OPINI
Miris, Negara yang Mengaku Super Power Ternyata Sumber Banyak Masalah
Oleh: Lijan
(Aktivis Muslimah)
TanahRibathMedia.Com—Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump semakin memperlihatkan arogansinya, mempertegas keinginannya untuk mengendalikan sistem kehidupan manusia. Perang seakan tidak kunjung berakhir. AS terus melancarkan penyerangan ke beberapa wilayah incarannya (Somalia, Suriah, dan Yaman). Serangan mematikan AS di Venezuela yang menggulingkan presidennya mengundang banyak kecaman. Memunculkan kepanikan dunia seolah tidak ada yang dapat melawannya.
Mengapa Amerika menjadi Negara Adidaya?
Bukan hanya menjadi negara berpengaruh dalam perkembangan dunia modern. Dunia di bawah kendali AS semakin terjajah, menderita, dan semakin sekuler. Ideologi kapitalismenya menunjukkan keserakahan kepemimpinan secara global. Ulasan Liputan6.com (29-12-2025), Amerika Serikat terus mempertahankan statusnya sebagai negara adidaya utama berdasarkan penilaian pada kombinasi kekuatan ekonomi, militer, demografi, geografis, dan institusional yang relatif unggul dibandingkan negara lain seperti China dan Rusia. Namun kekuasaannya tidak dapat memberikan rasa aman, melainkan kegaduhan yang terasa tak berujung.
Dikutip dari Sindonews.com (20-01-2025), Donald Trump mengerahkan pesawat Komando Pertahanan Udara Amerika Utara (NORAD) untuk mengakuisisi wilayah semi-otonom Denmark. Komando tersebut dilakukan sesuai dengan rencana penguasaan Greenland. Terlihat jelas ini sebuah ancaman dan pemaksaan dalam mengakuisisi sebuah wilayah. Memperlihatkan bahwa AS ingin dikenal sebagai negara kuat yang bisa melakukan apapun, tanpa memperhatikan kesejahteraan dan keadilan.
Pemasok Senjata Terbanyak untuk Melakukan Genosida Gaza
Negara yang mengeklaim super power ini menjadi pemasok senjata terbesar Israel di tengah serangannya ke Gaza. Dikutip dari Tempo.co (18-09-2025), menurut laporan Newsweek Amerika Serikat adalah pemasok utama senjata ke Israel, menyediakan 69 persen impor senjata konvensional daei tahun 2019-2023. Washington juga memperkuat militer Israel dengan sistem pertahanan udara, amunisi pemandu presisi, artileri, peluru tank, dan senjata ringan. Israel telah menerima pengiriman 50 ribu ton persenjataan sejak perang Gaza meletus, Israel masih diperkuat tiga kapal induk dan sejumlah kapal perang AS. (Kompas.id, 27-08-2024).
Keberlanjutan operasi peperangan ini berdasarkan pada perdagangan senjata dan pembagian wilayah jajahan yang menghitung untung rugi para pemimpin dunia. AS menegaskan siap mendukung penuh Israel untuk menyerang berbagai negara sekitarnya dengan alasan pencegahan. Peperangan yang ditimbulkan berdampak pada bencana ekologis di dunia, dan merusak sendi-sendi kehidupan tanpa memedulikan tatanan hukum internasional dan kecaman masyarakat dunia.
Rindu Kepemimpinan Global yang Menjamin Keamanan, Bukan Prioritas Keuntungan
Krisis kepemimpinan global tidak jauh dari ideologi kapitalisme yang jauh dari tatanan hukum Islam yang penuh rahmat. Krisis itu ditandai dengan melimpahnya aturan politisi yang hanya mengejar kekuasaan, dan menormalisasi pelanggaran etika.
Tipisnya empati para pemimpin dunia terhadap peperangan yang terjadi menunjukkan wajah asli para pemuja asas sekularisme, yakni pemisahan agama dari kehidupan dan dari kekuasaan. Hal ini menunjukkan tidak adanya kendali yang dapat mengikat para pemimpin. Semua aturan yang ada dengan mudah diciptakan dan diubah sesuai kebutuhan ambisi kekuasaannya.
Akan berbeda kondisinya apabila kehidupan kepemimpinan global berlandaskan pada iman dan takwa. Kendali diri mereka adalah rasa tanggungjawab dan takut kepada Sang Pencipta. Para pemimpin yang bertakwa akan menegakkan keadilan dan menghapus kezaliman yang merugikan dunia. Keimanan dan ketakwaan akan menghadirkan para pemimpin berkualitas.
Terwujudnya keadilan yang hakiki tidak dapat berjalan hanya mengandalkan pemimpin yang baik. Namun, sistem yang berjalan juga harus berasal dari Tuhan yang Maha Adil. Pemimpin yang bertakwa akan yakin tidak ada hukum terbaik bagi manusia kecuali Allah Swt. Penerapan hukum Allah (syariat Islam) bersifat pasti dan jelas. Tidak memberikan hak keistimewaan kepada siapa pun, jelas batas halal haram, keadilannya tanpa memandang materi atau keuntungan yang didapatnya.
Wallahualam bissawab.
Via
OPINI
Posting Komentar