Telusuri
  • Pedoman Media
  • Disclaimer
  • Info Iklan
  • Form Pengaduan
Tanah Ribath Media
Pasang Iklan Murah
  • Home
  • Berita
    • Nasional
    • Lensa Daerah
    • Internasional
  • Afkar
    • Opini Tokoh
    • Opini Anda
    • Editorial
  • Remaja
    • Video
  • Sejarah
  • Analisa
    • Tsaqofah
    • Hukum
  • Featured
    • Keluarga
    • Pernikahan
    • Pendidikan Anak
    • Pendidikan Remaja
    • FiksiBaru
Tanah Ribath Media
Telusuri
Beranda OPINI Banjir Tak Pernah Usai, Tata Ruang yang Gagal?
OPINI

Banjir Tak Pernah Usai, Tata Ruang yang Gagal?

Tanah Ribath Media
Tanah Ribath Media
05 Feb, 2026 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp


Oleh: Prayudisti SP
(Sahabat Tanah Ribath Media)

TanahRibathMedia.Com—Banjir kembali mengepung Jakarta dan sejumlah kota besar di Indonesia. Air merendam permukiman warga, jalan protokol, hingga fasilitas umum yang seharusnya menjadi pusat aktivitas masyarakat. Peristiwa ini bukan hal baru. Setiap musim hujan tiba, banjir seolah menjadi “tamu tahunan” yang tak pernah benar-benar diatasi secara tuntas.

Media Kompas.id melaporkan pada 23 Januari 2026 bahwa sedikitnya 22 RT dan 5 ruas jalan di Jakarta masih tergenang banjir akibat hujan deras yang mengguyur wilayah Jabodetabek. Dalam laporan lanjutan yang dimuat Kompas.com pada hari yang sama, banjir bahkan meluas ke wilayah yang sebelumnya dianggap aman dari genangan. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyatakan bahwa salah satu penyebab utama banjir kali ini adalah curah hujan tinggi, sehingga dilakukan langkah-langkah seperti modifikasi cuaca dan normalisasi tiga sungai sebagai upaya menekan risiko banjir (Kompas.id, 23 Januari 2026).

Tak hanya itu, pemerintah juga menegaskan bahwa pendekatan teknis seperti modifikasi cuaca masih diperlukan untuk mengantisipasi cuaca ekstrem. Namun, langkah tersebut menuai kritik publik karena dinilai sebagai cara lama yang belum menyentuh akar persoalan. Kompas.com pada 23 Januari 2026 mencatat bahwa sejumlah pengamat menilai penanganan banjir Jakarta masih bersifat reaktif dan pragmatis. Sementara itu, Tempo.co dalam artikelnya bertanggal 23 Januari 2026 menegaskan bahwa banjir Jakarta dan Bekasi kembali memperlihatkan rapuhnya sistem pengendalian banjir di kawasan perkotaan yang padat dan sarat kepentingan pembangunan.

Jika dicermati lebih dalam, banjir Jakarta dan kota-kota besar sejatinya adalah problem klasik yang terus berulang. Setiap tahun, narasi penyebabnya hampir selalu sama: curah hujan tinggi, cuaca ekstrem, dan perubahan iklim. Padahal, hujan adalah fenomena alam yang semestinya dapat dikelola jika sistem tata ruang dirancang dengan benar. Persoalan utamanya bukan pada hujan, melainkan pada kekeliruan tata ruang yang membuat lahan tidak lagi mampu menyerap air.

Alih fungsi lahan secara masif—dari kawasan resapan menjadi permukiman, pusat bisnis, dan infrastruktur komersial—telah menghilangkan daya dukung lingkungan. Sungai dipersempit, rawa ditimbun, dan ruang terbuka hijau dikorbankan demi proyek-proyek bernilai ekonomi tinggi. Inilah buah dari paradigma kapitalistik dalam pengelolaan ruang, di mana pembangunan diukur dari nilai investasi dan keuntungan jangka pendek, bukan dari keberlanjutan ekologi dan keselamatan rakyat.

Dalam paradigma kapitalisme, lahan dipandang sebagai komoditas ekonomi, bukan amanah yang harus dijaga keseimbangannya. Kebijakan tata ruang pun akhirnya lebih berpihak pada kepentingan pemodal ketimbang keselamatan masyarakat luas. Tak heran jika solusi yang ditawarkan pemerintah cenderung teknokratis dan instan, seperti normalisasi sungai atau modifikasi cuaca, tanpa keberanian melakukan koreksi mendasar terhadap pola pembangunan yang eksploitatif.

