OPINI
Skandal Epstein: Borok Akut di Tubuh Kapitalisme
Oleh: Indri Wulan Pertiwi
(Aktivis Muslimah Semarang)
TanahRibathMedia.Com—Nama Jeffrey Epstein kembali mencuat, mengguncang ruang publik lewat fenomena Epstein Files di awal 2026. Meski raganya telah tiada sejak 2019, dokumen-dokumen yang tersingkap ini memaksa dunia untuk kembali menatap nanah peradaban yang selama ini tersembunyi rapat dalam sistem global. Epstein bukan sekadar pengusaha kaya, ia adalah representasi predator ulung yang memanfaatkan celah peradaban modern yang secara sistemik meminggirkan peran agama dalam tatanan kehidupan.
Jeffrey Edward Epstein digambarkan oleh Landon Thomas Jr. dalam International Moneyman of Mystery sebagai sosok Gatsby-esque yang sangat kaya namun sumber hartanya kabur. Ia tidak hanya mengumpulkan materi, tetapi juga "mengoleksi" orang berpengaruh mulai dari CEO hingga kepala negara (detik.com, 02-02-2026).
Jika dibedah dari sisi psikologis, peneliti Laszlo Pokorny menilai Epstein sebagai prototipe sempurna dari Dark Triad yaitu kombinasi mematikan antara psikopati, narsisme, dan manipulasi strategis. Profil kelam ini menjelaskan sebuah ironi yang menyakitkan, bagaimana mungkin seorang predator bisa tampil begitu "terhormat" di panggung dunia? Jawabannya sederhana namun pahit, karena saat ini kita hidup dalam masyarakat sekuler yang mudah silau oleh atribut finansial
Namun, kita tidak boleh lupa bahwa watak predator sejatinya tidak akan pernah bisa bertahan lama tanpa ekosistem yang mendukungnya. Sosok seperti Epstein hanya bisa tumbuh di lingkungan yang menganggap kekayaan sebagai "kartu bebas" dari segala aturan moral. Ia hidup di tengah relasi elit yang menjadi benteng kedap suara bagi tangis para korban di baliknya. Sebagaimana ditegaskan Blanche Bong Cook dalam Pedophiles, Prosecutors, and Power, kasus ini adalah contoh nyata kejahatan terorganisir berbasis kekuasaan; Epstein adalah pusat dari jaringan internasional yang melibatkan pelindung kuat.
"Dunia Hitam" di Balik Kemewahan
Pulau pribadi Little St. James membuktikan adanya "dunia di dalam dunia", yang menjadi contoh bahwa hukum buatan manusia memang tidak ada taringnya. Bahkan, para tokoh besar terjebak dalam rantai proteksi terselubung, baik karena ketergantungan maupun ancaman rekaman rahasia (blackmail).
Fenomena ini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan konsekuensi logis dari rahim kapitalisme. Dalam sistem ini, kekayaan bukan lagi sekadar alat pemuas kebutuhan, melainkan tolok ukur utama dalam menentukan derajat dan kehormatan seseorang. Kekayaan menjadi "paspor" akses tanpa batas. Inilah hasil nyata dari sekularisme, ketika Tuhan disingkirkan dari ruang publik, standar moralitas menjadi relatif dan bergantung pada kepentingan pemilik modal. Pulau pribadi Epstein adalah simbol dari "ruang hampa moral" yang lahir saat tuntunan agama tak lagi menjadi kompas kehidupan.
Hukum yang Pilih Kasih, Tajam ke Bawah, Tumpul ke Elit
Ciri khas sistem kapitalisme sekuler adalah hukum yang elastis bagi elit, namun kaku bagi rakyat jelata. Contoh yang paling melukai nurani adalah "kesepakatan istimewa" alias Sweetheart Deal tahun 2008. Bayangkan, seorang predator seksual kelas berat seperti Epstein mendapatkan hukuman yang lebih mirip dengan fasilitas liburan.
Alih-alih membusuk di penjara dengan tuntutan seumur hidup, Epstein justru mendapat "jalur belakang" yang sangat meringankannya. Ia hanya dijatuhi hukuman 13 bulan penjara, itu pun dengan status work release yang sangat tidak masuk akal: ia diizinkan keluar dari sel selama 12 jam sehari, enam hari seminggu, hanya untuk bekerja di kantor pribadinya. Ini bukan sekadar vonis hukum, ini adalah penghinaan nyata terhadap para korban. Kesepakatan ini menjadi bukti tak terbantah bahwa di bawah sistem hari ini, relasi kuasa mampu menekuk hukum hingga kehilangan harga dirinya.
Sandiwara hukum tersebut hanyalah puncak gunung es dari "sistem dua tingkat" yang diskriminatif. Sebab, dalam kehidupan sekuler, keadilan sering kali dipaksa menyerah pada prinsip manfaat dan relasi kuasa. Terlebih lagi, kematian misterius Epstein di selnya pada 2019 kian mempertebal kecurigaan publik bahwa tembok pelindung elit sengaja dibangun setinggi mungkin agar tak tertembus, demi menyelamatkan nama-nama besar yang bersembunyi di balik jaringan predator tersebut.
Urgensi Kembali pada Syariat
Skandal Epstein sebenarnya bukan sekadar berita kriminal, itu adalah tamparan keras bagi wajah peradaban hari ini. Selama dunia masih mendewakan materi, kejahatan menjijikkan seperti ini akan terus berulang, bersembunyi di balik tirai kemewahan. Mengapa? Karena saat hukum diserahkan penuh pada kesepakatan manusia, ia menjadi barang dagangan yang bisa dibeli dengan suap atau dibungkam dengan intimidasi. Para predator bermodal besar pun dengan mudah menemukan celah di tengah sistem kebebasan liberal anak kandung sekularisme yang terbukti gagal total melindungi kaum lemah. Ironisnya, sistem ini justru menyediakan panggung karpet merah bagi mereka yang punya kuasa.
Tembok kebal hukum para elit ini mustahil ditembus jika kita hanya memoles permukaannya. Oleh karena itu kita harus berani membongkar akar masalahnya, yaitu membuang jauh sistem buatan manusia yang dengan angkuh menyingkirkan aturan Sang Pencipta. Keadilan sejati tidak akan lahir dari meja-meja negosiasi yang korup. Ia hanya akan tegak jika hukum diletakkan kembali sebagai amanah suci untuk menjaga martabat manusia,sebuah kepastian yang hanya ada dalam naungan Islam kaffah.
Kini, saatnya kita berhenti sejenak dan meresapi teguran keras dari Allah Swt. dalam Surah Al-Ma'idah ayat 50. Allah melontarkan sebuah pertanyaan yang menembus sanubari: Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki? Dan hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin? Pertanyaan ini adalah gugatan bagi kita semua untuk segera memutus rantai tatanan yang menghamba pada korporasi dan kembali pada syariat yang memuliakan manusia. Karena keadilan sejati butuh kedaulatan hukum Allah yang pasti melindungi, bukan sekadar fatamorgana.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Via
OPINI
Posting Komentar