opini
Board of Peace, Kejahatan di Atas Kejahatan
Oleh: Umi Hanifah
(Sahabat Tanah Ribath Media)
TanahRibathMedia.Com—Donald Trump dengan kepongahannya membentuk Dewan Perdamaian dengan tujuan merekontruksi Gaza. Pertanyaannya, benarkah semua itu buat kebaikan Gaza? Tentu saja tidak. Terbukti Amerika tetap penyuplai utama dana dan senjata ke zionis untuk melakukan genosida penduduk Palestina.
Sejak gencatan senjata 10 Oktober 2025, Zionis tetap membombardir Gaza. Korban tewas mencapai 576 jiwa, korban luka-luka 1.543, wanita dan anak-anak banyak yang menjadi targetnya. Zionis tetap bebal dan tidak perduli dengan kutukan berbagai lapisan masyarakat dunia terkait polahnya. Hal ini menunjukkan para penjajah tidak akan membiarkan jajahannya lepas begitu saja.
Board of Peace adalah bentuk kejahatan di atas kejahatan, menjajah sekaligus mengajak negara lain terlibat. Yang bikin kita geram, Presiden Prabowo ikut bergabung di dalamnya, bahkan Presiden menggalang dukungan dari para pemimpin ormas untuk mengaminkan langkahnya. Selain kejahatan, sikap Presiden adalah bentuk penghinatan terhadap konstitusi negara yang menyatakan bahwa penjajahan di dunia harus dihapuskan.
Rakyat muak dengan semua retorika yang mengatasnamakan perdamaian, padahal mereka sendiri tahu Palestina tetap dibantai. Para pemimpin yang tergabung dalam perdamaian ala Trump ingin mencari kemuliaan. Mereka salah besar karena mengabaikan firman Allah Swt. dalam surat An-Nisa 139:
"(yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah."
Jabatan yang sementara membuat mereka jumawa, padahal ia pasti mati dan dimintai pertanggungjawaban atas semua perbuatannya. Sebagai pemimpin muslim seharusnya tidak bekerjasama dengan penjajah saudara muslimnya. Bahkan wajib melindungi bukan menzalimi, membersamai dan tidak mengkhianati.
Dalam sistem Demokrasi Sekularisme sudah terbukti para pemimpin berlomba untuk meraih kemewahan dunia meski harus berbuat culas, zalim, menjatuhkan, menipu, memfitnah, dan tindakan tercela lainnya. Slogan tidak ada kawan atau lawan abadi, yang ada kepentingan pribadi sudah mendarah daging. Para pemimpin dalam sistem ini sering berbohong, hari ini bilang iya besok sebaliknya, pindah partai untuk mengamankan posisi, serta tidak tahu malu meskipun rakyat banyak yang menolak sikapnya.
Maka, pantaslah kalau pemimpin dalam sistem ini masuk menjadi anggota perdamaian dari gembong teroris Amerika. Mereka satu frekuensi dan tujuan, kemanfaatan buat jabatan dan cuan. Tidak ada dalam pikirannya apakah rakyatnya suka atau benci, menyusahkan atau menyenangkan, yang ada bagaimana mengamankan kepentingan diri serta kelompoknya.
Penderitaan rakyat Gaza telah menuai simpati semua mata, penolakan keberadaan zionis di mana-mana. Cukup menjadi manusia maka akan mengutuk perbuatan zionis yang lebih ganas dari binatang. Tidakkah bapak Presiden mengetahui semua itu?
Seharusnya sebagai pemimpin muslim dengan rakyatnya yang mayoritas Islam menolak perdamaian yang digagas penjajah. Yang dilakukan segera dengan gagahnya mengirim tentara untuk melakukan jihad melawan zionis. Bukan sebaliknya, berteman, dan berada dalam satu barisan para penjajah. Para pemimpin zalim ini seharusnya di beri sanksi berat karena telah melanggar konstitusi pembukaan Undang-undang dasar yang menyatakan bahwa penjajahan di muka bumi harus dihapuskan.
Lambat atau cepat pemimpin jahat akan mendapatkan imbalan yang pantas dari perbuatan zalimnya. Sekarang di dunia mereka sudah terhina, rakyat mengecam dan mendoakan kejelakan buat pemimpin yang berkhianat. Kelak di akhirat mereka akan mendapat adzab pedih yang tiada akhir dari perbuatannya, serta tuntutan ratusan juta dari rakyatnya yang dibohongi.
Sudah saatnya umat mencabut sistem Demokrasi Sekularisme yang melahirkan pemimpin zalim. Kita ganti sistem cacat ini dengan sistem Islam yang sempurna dengan berjuang tanpa kenal lelah.
Allahu a’lam.
Via
opini
Posting Komentar