hanya akan terwujud dengan tegaknya Islam kaffah di tengah-tengah umat.

Wallahu'alam bi shawab.
Via OPINI
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar

- Advertisment -
Pasang Iklan Murah
- Advertisment -
Pasang Iklan Murah

Featured Post

Standar Halal Dikesampingkan, Kemana Negara Berpihak?

Tanah Ribath Media- Maret 05, 2026 0
Standar Halal Dikesampingkan, Kemana Negara Berpihak?
Oleh: Marlina Wati, S.E  (Muslimah Peduli Umat) TanahRibathMedia.Com— Baru-baru ini, beredar berita Majelis Ulama kritik Indonesia terhadap kesepak…

Most Popular

Ketika Rasa Aman Hilang, Islam Hadir sebagai Penjaga Nyata

Ketika Rasa Aman Hilang, Islam Hadir sebagai Penjaga Nyata

Februari 27, 2026
Problematika Pendidikan, Islam Solusinya

Problematika Pendidikan, Islam Solusinya

Februari 27, 2026
Puasa Berjalan, MBG Dipertahankan: Siapa yang Diutamakan?

Puasa Berjalan, MBG Dipertahankan: Siapa yang Diutamakan?

Februari 27, 2026

Editor Post

Tak Habis Pikir

Tak Habis Pikir

Juni 11, 2023
Untuk Engkau yang Merindu Bahagia

Untuk Engkau yang Merindu Bahagia

Juni 09, 2023
Terhubung tapi Terasing: Mengungkap Kesepian akibat Media Sosial di Era Kapitalisme Liberalisme

Terhubung tapi Terasing: Mengungkap Kesepian akibat Media Sosial di Era Kapitalisme Liberalisme

Oktober 02, 2025

Popular Post

Ketika Rasa Aman Hilang, Islam Hadir sebagai Penjaga Nyata

Ketika Rasa Aman Hilang, Islam Hadir sebagai Penjaga Nyata

Februari 27, 2026
Problematika Pendidikan, Islam Solusinya

Problematika Pendidikan, Islam Solusinya

Februari 27, 2026
Puasa Berjalan, MBG Dipertahankan: Siapa yang Diutamakan?

Puasa Berjalan, MBG Dipertahankan: Siapa yang Diutamakan?

Februari 27, 2026

Populart Categoris

Tanah Ribath Media

Tentang Kami

Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Contact us: contact@gmail.com

Follow Us

Copyright © 2023 Tanah Ribath Media All Right Reserved
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Advertisement
  • Contact Us