OPINI
Dunia Menanti Pemimpin Perdamaian Global
Oleh: Lela Susanti
(Pemerhati Sosial)
TanahRibathMedia.Com—Dunia hari ini seolah sedang berjalan di atas titian yang rapuh, di mana setiap derap langkah hanya menyisakan jejak problematika dan ketidakpastian. Kita menyaksikan sebuah peradaban besar yang dibangun di atas fondasi materi, tetapi kering akan nilai-nilai ketuhanan. Sejarah telah mencatat bahwa kejayaan suatu bangsa bukan hanya diukur dari kecanggihan teknologi atau kekuatan militer, tetapi dari sejauh mana keadilan ditegakkan dan martabat manusia dijunjung tinggi.
Namun sayang, kenyataan yang tersaji di depan mata justru menunjukkan sebaliknya. Dunia sedang merintih dalam dekapan sistem yang rakus, yang menukar ketenangan jiwa dengan ambisi yang tak bertepi, menyisakan sebuah ruang hampa yang rindu akan hadirnya sang pembawa kedamaian hakiki.
Wajah Retak Dunia di Bawah Hegemoni Kapitalisme
Tatanan dunia di bawah kepemimpinan sistem kapitalisme global yang dikendalikan oleh Amerika Serikat (AS) kian hari kian menampakkan kebobrokannya. Sebagai negara adidaya, AS tidak hanya memegang kendali ekonomi, tetapi juga memaksakan ideologi yang membuat umat Islam terjajah, lemah, menderita, dan semakin sekuler. Umat sengaja dijauhkan dari agamanya, bahkan diadu domba serta dibungkam dengan aturan yang tidak berbobot (Kompas.com, 9 Januari 2026).
Krisis multidimensi menjadi wajah asli kapitalisme. Mulai dari krisis ekonomi yang memperlebar jurang kemiskinan, krisis moral yang menggerus nilai kemanusiaan, hingga krisis politik yang menampakkan kerakusan kekuasaan. AS semakin menunjukkan arogansinya dengan melakukan serangan membabi buta dan ancaman ke berbagai negara, termasuk Venezuela. Penjajahan gaya baru melalui aneksasi dan penguasaan sumber daya alam dilakukan tanpa memedulikan hukum internasional maupun kecaman dunia.
Jerat Sekularisme, Ketika Manusia Kehilangan Jati Diri
Di bawah naungan kapitalisme sekuler, hak-hak dasar manusia hanya menjadi komoditas berita, sementara kritik dianggap sebagai ancaman menakutkan bagi penguasa. Ideologi ini telah merusak sendi-sendi kehidupan umat Islam, mulai dari akidah, muamalah, hingga pendidikan. Akibatnya, rakyat terjebak dalam ilusi kepemimpinan yang seolah melayani, padahal nyatanya membiarkan penindasan terjadi secara halus maupun terang-terangan.
Ketimpangan ini bukan sekadar kegagalan personal pemimpin, tetapi kerusakan sistemis. Kapitalisme yang lahir dari rahim sekularisme secara alami akan melahirkan kebijakan yang memihak pemilik modal, bukan rakyat pada umumnya. Selama standar kebahagiaan hanya diukur dari materi, maka eksploitasi manusia atas manusia lainnya akan terus berlangsung. Dunia saat ini sedang berada dalam titik nadir, merintih di bawah beban ketidakadilan yang diciptakan oleh tangan-tangan manusia yang merasa berhak membuat hukum sendiri.
Kembali ke Fitrah Kepemimpinan
Oleh karena itu, merupakan kewajiban bagi seluruh kaum muslim untuk kembali pada penerapan mabda (ideologi) Islam. Inilah satu-satunya jalan kebangkitan untuk membebaskan dunia dari hegemoni kapitalisme. Kebangkitan Islam bukan hanya misi penyelamatan bagi muslim, tetapi juga rahmat bagi seluruh alam yang akan melindungi manusia dari kezaliman, kemungkaran, dan kerusakan lingkungan.
Kedamaian hakiki tidak akan terwujud hanya dengan kehadiran sosok pemimpin yang hebat secara pribadi. Sehebat apa pun seorang penguasa, jika ia tidak menjalankan hukum Allah Swt., maka hakikatnya ia akan berlaku zalim. Kepemimpinan harus berpijak pada pilar keimanan dan ketakwaan, di mana hukum yang diterapkan berasal dari Zat yang Maha Adil. Hanya dengan sistem hukum-Nya, keadilan tidak akan lagi menjadi barang mewah yang diperjualbelikan.
Sudah saatnya kaum muslim bangkit dengan menyamakan pemikiran yang cemerlang (al-fikru al-mustanir). Dengan kesadaran sistemis dan ideologis ini, kepemimpinan akan kembali ke tangan umat, membawa dunia keluar dari kegelapan kapitalisme menuju cahaya Islam yang rahmatan lil 'alamin.
Wallahualam bisshawab.
Via
OPINI
Posting Komentar