Telusuri
  • Pedoman Media
  • Disclaimer
  • Info Iklan
  • Form Pengaduan
Tanah Ribath Media
Pasang Iklan Murah
  • Home
  • Berita
    • Nasional
    • Lensa Daerah
    • Internasional
  • Afkar
    • Opini Tokoh
    • Opini Anda
    • Editorial
  • Remaja
    • Video
  • Sejarah
  • Analisa
    • Tsaqofah
    • Hukum
  • Featured
    • Keluarga
    • Pernikahan
    • Pendidikan Anak
    • Pendidikan Remaja
    • FiksiBaru
Tanah Ribath Media
Telusuri
Beranda OPINI Membongkar Narasi “Antek Asing”
OPINI

Membongkar Narasi “Antek Asing”

Tanah Ribath Media
Tanah Ribath Media
02 Feb, 2026 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp

Oleh: Ummu Hamzah 
(Sahabat Tanah Ribath Media)

TanahRibathMedia.Com—Rancang Undang-undang (RUU) tentang penanggulangan disinformasi dan propaganda asing mendadak menjadi perbincangan banyak kalangan. Termasuk adanya respon cepat dari LBH Pers yang menilai RUU ini berpotensi menciptakan over kriminalisasi dan narasi tunggal oleh pemerintah. Pasalnya dalam naskah akademik yang seharusnya memuat data dan fakta secara akademis tidak menunjukkan urgensitas dibalik aturan ini. Orientasinya justru menyasar pada pemidanaan masyarakat sipil yang terkategori "antek asing" (Sumber lbhpers.org, 15-1-2026).

RUU penanggulangan disinformasi dan propaganda asing merupakan inisiasi langsung dari presiden RI Prabowo Subianto. Narasi "antek asing" sendiri sejatinya sudah digunakan oleh Prabowo bahkan sebelum dirinya menjadi presiden. Narasi itu pun masih sering didengungkan dalam setiap pidatonya sebagai seorang presiden. Menurutnya pihak yang disebut sebagai antek asing ini tidak menginginkan Indonesia bangkit dan maju. Prabowo juga secara lugas menyampaikan bahwa "kekuatan asing" sedang mencegah Indonesia menjadi kuat, salah satunya dengan membiayai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) untuk menyudutkan pemerintah.

Di sisi yang berbeda, pemerintah tetap terlihat mesra dengan asing ketika membahas tentang investasi. Sebagian besar sumber daya alam Indonesia saat ini juga dipegang kendali oleh pihak asing. Hubungan kerja sama dengan negara asing juga tak kalah penting untuk dijadikan sorotan. Lantas apa maksud dari narasi "antek asing" ini, jika negara saja secara nyata menjalin hubungan mesra dengan asing.

Narasi "Antek Asing" Ala Prabowo 

Profesor Asian Studies dan Direktur Asia Institute dari University of Melbourne, Vedi Hadiz berpendapat bahwa narasi "antek asing" yang digaungkan oleh Prabowo hanyalah tradisi panjang orde baru. Presiden Soeharto kala itu juga menggenjot investasi asing, tetapi di sisi lain juga selalu mengatakan bahwa kritik terhadap pemerintah adalah hasil dari manipulasi kekuatan asing yang ingin melemahkan Indonesia.Tuduhan antek asing sejatinya hanya untuk mengalihkan perhatian dari kesalahan pemerintah dengan cara memanipulasi rasa patriotisme rakyat (Sumber abc.net.au, 11-4-2025)

Sekarang narasi ‘Antek Asing’ kembali menggema untuk mengalahkan suara kritis masyarakat. Menganggap bahwa siapapun yang tidak ingin Indonesia bangkit, dialah antek asing. Padahal yang dilakukan pemerintah selama ini juga tidak menjadikan Indonesia bangkit, justru sebaliknya. Indonesia makin terpuruk, kualitas hidup masyarakat semakin buruk.

Sejatinya kritik yang disampaikan oleh masyarakat sipil adalah bentuk ketidaknyamanan mereka dengan situasi dan kondisi yang mereka rasakan. Jika memang benar Indonesia akan dibawa ke arah kebangkitan dan kemajuan seperti yang di gembar-gemborkan oleh pemerintah, tentu masyarakat tidak akan merasakan kehidupan yang sulit seperti sekarang. Namun faktanya hanya kehidupan para pemangku jabatan saja yang bangkit dan semakin maju, terlebih dengan adanya proyek dan investasi dari berbagai pihak termasuk asing. Jadi siapa sebenarnya yang menjadi antek asing?
 
The Real "Antek Asing"

Istilah "Antek asing" secara umum, merujuk pada komprador, yaitu individu atau kelompok yang rela menjual atau mengorbankan kepentingan bangsa dan rakyatnya demi keuntungan pribadi atau kelompok dengan melayani kepentingan pihak luar/asing.

Indonesia merupakan negara dengan sumber daya alam yang sangat melimpah. Namun sayangnya kekayaan alam Indonesia tidak menjadikan rakyatnya hidup sejahtera. Berbagai data menunjukkan penguasaan asing atas kekayaan alam Indonesia cukup tinggi, dengan estimasi bervariasi antara 60% hingga 80% pada sektor-sektor strategis seperti pertambangan dan perkebunan. Data lain menyebutkan hampir 68% tanah dan kekayaan alam dikuasai oleh 1% kelompok, sementara 70% tambang nikel dikuasai asing. 

