OPINI
Problem ‘Mental Health’ Generasi Muda Akibat Dominasi Media Sosial
Oleh: Pudji Arijanti
(Pegiat Literasi untuk Peradaban)
TanahRibathMedia.Com—Dominasi sistem sekuler kapitalistik semakin menguat dalam kehidupan manusia di era digital. Dalam arus tersebut, media sosial tampil menawarkan beragam kemudahan, seperti kecepatan akses informasi, kebebasan berekspresi, dan peluang aktualisasi diri yang nyaris tanpa batas. Namun pada saat yang sama, realitas lain muncul ke permukaan, yakni memburuknya kondisi kesehatan mental, khususnya di kalangan generasi muda.
Generasi Z kerap dicap sebagai generasi rapuh mudah cemas, gampang stres, dan sensitif terhadap tekanan. Sayangnya, label ini sering dilontarkan tanpa empati, seolah generasi muda sepenuhnya bertanggung jawab atas kondisi mentalnya. Padahal, di sisi lain, Gen Z juga dikenal kritis, adaptif, serta berani menyuarakan ketidakadilan melalui media sosial. Dengan demikian, problem mental health generasi muda tidak dapat dilepaskan dari lingkungan digital yang membentuk cara berpikir, bersikap, dan merasakan realitas hidup.
Pada kenyataannya, media sosial dalam sistem hari ini tidaklah netral. Ia dikendalikan oleh algoritma kapitalistik yang menjadikan manusia sebagai komoditas. Semakin lama pengguna bertahan di layar, semakin besar pula keuntungan yang diraup. Akibatnya, konten yang diprioritaskan bukan yang menyehatkan jiwa dan akal, melainkan yang memicu emosi ekstrem seperti iri, takut, marah, dan cemas. Selain itu, standar hidup semu, budaya pamer, tubuh ideal palsu, serta gaya hidup hedonis membanjiri linimasa generasi muda (detik.news, 21 April 2025).
Ironisnya, fakta ini jarang disadari publik. Ruang digital sejatinya dibangun, diatur, dan digerakkan oleh nilai-nilai kapitalisme sekuler. Algoritma media sosial tidak dirancang untuk membentuk manusia yang sehat secara mental dan spiritual. Sebaliknya, ia bekerja untuk memaksimalkan atensi, keterikatan emosional, dan keuntungan ekonomi.
Dalam kondisi ini, manusia termasuk generasi muda diposisikan sebagai objek eksploitasi, bukan sebagai subjek bermartabat.
Memang benar, media sosial membuka peluang besar bagi generasi muda. Aktivisme glokal (global-lokal) tumbuh, akses belajar semakin luas, dan suara anak muda mampu menembus ruang publik. Akan tetapi, sisi gelapnya jauh lebih kompleks. Paparan konten tanpa batas melahirkan kecemasan kronis, depresi, krisis identitas, serta perasaan tidak berharga. Lebih jauh lagi, budaya viral menciptakan tekanan psikologis untuk selalu terlihat bahagia dan sukses, meskipun realitas hidup sering kali jauh dari gambaran tersebut.
Selain persoalan psikologis, dominasi nilai inklusif-progresif di ruang digital turut memengaruhi cara pandang generasi muda terhadap agama. Agama tidak lagi dipahami sebagai kebenaran yang mengikat, melainkan sebagai preferensi personal yang dapat dipilih, ditawar, bahkan dipertanyakan. Akibatnya, otoritas syariat tergeser oleh opini populer, jumlah likes, dan validasi sosial. Pada akhirnya, lahir generasi dengan sistem nilai sendiri yang kerap bertabrakan dengan Islam dan memandang nilai lama sebagai tidak relevan.
Di sisi lain, karakter digital native juga membentuk pola gerak yang cenderung pragmatis. Aktivisme sering berhenti pada simbol, tren, dan viralitas. Dengan kata lain, kebenaran diukur dari popularitas, sementara perjuangan berubah menjadi performa. Ketika validasi tidak terpenuhi, tekanan mental pun meningkat. Oleh karena itu, problem kesehatan mental generasi muda sejatinya bukan sekadar kelemahan individu, melainkan buah dari sistem kapitalis sekuler yang menguasai ruang digital.
Islam memandang krisis mental generasi muda sebagai akibat rusaknya sistem kehidupan. Karena itulah, solusi Islam bersifat menyeluruh (kaffah). Langkah paling mendasar adalah perubahan paradigma berpikir. Generasi muda harus diarahkan keluar dari cara pandang sekuler yang memisahkan kehidupan dari aturan Allah Swt. Al-Qur’an menegaskan,
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (TQS. ar-Ra‘d: 28)
Dengan demikian, ketenangan jiwa tidak bergantung pada validasi sosial, melainkan pada keterikatan kepada Allah. Selain itu, Islam membangun ketahanan mental melalui pemahaman tujuan hidup. Dunia diposisikan sebagai fase ujian, bukan tujuan akhir. Dengan paradigma ini, generasi muda tidak hancur saat gagal dan tidak sombong saat berhasil. Harga diri tidak diukur oleh algoritma, melainkan oleh ketakwaan.
Lebih lanjut, Islam menegaskan pentingnya peran keluarga, masyarakat, dan negara. Keluarga membentuk ketakwaan individu, masyarakat menjalankan amar makruf nahi munkar, dan negara wajib mengatur ruang digital agar tidak menjadi sarana normalisasi kerusakan mental. Namun demikian, semua ini tidak akan optimal tanpa penerapan sistem Islam secara menyeluruh.
Oleh sebab itu, hanya negara Islam yang berdaulat negara Khilafah yang mampu melindungi generasi dari kerusakan sistemik, termasuk dalam bidang teknologi digital. Dengan demikian, problem mental health generasi muda menuntut solusi sistemik, bukan tambal sulam. Hanya dengan penerapan Islam secara kaffah, generasi muda dapat tumbuh dengan jiwa yang tenang, arah hidup yang jelas, serta peran strategis sebagai penjaga peradaban.
Wallahu alam Bissawab.
Via
OPINI
Posting Komentar