IBRAH
Surat Cinta Kartika
Oleh: Kartika Soetarjo
(Penulis dan Pengasuh Pengajian Anak-Anak Raudhatul Jannah)
TanahRibathMedia.Com—Teruntuk jiwa yang lelah, di raga siapa pun kini engkau berbenah.
Assalamualaikum
Bagaimana kabarmu? Semoga baik-baik saja, ya.
Namun, jika saat ini engkau sedang lelah karena terpaan masalah yang tak kunjung enyah, bertahanlah! Bertahan dalam bibir yang diam, tidak mengumbar kata walau kepada raga yang engkau percaya.
Ketahuilah! Siapa pun tak akan pernah bisa benar-benar mampu merasakan apa yang saat ini jiwamu rasakan. Sekalipun banyak waktu yang kau reguk untuk menjelaskan semua perasaan.
Jangan pernah kau berikan ribuan kata kepada raga yang tidak akan selamanya menetap di hidupmu, mereka hanya sebatas membaca dan mendengar, tidak akan pernah benar-benar memberi jawaban. Curahkanlah ribuan kata itu kepada Rabb-mu, Dia tidak akan pernah pergi, walau engkau kadang meninggalkannya, Dia akan memberi jawaban walau engkau kadang malas untuk sekadar menyapa-Nya dengan salat dan tilawah.
Bukankah Allah Swt. selalu memberi ketenangan kepada kita dengan firman-Nya dalam surah Al-Insyirah ayat 6?
ان مع العسر ييرا
Artinya: "Sungguh, bersama kesulitan ada kemudahan"
Maka, cukup jadikan Allah Swt. tempat peristirahatan akal, jiwa, juga hati. Niscaya Ia akan meneteskan air kesejukan ke dalam dahaga hatimu. Lalu, untuk jiwa yang sedang merasa tidak dihargai, di raga siapa pun kini engkau menahan lara hati.
Jika saat ini engkau merasa disia-siakan, berhentilah! Hentikan obsesimu untuk menjadi berarti di hidup seseorang. Karena mereka yang merasa dirinya dibutuhkan, tidak akan pernah tahu arti sebuah pengorbanan. Jangan pernah mengemis hati pada siapa pun untuk menyapu debu yang tersembunyi di balik sepi hatimu.
Mulailah membingkai ukiran kebajikan dengan bingkai ikhlas nan cantik. Bukan untuk diperdagangkan kepada manusia, karena secantik apa pun bingkai ukiran itu, mereka tetap akan menawar murah. Juallah kepada Rabb Sang Maha Kaya dan Maha Penyayang , sekecil apa pun ukiran kebaikan, Dia akan mengahargai dengan harga yang teramat tinggi, yakni Rahmat-Nya yang Suci.
Jangan pernah ragu dengan janji Allah Swt. dalam surah Al-Zalzalah ayat 7
فمن يعمل مثقال ذرة خيرا يره
Artinya: "Maka barang siapa yang melakukan kebaikan seberat zarrah, dia akan melihatnya".
Ayat ini menggambarkan, betapapun kecilnya amal, tetap akan dihitung. Inilah puncak adilnya Allah, tak akan ada amal yang hilang.
Ingatlah! Jangan buang waktumu dengan mengejar kupu-kupu, perbaiki saja dengan ikhlas kebun bungamu, maka kupu-kupu akan berdatangan menjumpai bunga-bunga indahmu. Dan, hai! Jiwa yang merasa menang dan aman di raga siapa pun engkau kini bersemayam.
Ingatlah, jangan merasa dirimu mampu tanpa satu orang pun yang membantu. Hingga engkau meremehkan semua uluran, sapaan, dan senyuman dari raga yang kau anggap lemah.
Ketika engkau memberi, engkau tak memiliki rendah hati, merasa diri pantas dihargai, dan diterimakasihi, hingga ketika uluranmu tak ditanggapi, engkau ungkit, ditambah dengan kata-kata yang menggores hati.
Begitu pun ketika menerima, engkau mengatakan, "berikan saja pada yang membutuhkan!", atau "Saya terima pemberianmu, tapi akan saya berikan lagi kepada orang lain, gak apa-apa, ya?"
Tak sadarkah engkau, bahwa di balik kalimat yang kau kira halus itu, ada duri yang membuat senyum getir dan patah hati si pemberi? Karena merasa rendah diri, tak mampu memberi banyak. Tak ketinggalan, kesombongan pun ikut andil menyelinap rapi dalam deretan kalimat itu.