Meskipun UUD 1945 Pasal 33 ayat 3 mengamanatkan kekayaan alam dikuasai negara, dalam praktiknya, sebagian besar pengelolaan dilakukan oleh investor asing. Dengan kata lain pihak asing lah yang menikmati keuntungan besar dari kekayaan alam Indonesia. Sedangkan rakyat Indonesia hanya bisa menyaksikan kepahitan hidup di negeri sendiri. Ruang hidup mereka dirampas demi kepentingan asing dengan dalih proyek strategis nasional. Pemerintah rela mengorbankan rakyatnya sendiri demi memuluskan kepentingan asing.

Negara yang menjadikan kapitalisme sekuler sebagai sistem kehidupan tentu secara otomatis akan berperan sebagai antek asing. Karena dengan diterapkannya sistem ini, akan semakin memperkuat dominasi asing atas negeri tersebut. Sistem ekonomi kapitalistik akan membuka ruang bagi asing untuk menguasai kekayaan sebesar-besarnya (neoimperialisme). Tsaqofah asing akan masuk dengan mudah didalam sistem pendidikan sekuler yang diterapkan, kemudian akan meracuni pemikiran masyarakat agar tetap berada dalam kebodohan. Gaya hidup liberal dan hedonis juga merupakan bagian dari budaya asing yang telah melebur di tengah-tengah masyarakat dan merusak moral mereka. Kapitalisme sekuler merupakan ideologi bangsa asing khususnya negara-negara Barat dan Amerika. Maka, siapapun yang mengemban dan menerapkan sistemnya merekalah antek asing yang sesungguhnya.

Khatimah 

Jika negara ini serius ingin bangkit dan maju dengan tetap memperhatikan kesejahteraan masyarakat, maka hanya sistem Islam solusinya. Negara yang menerapkan sistem Islam akan menjamin kebutuhan setiap individu rakyat yang hidup di dalamnya. Kekayaan alam yang merupakan kepemilikan umum akan dikelola langsung oleh negara, kemudian hasilnya akan diberikan kembali kepada rakyat. Sistem pendidikan Islam tidak akan memberikan celah bagi tsaqofah asing untuk masuk. Generasi yang lahir dalam sistem pendidikan Islam akan memiliki kepribadian Islam yang khas, serta menguasai sains dan teknologi untuk kebermanfaatan umat. Negara akan hadir sepenuhnya untuk mengurusi urusan umat dengan menerapkan aturan yang berasal dari Sang Pemilik Kehidupan. Berbeda halnya dengan negara yang menerapkan sistem kapitalisme, di mana keberadaannya hanya menjadi budak para kapitalis atau antek kapitalis.

Wallahu 'alam.
Via OPINI
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar

- Advertisment -
Pasang Iklan Murah
- Advertisment -
Pasang Iklan Murah

Featured Post

Potret Buram Pendidikan Indonesia, Buah Sistem Sekularisme

Tanah Ribath Media- Februari 02, 2026 0
Potret Buram Pendidikan Indonesia, Buah Sistem Sekularisme
Oleh: Fitria Al Askan (Sahabat Tanah Ribath Media) TanahRibathMedia.Com— Publik dihebohkan kembali pada dunia pendidikan saat ini. Viralnya guru SM…

Most Popular

Guru Dikeroyok Siswa, Buah Penerapan Sistem Kapitalis

Guru Dikeroyok Siswa, Buah Penerapan Sistem Kapitalis

Januari 28, 2026
Cinta Mekar di Balik Tusukan Duri Mawar

Cinta Mekar di Balik Tusukan Duri Mawar

Januari 28, 2026
Sistem Sekuler Gagal Melindungi Anak: Kekerasan dan Child Grooming Merajalela

Sistem Sekuler Gagal Melindungi Anak: Kekerasan dan Child Grooming Merajalela

Januari 28, 2026

Editor Post

Tak Habis Pikir

Tak Habis Pikir

Juni 11, 2023
Untuk Engkau yang Merindu Bahagia

Untuk Engkau yang Merindu Bahagia

Juni 09, 2023
Terhubung tapi Terasing: Mengungkap Kesepian akibat Media Sosial di Era Kapitalisme Liberalisme

Terhubung tapi Terasing: Mengungkap Kesepian akibat Media Sosial di Era Kapitalisme Liberalisme

Oktober 02, 2025

Popular Post

Guru Dikeroyok Siswa, Buah Penerapan Sistem Kapitalis

Guru Dikeroyok Siswa, Buah Penerapan Sistem Kapitalis

Januari 28, 2026
Cinta Mekar di Balik Tusukan Duri Mawar

Cinta Mekar di Balik Tusukan Duri Mawar

Januari 28, 2026
Sistem Sekuler Gagal Melindungi Anak: Kekerasan dan Child Grooming Merajalela

Sistem Sekuler Gagal Melindungi Anak: Kekerasan dan Child Grooming Merajalela

Januari 28, 2026

Populart Categoris

Tanah Ribath Media

Tentang Kami

Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Contact us: contact@gmail.com

Follow Us

Copyright © 2023 Tanah Ribath Media All Right Reserved
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Advertisement
  • Contact Us