Telusuri
  • Pedoman Media
  • Disclaimer
  • Info Iklan
  • Form Pengaduan
Tanah Ribath Media
Pasang Iklan Murah
  • Home
  • Berita
    • Nasional
    • Lensa Daerah
    • Internasional
  • Afkar
    • Opini Tokoh
    • Opini Anda
    • Editorial
  • Remaja
    • Video
  • Sejarah
  • Analisa
    • Tsaqofah
    • Hukum
  • Featured
    • Keluarga
    • Pernikahan
    • Pendidikan Anak
    • Pendidikan Remaja
    • FiksiBaru
Tanah Ribath Media
Telusuri
Beranda OPINI MBG: Ambisi Kapitalis di Balik Taruhan Nyawa Rakyat
OPINI

MBG: Ambisi Kapitalis di Balik Taruhan Nyawa Rakyat

Tanah Ribath Media
Tanah Ribath Media
09 Feb, 2026 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp


Oleh: Indri Wulan Pertiwi
(Aktivis Muslimah Semarang)

TanahRibathMedia.Com—Awal tahun 2026 yang semestinya disambut dengan optimisme oleh para pelajar, justru berubah menjadi narasi pilu. Gelombang keracunan massal melanda siswa di SMA 2 Kudus hingga wilayah Manggarai Barat dengan ribuan korban (bbc.com, 31-01-2026). Peristiwa tersebut bukanlah sekadar problem teknis di lapangan. Tragedi ini merupakan alarm keras yang menunjukkan betapa rapuhnya sistem perlindungan negara terhadap rakyatnya saat ini.

Proyek Populis dalam Cengkeraman Kapitalisme Sekuler

Kita perlu melihat secara kritis bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan anggaran fantastis Rp335 triliun ini sarat dengan kepentingan politik populis. Dalam dekapan kapitalisme sekuler, kebijakan publik sering kali tidak berpijak pada ketulusan melayani, melainkan lebih sebagai instrumen pencitraan dan pelanggeng kekuasaan.

Ironi nyata terlihat saat dana pendidikan sebesar Rp223,6 triliun dipangkas demi membiayai proyek makan siang ini. Hak-hak fundamental siswa, termasuk keberlangsungan beasiswa KIP, seolah "dikorbankan" demi program yang dalam implementasinya justru mengancam keselamatan jiwa. Inilah wajah asli kapitalisme. Dimana efisiensi fiskal dan ambisi elite selalu didahulukan, meskipun harus menumbalkan hak-hak dasar masyarakat.

Struktur ekonomi saat ini kian menjepit, lapangan kerja menyempit sementara harga kebutuhan pokok terus meroket. Kondisi ini secara sistemis membuat rakyat bergantung pada skema bantuan pemerintah. Padahal, martabat seorang manusia tidak diukur dari pemberian makan gratis yang kualitas pengawasannya compang-camping hingga memicu maraknya keracunan.

Kesejahteraan sejati adalah saat negara mampu menciptakan ekosistem yang mandiri. Negara seharusnya menjamin setiap kepala keluarga memiliki pekerjaan yang layak sehingga para ibu mampu menyediakan hidangan bergizi di meja makan mereka sendiri, tanpa perlu menggantungkan nasib pada "jatah" negara yang penuh risiko.

Menjaga Nyawa sebagai Amanah

Dalam kacamata Islam, kepemimpinan adalah tanggung jawab besar, bukan sekadar posisi tertinggi. Sebagaimana sabda Rasulullah ï·º.:
"Imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang digembalakannya." (HR Bukhari & Muslim).

Oleh karenanya Islam tidak mengenal solusi "tambal sulam" yang mengadu domba anggaran pendidikan dengan anggaran pangan. Melalui sistem ekonomi islam, yang kemudian hasilnya diarahkan ke Baitulmal, Khilafah mengelola sumber daya alam secara mandiri untuk dikembalikan bagi kepentingan publik. Dengan begitu, pemenuhan kebutuhan pangan, pendidikan, dan kesehatan berjalan beriringan tanpa perlu saling memotong. Dalam Islam, keamanan pangan adalah bagian dari Hifz an-Nafs (penjagaan nyawa), sehingga standar kualitas pelayanan publik diletakkan pada level tertinggi, bukan sekadar proyek serapan anggaran.


