OPINI
Preman Amuk di Belawan: Ketika Kekerasan Kecil Menunjukkan Lubang Besar Sistem Kapitalisme
Oleh: Fitri Yani
(Aktivis Dakwah)
TanahRibathMedia.Com—Pada Rabu pagi (4-1-2026), suasana Dermaga Bandar Udara Pelabuhan Belawan menjadi gaduh saat preman DZ (31) meledak marah. Setelah pemilik mobil menolak memberikan uang parkir yang tidak jelas, dia langsung menghadang kendaraan dan memecahkan kaca depan dengan tangan kasar hingga retak parah. Saat warga berusaha melerai, pelaku langsung kabur menyelinap ke jalanan ramai.
Berkat rekaman CCTV yang menangkap setiap gerakannya dan keterangan saksi yang jelas, tim Reskrim Polres Pelabuhan Belawan akhirnya mengamankan DZ pada Selasa (3-2-2026). Saat diamankan, polisi menyita senjata tajam, baju sangkar, celana jeans, dan dua ponselnya. Sementara itu, kasus ini masih terus diselidiki (Kompas.com,04/02/26)
Premanisme: Ketika Kekerasan Kecil Menjadi Cermin Kelemahan Sistem
Apa yang terjadi di Pelabuhan Belawan bukan sekadar kasus preman mengamuk gara-gara uang parkir. Di balik tindakan sembrono itu, tersembunyi masalah yang jauh lebih dalam – sebuah tanda bahaya bahwa struktur keamanan dan tata nilai masyarakat kita sedang tercoreng.
Pelaku yang merasa berhak memaksa bukan lahir dari hampa. Rasa "kuasa" yang salah yang mereka anut tumbuh subur karena ada ruang kosong yang dibiarkan sistem. Kawasan vital seperti pelabuhan seharusnya menjadi benteng keamanan yang terjaga ketat, tapi justru jadi ladang bagi mereka yang ingin mengambil keuntungan dengan kekerasan. Ketika delapan orang bisa dihadapkan dengan bebas, ketika kaca mobil bisa hancur tanpa rasa takut – itu berarti kontrol negara belum menyentuh setiap sudut yang perlu dilindungi.
Lebih dari itu, premanisme bukan hanya tentang satu orang atau sekelompok orang. Ia adalah penyakit sosial yang bisa menular dan berkembang menjadi bentuk kejahatan yang lebih besar. Seperti api yang mulai dari percikan kecil, jika tidak segera dipadamkan, bisa membakar seluruh ekosistem masyarakat – dari ekonomi lokal yang terganggu hingga hilangnya kepercayaan rakyat terhadap keamanan publik. Bahkan, pola kekerasan yang mereka tunjukkan memiliki kemiripan dengan ideologi terorisme yang menganggap kekerasan sebagai cara untuk mendapatkan apa yang diinginkan.
Di era yang mengedepankan keadilan dan keamanan, tidak bisa lagi kita hanya menangkap pelaku dan menganggap masalah selesai. Kita perlu menyelami akar masalah – mengapa mereka berani bertindak demikian? Apakah ada celah dalam regulasi? Bagaimana dengan pemantauan dan pencegahan yang lebih dini? Negara harus berperan aktif dalam membangun sistem yang tidak memberi ruang bagi premanisme untuk hidup, bukan hanya menjadi penangkap setelah kerusakan terjadi.
Islam, Jalan Penyelesaian yang Mengubah Wajah Premanisme
Agama Islam tidak datang hanya untuk mengatur ibadah, melainkan sebagai pijakan kuat untuk menyelesaikan segala masalah umat — termasuk premanisme yang merusak ketertiban masyarakat. Solusinya tidak sebatas menangkap pelaku, melainkan mengubah akar masalah dari dalam.
Percaya pada Allah menjadi landasan hati Nurani. Setiap tindakan selalu diawasi Sang Pencipta. Ini membuat hati kita sadar bahwa menyakiti orang lain atau mengambil hak yang bukan milik kita adalah dosa besar. Dengan keyakinan ini, tidak akan ada lagi keinginan untuk menunjukkan kekerasan atau menjadi orang yang ditakuti.
Di sistem Islam, tidak ada yang bisa bebas di atas hukum. Baik pelaku maupun korban sama di depan keadilan. Siapa saja yang melakukan pemerasan atau gangguan akan mendapatkan konsekuensi yang sesuai, sementara rakyat kecil selalu terlindungi dengan baik.
Lewat dakwah dan pembinaan akhlak, kita diajarkan untuk menghargai sesama, bekerja keras dengan cara benar, dan hidup rukun. Banyak orang yang dulunya terlibat premanisme kemudian berubah drastis setelah memahami ajaran Islam dengan benar.
Islam mengajarkan kita untuk saling membantu. Ketika semua orang bisa mendapatkan pekerjaan layak, pendidikan yang cukup, dan perawatan kesehatan, tidak akan ada alasan lagi untuk mencari nafkah dengan cara salah atau merasa terpaksa jadi preman.
Premanisme tidak bisa hilang hanya dengan kekerasan aparat. Perubahan yang sesungguhnya datang dari hati yang bertaubat, hukum yang adil, dan masyarakat yang saling menyayangi itulah solusi Islam yang sungguh menyeluruh.
Via
OPINI
Posting Komentar