SP
Ketika Dunia Diam, Gaza Terus Berdarah
TanahRibathMedia.Com—Tragedi kemanusiaan di Jalur Gaza tak kunjung menemukan ujungnya. Sejak agresi militer yang dimulai Oktober 2023, ribuan warga sipil kehilangan nyawa, sementara ribuan lainnya dilaporkan hilang tanpa jejak. Investigasi media internasional mengungkap dugaan penggunaan senjata termal dan termobarik yang menyebabkan jasad korban seolah menguap atau sulit dikenali (CNN Indonesia, 14 Februari 2026). Laporan investigasi Al Jazeera juga menyebut sedikitnya 2.842 warga Palestina dinyatakan hilang sejak agresi dimulai (Metro TV News, 15 Februari 2026).
Serangan terus terjadi bahkan ketika isu gencatan senjata digaungkan. Banyak korban berasal dari kalangan perempuan dan anak-anak—kelompok yang paling rentan dalam konflik bersenjata. Situasi ini kembali menyoroti konflik berkepanjangan antara Israel dan Palestina yang tak kunjung menemukan penyelesaian adil.
Penggunaan persenjataan dengan daya rusak masif terhadap wilayah padat penduduk menunjukkan krisis kemanusiaan yang serius. Jika benar senjata termobarik digunakan, maka dampaknya bukan hanya menghancurkan bangunan, tetapi juga memusnahkan kehidupan secara brutal. Banyak pihak menilai tindakan ini sebagai bentuk pelanggaran berat hak asasi manusia dan hukum humaniter internasional.
Namun pertanyaannya, mengapa dunia tampak tak mampu menghentikan tragedi ini? Resolusi, kecaman, dan pernyataan diplomatik terus bergulir, tetapi di lapangan kekerasan belum berhenti. Standar ganda dalam politik global membuat keadilan seolah berjalan pincang. Rakyat sipil kembali menjadi korban tarik-menarik kepentingan geopolitik.
Penderitaan perempuan dan anak-anak Palestina bukan sekadar angka statistik. Ia adalah luka kemanusiaan yang nyata. Ketika bom masih dijatuhkan, tangis anak-anak belum reda, maka suara keadilan tak boleh berhenti disuarakan. Selama Islam belum tegak sebagai sebuah istituti negara, Palestina dan negeri muslim lainnya akan tetap terjajah dan menderita.
Ilma Nafiah
(Sahabat Tanah Ribath Media)
Via
SP
Posting Komentar