Rentetan kasus keracunan ini harus menjadi tamparan bagi kita semua. Selama kebijakan negara masih bersandar pada kapitalisme sekuler, nyawa rakyat akan terus menjadi komoditas pertaruhan. Oleh karena itu, sudah saatnya kita menempatkan amanah di atas ambisi pribadi, dan syariat di atas kepentingan korporasi.

Terlebih, mengurus urusan rakyat adalah ibadah. Sebagaimana Allah Swt. berfirman dalam QS Quraisy ayat 3-4, dimana salah satu fungsi penguasa adalah menjamin kecukupan pangan sekaligus memberikan rasa aman bagi rakyatnya. Bukan sebaliknya, memberikan makan namun membiarkan rakyat dihantui ketakutan akan ancaman kesehatan. 

Kekacauan manajemen anggaran dan tragedi kesehatan ini adalah momentum untuk berbenah secara total. Kita tidak bisa terus menggantungkan harapan pada sistem yang memberi dengan tangan kanan, namun merampas hak lain dengan tangan kiri. 

Hanya dengan kembali pada aturan Sang Pencipta dalam bingkai Islam yang kaffah, nyawa manusia akan dihargai tinggi dan kesejahteraan dapat dirasakan tanpa perlu mengemis pada proyek yang berisiko. Mari kita terus menyuarakan kebenaran agar syariat Islam kembali menjadi pelindung bagi semesta. Sebab, keberkahan sejati hanya akan turun jika sebuah negeri berpijak pada iman dan takwa (QS Al-A'raf: 96).

Wallahu a'lam bish-shawab.
Via OPINI
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar

- Advertisment -
Pasang Iklan Murah
- Advertisment -
Pasang Iklan Murah

Featured Post

Ironi 1.000 Ton Impor Beras di Tengah Janji Swasembada Pangan

Tanah Ribath Media- Maret 13, 2026 0
Ironi 1.000 Ton Impor Beras di Tengah Janji Swasembada Pangan
Oleh: Nurhy Niha (Sahabat Tanah Ribath Media) TanahRibathMedia.Com— Besar pasak daripada tiang, begitulah cara kita memaknai kedaulatan pangan hari…

Most Popular

Potret Buram Pendidikan dalam Sistem yang Suram

Potret Buram Pendidikan dalam Sistem yang Suram

Februari 10, 2026
Keracunan MBG Berulang; Bukti Gagalnya Negara Menjamin Gizi Generasi

Keracunan MBG Berulang; Bukti Gagalnya Negara Menjamin Gizi Generasi

Februari 11, 2026
Ekonomi Sulit, Rakyat Makin Terjepit

Ekonomi Sulit, Rakyat Makin Terjepit

September 25, 2025

Editor Post

Tak Habis Pikir

Tak Habis Pikir

Juni 11, 2023
Untuk Engkau yang Merindu Bahagia

Untuk Engkau yang Merindu Bahagia

Juni 09, 2023
Lebih dari 70 Muslimah Hadiri Talk Show Kajian Risalah Akhir Tahun 2023

Lebih dari 70 Muslimah Hadiri Talk Show Kajian Risalah Akhir Tahun 2023

Januari 01, 2024

Popular Post

Potret Buram Pendidikan dalam Sistem yang Suram

Potret Buram Pendidikan dalam Sistem yang Suram

Februari 10, 2026
Keracunan MBG Berulang; Bukti Gagalnya Negara Menjamin Gizi Generasi

Keracunan MBG Berulang; Bukti Gagalnya Negara Menjamin Gizi Generasi

Februari 11, 2026
Ekonomi Sulit, Rakyat Makin Terjepit

Ekonomi Sulit, Rakyat Makin Terjepit

September 25, 2025

Populart Categoris

Tanah Ribath Media

Tentang Kami

Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Contact us: contact@gmail.com

Follow Us

Copyright © 2023 Tanah Ribath Media All Right Reserved
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Advertisement
  • Contact Us