OPINI
Kekerasan Remaja: Dampak Normalisasi Gaul Bebas
Oleh: Evi Faouziah S.Pd
(Praktisi Pendidikan dan Aktivis Dakwah)
TanahRibathMedia.Com—‘Senjata tajam berbicara lebih dulu daripada akal dan nurani.’ Peristiwa pembacokan yang terjadi di lingkungan kampus, tepatnya di UIN Sultan Syarif Kasim Riau, menjadi tamparan keras bagi dunia pendidikan. Seorang mahasiswi yang tengah menunggu sidang proposal justru menjadi korban penyerangan oleh sesama mahasiswa menggunakan senjata tajam hingga harus dirawat akibat luka serius. Motifnya diduga persoalan pribadi, berawal dari penolakan cinta saat keduanya mengikuti KKN, yang kemudian berujung pada aksi brutal di ruang yang seharusnya menjadi tempat menimba ilmu dan membangun peradaban.
Peristiwa berdarah itu terjadi saat korban hendak mengikuti ujian seminar proposal pada Kamis (26-2-2026) pagi. Pelaku mengayunkan kapak sebanyak tiga kali hingga korban mengalami luka serius di tangan dan bagian kepala (kumparan.com, 27-02-2026)
Sekularisme sebagai Akar Krisis Kepribadian Generasi
Peristiwa ini bukan sekadar konflik personal. Ia mencerminkan wajah generasi yang rapuh secara emosi dan miskin kendali diri. Ketika penolakan dianggap sebagai penghinaan, ketika cinta yang tak terbalas dibalas dengan kekerasan, maka yang sedang kita saksikan bukan hanya tragedi individu, melainkan kegagalan sistemik dalam membentuk kepribadian generasi.
Fenomena meningkatnya perilaku kekerasan, pergaulan bebas, hingga tindakan kriminal di kalangan remaja menunjukkan kegagalan sistem pendidikan sekuler dalam membangun generasi berkepribadian mulia. Pendidikan hari ini lebih berorientasi pada capaian akademik dan keterampilan teknis, tetapi abai dalam membangun fondasi akidah dan akhlak. Sekularisme memisahkan agama dari kehidupan, sehingga standar benar dan salah tidak lagi merujuk pada wahyu, melainkan pada kebebasan individu.
Di tengah arus liberalisme, pacaran, perselingkuhan, dan relasi tanpa batas dinormalisasi sebagai bagian dari “gaul” dan ekspresi diri. Keluarga dan masyarakat sering kali permisif, bahkan menganggapnya wajar selama tidak “terlihat melanggar hukum”. Padahal, normalisasi ini perlahan mengikis rasa malu, mengaburkan batas halal-haram, dan menumpulkan nurani. Ketika hawa nafsu menjadi kompas, maka kekecewaan mudah berubah menjadi amarah, dan amarah mudah menjelma menjadi kekerasan.
Dalam sistem kapitalisme, generasi kerap dipandang sebagai aset produktif semata. Selama mereka mampu berkontribusi pada roda ekonomi, aspek pembinaan moral dan ruhiyah tidak menjadi prioritas utama. Negara lebih sibuk mengejar pertumbuhan dan investasi ketimbang memastikan terbentuknya kepribadian yang bertakwa. Akibatnya, pembinaan generasi berjalan sporadis, tidak terintegrasi, dan minim arah ideologis.
Syariat sebagai Kompas Pergaulan dan Penjaga Kehormatan
Sistem pendidikan Islam dibangun di atas dasar akidah. Tujuannya bukan sekadar mencetak lulusan cerdas, melainkan membentuk kepribadian Islam pola pikir dan pola sikap yang selaras dengan syariat. Generasi dididik untuk memiliki kesadaran bahwa setiap perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Standar halal dan haram menjadi kompas dalam berinteraksi, termasuk dalam relasi laki-laki dan perempuan.
Dalam masyarakat Islam, amar makruf nahi mungkar bukan sekadar slogan. Ia menjadi budaya sosial. Masyarakat saling mengingatkan dalam kebaikan dan menolak kemaksiatan. Lingkungan yang kondusif ini menjaga generasi dari perilaku menyimpang sejak dini. Keluarga, sekolah, dan masyarakat bergerak dalam satu visi yaitu menjaga kehormatan dan ketakwaan. Sebagaimana terdapat dalam Al Quran Surah Ali Imron ayat 104:
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar; dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
Negara pun tidak bersikap netral terhadap kerusakan moral. Dalam konsep Khilafah, aturan dan sanksi ditegakkan sesuai hukum Islam untuk memberikan efek jera dan melindungi masyarakat. Keamanan dan kehormatan bukan hanya tanggung jawab individu, melainkan dijaga oleh sistem yang kokoh dan menyeluruh.
Kasus kekerasan di kampus hendaknya menjadi refleksi bersama. Jika akar persoalannya adalah kebebasan tanpa batas dan pendidikan tanpa ruh akidah, maka solusi tambal sulam tidak akan pernah cukup. Sudah saatnya kita meninjau ulang paradigma pembinaan generasi. Sebab generasi bukan sekadar aset ekonomi, tetapi penentu arah peradaban. Tanpa fondasi iman dan syariat, kecerdasan justru bisa berubah menjadi alat kerusakan.
Via
OPINI
Posting Komentar