OPINI
Borok Pendidikan akibat Meninggalkan Aturan Tuhan
Oleh: Mutiara Edelwise
(Aktivis Muslimah)
TanahRibathMedia.Com—Dunia pendidikan saat ini tengah didera krisis multidimensi yang meluruhkan nilai-nilai kemanusiaan dan spiritualitas. Di tengah gemerlap kemajuan teknologi, potret buram hubungan guru dan murid kian sering menghiasi ruang publik, mencerminkan adanya disorientasi tujuan dalam proses belajar mengajar. Fenomena kekerasan yang muncul ke permukaan hanyalah puncak gunung es dari rapuhnya fondasi sistem yang selama ini dianut, yang kian menjauhkan umat dari tuntunan Ilahi.
Viral di media sosial, seorang guru SMK dikeroyok murid di Jambi. Kejadian yang melukai dunia pendidikan ini berawal dari teguran yang dilakukan seorang guru (Agus) atas tindakan muridnya (MUF) yang meneriakinya dengan panggilan dan sebutan yang tidak sopan serta tidak hormat saat jam pelajaran berlangsung (detik.com, 14-10-2026).
Bukan tanpa sebab, murid tersebut juga menyatakan pembelaannya atas tindakan pengeroyokan yang dilakukan terhadap gurunya. MUF menyatakan bahwa tindakan pengeroyokan yang dilakukannya adalah sebagai bentuk reaksi atas tindakan sang guru yang kerap berbicara kasar, menghina orang tua, dan menghina murid dengan mengatakan "bodoh" dan "miskin".
Kejadian tersebut langsung mendapatkan tanggapan dari Ubaid Matraji selaku Koordinator Nasional JPPI. Beliau menilai bahwa peristiwa tersebut merupakan sebuah pelanggaran terhadap hak asasi anak untuk mendapatkan perlindungan dan pendidikan yang aman, bebas dari rasa takut, serta kekerasan, sebagaimana dijamin dalam Konstitusi dan UU Perlindungan Anak.
Sistem Kapitalis Menjauhkan Pendidikan dari Keluhuran Peradaban
Pengeroyokan yang dilakukan murid terhadap guru nyatanya bukan hanya sekadar konflik personal atau emosi sesaat. Hal ini menjadi problematika besar yang melanda dunia pendidikan tatkala ideologi kapitalis dijadikan landasan pemikiran sebuah tata kelola negara. Kapitalisme melahirkan sistem pengaturan yang menjauhkan manusia dari nilai-nilai fitrah seorang manusia. Tak pelak, relasi guru dan murid tidak lagi menjadi sebuah hubungan yang dibangun di atas tanggung jawab ketakwaan terhadap Penciptanya.
Sistem sekuler menjadikan pendidikan bernilai rendah karena meninggalkan keluhuran nilai-nilai aturan Tuhan. Tugas seorang guru menjadi sederhana, sebatas mengajarkan ilmu kemudian mendapatkan gaji. Di sisi lain, seorang murid belajar hanya untuk mendapatkan ijazah, kemudian berharap mendapatkan pekerjaan.
Kapitalisme hanya melahirkan generasi-generasi arogan tanpa adab. Murid dan guru kehilangan jati dirinya. Ketika seorang guru tidak menjadikan murid sebagai amanah Tuhan, dan ketika seorang murid tidak menjadikan adab sebagai keutamaan, maka ilmu tidak akan didapat. Ketika ilmu tidak didapat, maka amalan pun tidak akan membawa manfaat. Kapitalisme telah mengubah kondisi pendidikan yang seharusnya sehat menjadi tidak sehat. Kapitalisme hanya meninggalkan luka dan borok dalam dunia pendidikan.
Sistem Islam Melahirkan Generasi Luhur Bermartabat
Dalam Islam, pendidikan menjadi unsur penting lahirnya peradaban luhur. Islam menjadikan pendidikan bukan sekadar pencetak manusia pintar, tetapi bagaimana mampu membentuk manusia beradab. Menjadi guru adalah sebuah amanah yang besar. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bahwa tidaklah beliau diutus melainkan untuk menyempurnakan akhlak manusia. Menjadi murid adalah tentang bagaimana mampu menjadikan ilmu sebagai amalan saleh yang memberikan manfaat untuk sekitar.
Amalan yang bermanfaat adalah amalan yang diterima Allah. Amalan tidak akan diterima tanpa ilmu yang benar. Kebenaran ilmu tidak akan didapat tanpa adab. Islam mengajarkan murid untuk memuliakan seorang guru (ta'dzim). Guru memiliki tugas mendidik melalui keteladanan. Sebagaimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam adalah seorang guru dan seorang uswatun hasanah, yang mana perkataan, perbuatan, dan diamnya menjadi teladan bagi umat manusia. Seperti itulah seharusnya seorang guru dan murid membangun sinergi dalam menjalankan perannya masing-masing untuk membangun peradaban luhur dan bermartabat.
Tugas negara adalah menjaga generasi dari rusaknya sistem pendidikan yang diakibatkan oleh sistem kapitalis. Rusaknya masyarakat diakibatkan oleh rusaknya pemimpin. Kerusakan pemimpin disebabkan oleh rusaknya alim ulama. Negara perlu memastikan kurikulum pendidikan berlandaskan akidah Islam. Setiap mata pelajaran harus diarahkan untuk membentuk kepribadian Islam, bukan sekadar kompetensi pasar.
Wallahualam bissawab.
Via
OPINI
Posting Komentar