OPINI
Sya’ban di Tengah Luka Umat
Oleh: Salma Rafida
(Sahabat Tanah Ribath Media)
TanahRibathMedia.Com—Rajab telah berlalu, Sya’ban pun hadir sebagai jembatan menuju Ramadan. Bulan yang seharusnya menjadi ruang penyucian niat, memperbanyak amal, dan menata hati sebelum tamu agung tiba. Namun, di balik datangnya Sya’ban, ada ironi yang sulit diabaikan, umat Islam di berbagai penjuru dunia masih hidup dalam penderitaan yang panjang dan berlapis.
Sya’ban datang saat air mata umat belum kering. Palestina terus bergelimang luka, nyawa melayang hampir setiap hari tanpa jaminan keadilan. Bahkan solusi-solusi yang diberikan hari ini bersifat tambal sulam saja.
Sebagaimana yang kita ketahui saat ini, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan pembentukan Dewan Perdamaian Gaza sebagai bagian dari rencana tahap kedua gencatan senjata di Gaza, yang ia klaim sebagai dewan paling bergengsi yang pernah dibentuk. Detiknews.com (16-1-2026)
Hal tersebut bukanlah hal solusi problem Palestina hari ini, mau bergengsi dan sehebat apapun Dewan Perdamaian dibentuk, tetap saja hal tersebut hanyalah permainan licik Donald Trump. Di sisi lain, Muslim di Kashmir hidup dalam tekanan, Rohingya terkatung-katung tanpa kewarganegaraan, dan Sudan dilanda krisis kemanusiaan yang tak kunjung usai. Semua ini menjadi potret nyata bahwa penderitaan umat bukan sekadar cerita jauh, melainkan realitas yang berlangsung di hadapan mata dunia.
Ironisnya, dunia seolah telah kebal terhadap jeritan itu. Penderitaan umat Muslim sering kali hanya menjadi angka statistik, headline sesaat, lalu dilupakan. Sya’ban yang seharusnya menghidupkan kesadaran spiritual justru mengingatkan kita bahwa ukhuwah Islamiyah belum sepenuhnya menjelma menjadi kepedulian nyata.
Doa memang dipanjatkan, tetapi sering berhenti pada lisan, belum berlanjut pada kesadaran kolektif dan keberpihakan moral. Bulan Sya’ban juga menguji kepekaan hati umat. Apakah kita benar-benar memaknai bahwa Rasulullah ﷺ memperbanyak amal di bulan ini karena amal diangkat kepada Allah? Jika demikian, bagaimana mungkin penderitaan saudara seiman dibiarkan berlalu tanpa keprihatinan mendalam, tanpa upaya untuk memahami akar masalah dan mendoakan perubahan yang sungguh-sungguh?
Sya’ban seharusnya menjadi bulan muhasabah bukan hanya secara personal, tetapi juga sebagai umat. Penderitaan yang menimpa kaum Muslim di berbagai belahan dunia adalah cermin rapuhnya persatuan, lemahnya perlindungan, dan lunturnya kepedulian global terhadap keadilan. Dari Sya’ban, umat diingatkan bahwa Ramadan bukan sekadar menahan lapar, tetapi momentum membangkitkan empati, solidaritas, dan kesadaran akan tanggung jawab bersama.
Semoga Sya’ban ini tidak berlalu sebagai rutinitas tahunan semata. Ia mestinya menjadi bulan yang menghidupkan nurani, menguatkan doa-doa untuk saudara yang tertindas, dan menyiapkan hati agar Ramadan benar-benar hadir sebagai bulan perubahan bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi umat yang terluka.
Lebih dari sekadar empati dan doa, penderitaan umat yang terus berulang menuntut solusi yang bersifat mendasar dan menyeluruh. Luka yang sama terus terbuka karena akar masalahnya tak pernah benar-benar diselesaikan. Sejarah Islam mencatat bahwa keadilan, perlindungan jiwa, dan kemuliaan umat hanya tegak ketika Islam diterapkan secara kaffah dalam naungan daulah Islam. Sebuah sistem yang menjadikan wahyu sebagai pedoman, bukan kepentingan, dan menempatkan penguasa sebagai pelayan umat, bukan penguasa atas umat.
Daulah Islam bukan sekadar simbol kekuasaan, melainkan institusi penjaga agama dan pelindung manusia. Di bawahnya, darah kaum Muslim tidak murah, kehormatan dijaga, dan kezaliman baik yang datang dari dalam maupun luar dihadang dengan keadilan.
Sya’ban semestinya menyadarkan umat bahwa perubahan hakiki tidak cukup berhenti pada perbaikan individu, tetapi menuntut bangkitnya kesadaran kolektif untuk kembali menjadikan Islam sebagai sistem kehidupan yang mengatur urusan umat secara menyeluruh. Oleh karena itu, Sya’ban adalah bulan menata niat dan menguatkan tekad. Menyiapkan diri agar Ramadan tidak hanya melahirkan pribadi yang saleh, tetapi juga umat yang sadar akan tanggung jawab peradabannya. Umat yang merindukan tegaknya kembali daulah Islam sebagai solusi hakiki atas penderitaan yang berkepanjangan.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
Via
OPINI
Posting Komentar