OPINI
Potret Buram Pendidikan dalam Sistem yang Suram
Oleh: Dewi Noviyanti
(Aktivis Dakwah)
TanahRibathMedia.Com—Masa depan seorang siswa SD yang seharusnya menjadi generasi penerus bangsa harus berakhir tragis di bawah pohon cengkeh. YBS (10) siswa SD kelas IV di kecamatan Jerebuu kabupaten Ngada, NusaTenggara Timur ditemukan gantung diri di pohon cengkeh pada kamis siang (29-1-2026). Curahan hati yang ditinggalkan YBS melalui goresan pena diatas kertas bertuliskan salam perpisahan untuk ibunya, menjadi bukti betapa kecewanya ia karena ketidak mampuannya untuk membeli pena dan buku. Hingga akhirnya ia harus mengakhiri hidupnya dengan cara tragis tersebut (Pikiran Rakyat, 3-2-2026).
YBS dikenal sebagai anak yang baik dan rajin belajar. Selama ini ia tinggal bersama neneknya. Ibu dan saudaranya tinggal di kampung sebelah. Ayahnya sudah lama meninggal dunia ketika ia masih berada di dalam kandungan. Keterbatasan ekonomi dan serba kekurangan merupakan alasan utama pemicu tindakan bunuh diri tersebut. Di hari sebelumnya, ia datang ke rumah ibunya meminta uang guna membeli buku dan pena seharga Rp.10.000. Namun pekerjaan ibunya yang hanya sebagai buruh tidak mampu memenuhi permintaan YBS tersebut.
Kegagalan Sistem Kapitalis Memfasilitasi Pendidikan
Peristiwa ini merupakan tamparan keras bagi negara. Negara yang memiliki kekayaan alam yang melimpah ruah tidak mampu memenuhi kewajibannya menjamin kecerdasan kehidupan bangsa. Buktinya berapa kali negara kecolongan dengan kasus bunuh diri seperti ini. Ini juga bukan hal yang baru pertama kali terjadi. Berapalah nominal harga sebuah buku dan pensil yang fungsinya jelas untuk menunjang kebutuhan menuntut ilmu. Anehnya lagi pemerintah dengan program MBG yang jelas bukan merupakan faktor utama penunjang pendidikan justru tidak sedikit menggelontorkan dana yang jelas sarat korupsi. Jika saja dana pemenuhan akan kebutuhan menuntut ilmu lebih diutamakan dan dimudahkan dengan jaminan dari negara bagi setiap warga berhak untuk mendapatkan akses pendidikan gratis, tentu saja kasus seperti ini tak perlu terjadi.
Begitu banyak kasus bunuh diri terjadi dikarenakan keterbatasan ekonomi yang menjadi penghambat tuntutan untuk menuntut ilmu. Jika rakyat dicerdaskan maka beban negara jelas akan berkurang. Namun dalam sistem kapitalis justru rakyat tidak diberi kesempatam untuk mendapatkan pendidikan yang baik dan tak berbayar. Malah negara dengan program MBG menjadikan rakyat bergantung dengan program tersebut hingga melemahkan upaya dan pengambil alihan tugas kepala keluarga dalam memenuhi kewajibnnya menafkahi keluarganya.
Seharusnya jauh yang lebih efektif adalah jika uang untuk penyediaan MBG diberikan kepada kepala keluarga sebagai penanggung jawab kebutuhan keluarganya. Sehingga uang itu pastinya bukan hanya digunakan untuk makan saja tapi juga bisa dialihkan untuk pembelian alat tulis atau kebutuhan lainnya. Herannya lagi ditinjau dari kasus ini dimana program KIP dari pemerintah yang bertujuan untuk membantu pembiayaan pendidikan bagi siswa yang tidak mampu. Sistem ini hanya mampu melahirkan solusi yang tambal sulam.
Islam Solusi Sempurna dan Paripurna
Islam dengah aturannya yang tunduk kepada syariat mampu memberikan solusi yang tepat hingga melahirkan kesejahteran bagi seluruh umat. Khalifah sebagai pemimpin tidak melakukan pembiaran bagi umatnya yang tidak mampu dalam memenuhi kewajibannya. Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Ketersediaan saran dan prasarana bagi para penuntut ilmu jelas didukung penuh oleh khalifah. Pada masa kekhilafahan Abbasiyah (750 M-1258 M), perkembangan ilmu pendidikan melaju pesat hingga mencapai masa keemasan. Hal ini ditandai dengan berdirinya beberapa lembaga pendidikan.
Khalifah Harun Al Rasyid merupakan salah satu khalifah yang berperan penting dalam perkembangan dunia pendidikan di masa kekhilafahan Abbasiyah. Daulah melalui dana wakaf mendukung pusat pembelajaran melalui kuttab, masjid, perpustakaan, madrasah hingga universitas. Kurikulumnya pun komprehensif meliputi segala bidang hingga menghasilkan para tokoh cendikiawan hebat. Pendidikan yang bersifat inklusif mudah diakses sehingga seluruh rakyat dapat menikmati ketersediaan fasilitasnya dan didukung penuh oleh khalifah. Hal seperti ini hanya bisa kita nikmati dalam sistem islam melalui tegaknya Daulah khilafah sehingga keputusasaan rakyat akibat ketidakmampuannya dalam memenuhi kebutuhan penunjang pendidikan tak perlu terjadi lagi.
Allahu 'alam bishowwab.
Via
OPINI
Posting Komentar