OPINI
Ketika Pernikahan Diremehkan, Peradaban Pun Dipertaruhkan
Oleh: Rianti Budi Anggara
(Tim Redaksi Tanah Ribath Media)
TanahRibathMedia.Com—Di tengah perubahan sosial yang bergerak cepat, pernikahan kerap dipahami secara dangkal oleh sebagian remaja dan mahasiswa. Ia direduksi menjadi sekadar legalitas, pelampiasan cinta, atau seremoni simbolik, bukan sebagai institusi peradaban yang melahirkan generasi, nilai, dan arah masa depan umat. Akibatnya, pernikahan dibicarakan dengan ringan seolah lanjutan romansa, bukan awal tanggung jawab panjang bernama kehidupan.
Sebagian anak muda sejatinya menyadari bahwa pernikahan memikul beban besar. Mereka melihat langsung tekanan ekonomi, konflik emosional, dan beban sosial dalam rumah tangga. Namun kesadaran ini sering tidak dibarengi pembinaan diri yang utuh. Pernikahan jarang dipelajari sebagai disiplin kehidupan yang menuntut kesiapan mental, emosional, spiritual, dan sosial; relasi pun kerap dijalani tanpa arah yang jelas.
Fenomena pacaran hadir seolah solusi dengan dalih “saling mengenal”. Dalam praktiknya, ia membuka kedekatan tanpa batas, menormalisasi relasi emosional dan fisik yang mendekatkan pada zina adalah sesuatu yang jelas dilarang dalam Islam. Bagi sebagian anak muda, pacaran menjadi pelarian dari tekanan hidup dan ketidaknyamanan rumah, bukan jalan persiapan menuju pernikahan yang bertanggung jawab.
Kondisi ini makin kompleks ketika bertemu realitas ekonomi Indonesia. Tingkat pengangguran terbuka masih berada di kisaran yang mengkhawatirkan, sementara sebagian besar pekerja berada dalam kondisi kerja tidak penuh dan rentan. Rata-rata upah buruh nasional sekitar Rp3,3 juta per bulan, angka yang dalam praktiknya jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup layak. Biaya hidup rata-rata bagi individu lajang di perkotaan saat ini berkisar Rp4,5–5 juta per bulan, sementara bagi mereka yang telah berkeluarga dapat mencapai Rp6–7 juta per bulan. Kesenjangan antara pendapatan dan kebutuhan hidup ini menciptakan tekanan psikologis yang besar, terutama bagi generasi muda yang juga harus memikul tanggungan keluarga, orang tua, dan masa depan anak-anaknya. Ketakutan menikah dalam konteks ini bukan semata karena kurangnya cinta, melainkan karena realitas ekonomi yang tidak ramah terhadap pembentukan keluarga. Pernikahan yang tidak dipersiapkan dengan ketahanan mental, spiritual, dan pengendalian diri justru berisiko melahirkan konflik, kemiskinan struktural, dan keretakan rumah tangga sejak awal.
Di saat yang sama, harga kebutuhan pokok meningkat, nilai rupiah tertekan, dan ketidakpastian global menambah kecemasan kolektif. Dalam situasi ini, cinta saja tidak cukup. Tanpa ketahanan diri, komitmen mudah runtuh oleh tekanan hidup. Ironisnya, kesadaran akan beratnya pernikahan sering berhenti pada penundaan tanpa pembinaan atas relasi emosional tetap berjalan, sementara kesiapan jiwa diabaikan.
Di sinilah Islam menghadirkan puasa sebagai pendidikan karakter. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan latihan menuju ketakwaan. Allah Swt. berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (TQS. Al-Baqarah: 183).
Takwa adalah fondasi pernikahan, tanpa adanya taqwa, cinta mudah dikalahkan nafsu dan komitmen rapuh oleh tekanan ekonomi. Sedangkan puasa melatih pengendalian diri, kesabaran, keistikamahan, kesederhanaan, dan ketangguhan. Nilai-nilai ini krusial dalam rumah tangga: menahan sikap konsumtif, bertahan dalam keterbatasan, serta mengelola relasi secara bermartabat. Bahkan, puasa menjadi rem syahwat mengajarkan bahwa tidak semua keinginan harus segera dipenuhi dan tidak semua kedekatan dilegalkan oleh rasa cinta.
Allah Swt. menegaskan, “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas” (TQS. Az-Zumar: 10).
Kesabaran aktif bertahan, berjuang, dan teguh pada nilai adalah modal utama menghadapi tekanan ekonomi, perbedaan karakter, dan tanggung jawab pengasuhan.
Pernikahan yang dipersiapkan dengan takwa dan ketahanan diri akan melahirkan keluarga yang kuat; keluarga yang kuat membentuk masyarakat yang sehat; dan masyarakat yang sehat menjadi fondasi peradaban yang bermartabat. Sebaliknya, ketika pernikahan diremehkan, pacaran dinormalisasi, dan pengendalian diri diabaikan, yang lahir adalah generasi rapuh dan krisis nilai.
Karena itu, pernikahan bukan sekadar urusan personal, melainkan agenda peradaban. Di tengah krisis ekonomi dan kegamangan moral, puasa menyampaikan pesan mendasar 'Menata Diri Sebelum Menata Rumah Tangga’. Sebab ketika pernikahan diremehkan, yang dipertaruhkan bukan hanya dua insan, melainkan masa depan generasi dan arah peradaban manusia. Ketika menahan lapar terasa lebih berat daripada menuruti nafsu, saat itulah pernikahan kehilangan maknanya, dan peradaban mulai goyah.
Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb.
Via
OPINI
Posting Komentar