Islam memandang persoalan tata ruang dan lingkungan dari sudut pandang yang sangat berbeda. Dalam Islam, manusia ditempatkan sebagai khalifah di bumi, yakni pengelola yang bertanggung jawab menjaga keseimbangan alam, bukan perusaknya. Tata kelola ruang dalam Islam harus memperhitungkan dampak lingkungan secara serius karena alam bukan sekadar objek eksploitasi, melainkan bagian dari ciptaan Allah yang memiliki hak untuk dijaga.

Pembangunan dalam Islam tidak berlandaskan asas manfaat kapitalistik semata, melainkan kemaslahatan umat jangka panjang. Setiap kebijakan pembangunan harus mempertimbangkan apakah ia membawa maslahat atau justru mafsadat bagi manusia dan lingkungan. Oleh karena itu, Islam melarang segala bentuk pengelolaan yang menimbulkan kerusakan (fasad) di muka bumi, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an.

Sejarah peradaban Islam, khususnya pada masa Khilafah, menunjukkan bahwa tata ruang kota dirancang dengan mempertimbangkan keseimbangan ekologis. Kota-kota Islam klasik memiliki sistem drainase yang baik, ruang hijau yang memadai, pengaturan pemukiman yang tidak merusak aliran air, serta pembatasan eksploitasi lahan demi menjaga kelestarian lingkungan. Tata ruang tersebut tidak hanya memikirkan kenyamanan manusia, tetapi juga keberlangsungan seluruh makhluk hidup.

Dengan prinsip ini, pembangunan dalam Islam akan melahirkan rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin), bukan musibah yang berulang setiap tahun. Banjir tidak dipandang sebagai keniscayaan, tetapi sebagai tanda adanya kesalahan manusia dalam mengelola bumi. Selama paradigma kapitalistik masih menjadi dasar kebijakan tata ruang, selama itu pula banjir akan terus menghantui kehidupan perkotaan.

Karena itu, solusi hakiki atas banjir berulang bukan sekadar teknologi cuaca atau proyek normalisasi, melainkan perubahan paradigma pembangunan. Islam menawarkan paradigma tersebut—paradigma yang menempatkan keselamatan rakyat, kelestarian lingkungan, dan ketaatan pada hukum Allah sebagai fondasi utama tata kelola ruang. Tanpa perubahan mendasar ini, banjir akan terus datang, dan rakyat akan terus menjadi korban dari kegagalan tata ruang yang sistemik.
Via OPINI
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar

- Advertisment -
Pasang Iklan Murah
- Advertisment -
Pasang Iklan Murah

Featured Post

Ironi 1.000 Ton Impor Beras di Tengah Janji Swasembada Pangan

Tanah Ribath Media- Maret 13, 2026 0
Ironi 1.000 Ton Impor Beras di Tengah Janji Swasembada Pangan
Oleh: Nurhy Niha (Sahabat Tanah Ribath Media) TanahRibathMedia.Com— Besar pasak daripada tiang, begitulah cara kita memaknai kedaulatan pangan hari…

Most Popular

Ekonomi Sulit, Rakyat Makin Terjepit

Ekonomi Sulit, Rakyat Makin Terjepit

September 25, 2025
Puasa Berjalan, MBG Dipertahankan: Siapa yang Diutamakan?

Puasa Berjalan, MBG Dipertahankan: Siapa yang Diutamakan?

Februari 27, 2026
Potret Buram Pendidikan dalam Sistem yang Suram

Potret Buram Pendidikan dalam Sistem yang Suram

Februari 10, 2026

Editor Post

Tak Habis Pikir

Tak Habis Pikir

Juni 11, 2023
Untuk Engkau yang Merindu Bahagia

Untuk Engkau yang Merindu Bahagia

Juni 09, 2023
Lebih dari 70 Muslimah Hadiri Talk Show Kajian Risalah Akhir Tahun 2023

Lebih dari 70 Muslimah Hadiri Talk Show Kajian Risalah Akhir Tahun 2023

Januari 01, 2024

Popular Post

Ekonomi Sulit, Rakyat Makin Terjepit

Ekonomi Sulit, Rakyat Makin Terjepit

September 25, 2025
Puasa Berjalan, MBG Dipertahankan: Siapa yang Diutamakan?

Puasa Berjalan, MBG Dipertahankan: Siapa yang Diutamakan?

Februari 27, 2026
Potret Buram Pendidikan dalam Sistem yang Suram

Potret Buram Pendidikan dalam Sistem yang Suram

Februari 10, 2026

Populart Categoris

Tanah Ribath Media

Tentang Kami

Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Contact us: contact@gmail.com

Follow Us

Copyright © 2023 Tanah Ribath Media All Right Reserved
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Advertisement
  • Contact Us