PUISI
Di Manakah Rindu Berlabuh?
Oleh: Rianti Budi Anggara
TanahRibathMedia.Com—Di sudut meja tua
Sebuah gelas retak menampung sunyi
Ia tak berisi air, apalagi gula
Hanya gema bunyi saat ia terpukul sepi
Buku bertumpuk berteriak ingin dibaca
Halaman menguning termakan usia
Untaian kata teronggok pasi, bak kapal di dermaga
Menunggu laut mata berlayar di atasnya
Langit malam menyapa tuan
Rupa macam tak pernah terlihat
Tekad diri dihantam badai zaman
Terguncang tanpa penenang yang dekat
Bulan menatapku kelu
Seperti tahu ada yang tak terucap
Cahayanya jatuh pelan di jendela itu
Bagai pesan yang tak sempat singgah menetap
Lampu-lampu rumah redup bersahaja
Langkah orang pulang terdengar lirih
Waktu berjalan pelan di bulan yang sama
Seakan dunia sedang belajar menahan perih
Kurma terbelah di ujung senja
Manisnya jatuh tanpa suara
Seperti harap yang tumbuh diam-diam saja
Namun tak tahu akan berakar di mana
Sajadah terhampar setia di lantai
Menghadap arah yang tak pernah keliru
Ia menunggu dahi yang datang bersandar damai
Sebagaimana hati menunggu temu
Tasbih berderak pelan di jemari
Butirnya jatuh satu demi satu
Menghitung rindu yang tak bernama pasti
Pada seseorang yang tak pernah kutahu
Dan di antara sunyi yang semakin teduh
Di bawah langit yang menua warna biru
Aku masih bertanya lirih dan rapuh
Di manakah rindu berlabuh,
jika pelabuhannya pun
belum pernah kutemui sejak dulu.
Di penghujung malam ketika sahur memanggil jiwa,
aku mengerti rindu bukan sekadar ingin memiliki,
melainkan jalan pulang agar hati tak lagi lupa arah-Nya
ia mengajak diri menyalakan pelita di dada yang lama redup,
menjadi tangan yang ringan berbagi, menjadi lisan yang lembut menasihati,
sebab bulan ini bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga,
tetapi tentang menumbuhkan cahaya yang menuntun sesama
agar setiap langkah kecil kita berubah menjadi dakwah sunyi,
yang mengalir pelan seperti doa,
namun sampai jauh…
hingga ke langit yang abadi.
Via
PUISI
Posting Komentar