OPINI
Guru Dikeroyok Siswa, Murid Dihina Guru, Ada Apa dengan Dunia Pendidikan?
Oleh: Ummu Saibah
(Sahabat Tanah Ribath Media)
TanahRibathMedia.Com—Baru-baru ini beredar video viral tentang pengeroyokan yang dilakukan oleh siswa SMKN Tanjung Jabung Timur, Jambi terhadap salah seorang guru yang berinisial A. Peristiwa tersebut dilatarbelakangi oleh perkataan A yang dianggap sebagai bentuk penghinaan terhadap salah satu muridnya. Mediasi sudah dilakukan beberapa kali namun masih belum menemukan jalan keluar untuk kedua pihak (detiknews.com, 17-1-2026).
Insiden guru dan murid bukanlah sesuatu yang mengherankan dewasa ini. Sebelum insiden pengeroyokan guru oleh murid di Jambi, sudah banyak insiden lain seperti guru yang dilaporkan ke polisi karena masalah potong rambut, guru yang didemo satu sekolahan karena menampar siswa yang merokok, dan masih banyak lagi. Berbagai peristiwa di atas menggambarkan buruknya kondisi dunia pendidikan saat ini. Ketidakharmonisan hubungan antara guru dan murid menjadi permasalahan serius yang bahkan melibatkan pihak berwenang. Tentu saja hal ini menjadi 'PR' besar bagi negara untuk kembali menilik arah tujuan pendidikan.
Hilangnya Adab dalam Ruang Lingkup Pendidikan Sekuler
Penerapan sistem kapitalis menjadikan sekularisme sebagai landasan aktivitas dan kebijakan dalam dunia pendidikan. Ini berarti segala aktivitas dan kebijakan didasarkan pada pemisahan agama dari kehidupan dan menjadikan manfaat sebagai tujuan perbuatan. Maka salah satu hasil dari penerapan sekularisme dalam dunia pendidikan adalah hilangnya adab, baik adab guru sebagai pengajar maupun adab murid terhadap guru. Hal ini karena adab merupakan bagian dari penerapan agama sedangkan dalam sekulerisme, agama dipisahkan dari aktivitas kehidupan.
Ketiadaan penerapan syariat Islam selama lebih dari 100 tahun yaitu sejak runtuhnya kekhalifahan Utsmaniyah membawa dampak besar terutama dalam dunia pendidikan. Pendidikan tidak lagi menyoal tentang transfer keilmuan dan pembentukan karakteristik individu dengan kepribadian Islam, namun pendidikan hanya diprioritaskan untuk mendapatkan ilmu sebanyak-banyaknya tanpa memperhatikan karakteristik individu. Individu didorong untuk bersaing semaksimal mungkin dalam pencapaian nilai akademis dan keterampilan dengan cara apapun serta memperoleh manfaat sebesar-besarnya dari keilmuan tersebut.
Sistem pendidikan seperti ini akan menghasilkan individu yang minim adab. Guru sebagai orang yang seharusnya didengar dan ditiru, mulai kehilangan jati diri sebagai pendidik dan pengajar. Hal ini disebabkan oleh sekularisme yang menjadi landasan berfikir, sehingga aktivitas mendidik/mengajar dilakukan sekedar untuk memperoleh materi. Maka tidak heran bila kita menemukan beberapa guru yang bersikap kasar, mengumbar umpatan, cacian bahkan melakukan tindak pelecehan seksual ketika mengajar. Hal ini tentu saja bukan teladan yang baik bagi para murid.
Begitu pula dengan murid, adab dan penghormatan yang seharusnya mereka berikan kepada orang tua maupun guru malah diabaikan. Bagi mereka status guru dan murid tidak memiliki keistimewaan, tidak juga penghormatan. Hilangnya adab guru dan murid merupakan bukti nyata kebobrokan sekulerisme sebagai landasan pendidikan. Oleh karena itu sekularisme tidak layak dijadikan sebagai landasan dalam aktivitas maupun kebijakan baik dalam dunia pendidikan dan kehidupan.
Pendidikan dalam Pandangan Islam
Islam memandang bahwa tujuan pendidikan bukan sekedar mencetak individu dengan kemampuan intelektual saja, namun islam memperhatikan bagaimana pendidikan akan membentuk karakteristik manusia sehingga berakhlak mulia. Sebagaimana Rasulullah saw. di utus untuk menyempurnakan akhlak manusia, Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur'an:
"Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar memiliki akhlak yang agung." (TQS. Al-Qalam: 4)
Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah saw. bersabda: 'Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik'. (HR. Bukhari dan Muslim)
Oleh karena itu di dalam sistem pendidikan yang berdasarkan akidah Islam, adab merupakan prioritas pembelajaran sebelum menimba ilmu, karena adab akan membentuk karakteristik individu sehingga individu memiliki sikap dan perilaku memuliakan guru dan siap menerima ilmu serta mampu memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya. Para imam besar terdahulu telah mencontohkan bagaimana adab mereka dalam menuntut ilmu, seperti kisah Imam Syafi'i yang sangat menghormati gurunya yaitu imam Ahmad walaupun keduanya memiliki beberapa perbedaan pendapat terkait fikih. Imam Bukhari pun mencontohkan bagaimana adab seorang murid yang ingin menuntut ilmu rela berjalan kaki selama 16 hari demi bertemu seorang guru hadist, dan masih banyak keteladanan yang dicontohkan oleh para ulama tentang adab mereka terhadap guru dan menuntut ilmu.
Pendidikan Islam mendidik murid untuk memuliakan guru (ta'dzim), sementara guru diwajibkan mendidik dengan kasih sayang. Dari abu Hurairah Radhiyallahu Rasulullah saw. bersabda:
"Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang lebih kecil dan tidak menghormati yang lebih tua." (HR. Muslim)
Dalam konteks pendidikan, hadist tersebut mendasari bagaimana seorang guru sebagai orang yang lebih tua harus memiliki kasih sayang dalam mengajar murid-muridnya, begitupun murid sebagai orang yang lebih muda seharusnya menghormati gurunya. Begitulah Islam membangun hubungan guru dengan murid, sehingga guru akan mendidik muridnya dengan kasih sayang tidak dengan makian, hinaan maupun cacian. Murid memperlakukan gurunya dengan hormat, tidak membantah, tidak melawan apalagi sampai melakukan pengeroyokan dan penganiayaan. Sayangnya hal ini hanya akan terwujud dalam sistem pendidikan yang berbasis akidah Islam.
Namun untuk mendapatkan hasil yang maksimal dari penerapan sistem pendidikan Islam, dibutuhkan peran aktif negara sebagai institusi yang memiliki kekuasaan dan wewenang untuk mengatur rakyat. Dengan kekuasaannya negara memiliki wewenang untuk menerapkan dan mengambil akidah Islam sebagai landasan kurikulum pendidikan. Agar pendidikan berbasis akidah Islam bisa serempak diterapkan di seluruh negeri, demi mencetak individu-individu yang berkepribadian islami dan menjadi generasi yang tangguh.
Wallahu a'lam bishawab.
Via
OPINI
Posting Komentar