Kalimat itu seolah membuktikan bahwa engkau mampu, dan tidak bisa menerima pemberian yang menurutmu kecil. Kalaupun ingin memberikannya lagi kepada orang lain, berikanlah tanpa sepengetahuan orang yang memberimu, demi menjaga perasaannya.
Masih ingatkah kisah Imam Abdullah bin Mubarak? Seorang Ulama besar ahli hadis yang kaya dan dermawan, meskipun sedekahnya miliaran, tapi ia menerima sedekah terong dari seorang perempuan miskin dengan penuh penghormatan dan rasa syukur.
Oleh karenanya, jadilah pemberi yang ikhlas, dan jadilah penerima yang merendah.
Hai, engkau jiwa yang angkuh. Hentikan busung dadamu! Jujurlah pada kalbumu, bahwa mereka, orang di sekitarmu, adalah kekuatan langkahmu, buang sedikit saja ego, dan angkuh itu, agar sesal tidak mencabik hati di kemudian hari, dan agar engkau tidak terlalu rapuh ketika terjatuh.
Karena, kebaikan yang kau terima itu ibarat separuh napas yang menyempurnakan setiap helaan dan hembusanmu. Jika engkau tak menyadarinya, pelan tapi pasti mereka akan pergi. Bukan raganya, tapi hatinya. Raganya mungkin masih bisa kau tatap, tetapi hatinya jangan harap masih mau menetap. Akhirnya separuh napas itu pergi, dan hatimu pun kembali sepi.
Bukankah Rasulullah saw. telah memberi peringatan dalam hadisnya yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim?
"Cukuplah seseorang dinilai buruk jika ia merendahkan saudara sesama muslim".
Maka dari itu, janganlah sekali-kali kau rendahkan atau menganggap buruk raga yang selalu menyapa, tersenyum, bahkan mungkin mengalah demi tenang bersamamu. Karena perlakuanmu menandakan siapa dirimu.
Surat ini pun aku persembahkan juga untuk jiwa yang berusaha tegar di raga siapa pun kini engkau bersandar.
Aku temani, ya! Sebenarnya, jiwa ini pun masih tertatih dalam langkah ikhlas. Namun, gak salah kan, jika aku coba menjahit lukamu, dan menyambung lagi serpihan hatimu menuju ikhlas demi Ridha Sang Maha Penyeru?
Ayuk, kita sama-sama berbenah, merendah, dan berserah. Kita tidak sendiri. Ada Allah, Dia teman setia yang tidak akan pernah pergi, tidak akan pernah menganggap kita tak punya arti, dan tidak akan pernah lupa akan kebaikan kita walau sebesar biji sawi.
Apalagi, sebentar lagi kita akan kedatangan tamu istimewa, tamu yang selalu ditunggu-tunggu dan selalu dirindu. Ramadhan. Bulan yang di dalamnya dosa-dosa diampuni, semua pinta diberi, neraka ditutup, Surga dibuka, dan syetan dibelenggu. Ada malam-malam yang menggetarkan langit, yang keagungannya dijanjikan dan kebaikannya melebihi seribu bulan. Malam itu adalah Malam Lailatul Qadar
Tidak tergiurkah?
Ramadhan bukan bulan yang datang dengan tiba-tiba, bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan tamu agung yang harus disambut dengan persiapan iman.
Bersiaplah untuk menyambutnya! Kuatkan raga, sucikan jiwa, agar sempurna menyambut kedatangannya. Karena puasa bukan sekadar menahan lapar, tapi juga saatnya melatih jiwa.
Teruslah berdoa agar Allah menakdirkan kita bisa berjumpa dengan Bulan yang mulia. (Ramadhan). Karena, ada orang yang Ramadhan tahun lalu berada di sisi kita, namun Ramadhan sekarang mereka telah tiada. Padahal mereka pun sama merindukan Ramadhan. Ini menandakan, bahwa tidak semua rindu dan menunggu akan dibalas dengan bertemu.
Duhai jiwa-jiwa yang haus akan cinta tanpa fatamorgana, semoga surat ini sampai di singgasana penantian, menjadi perekat bagi serpihan rasa, dan menjadi teman bagi sepinya jiwa.
Mohon maaf, jika di antara barisan aksaraku ada yang menambah perih hatimu. Aku pun hanya manusia biasa yang kadang salah dan khilaf. Karena hanya Allah yang lebih mengetahui kebenaran yang sesungguhnya.
Wassalam.
Bidikan cinta yang tepat dari jiwa yang hangat. 11-2-2026
Via
IBRAH
Posting Komentar