opini
Menakar Efektivitas Pembatasan Medsos, Amanah Menjaga Anak-Anak Kita
Oleh: Hera Luvita A.Md.Pjk
(Sahabat Tanah Ribath Media)
TanahRibathMedia.Com—Sebagai seorang muslimah muda yang kelak juga akan mendidik generasi, isu pembatasan media sosial bagi anak ini bukanlah sekadar wacana kebijakan negara, tapi juga tentang anak-anak kita. Tentang mata kecil yang kini lebih sering menatap layar daripada menatap wajah ibunya. Tentang jiwa-jiwa yang tumbuh di tengah derasnya konten, tanpa benar-benar tahu mana yang menenangkan dan mana yang perlahan merusak.
Pemerintah berencana membatasi penggunaan media sosial bagi anak usia 13 hingga 16 tahun melalui PP Nomor 17 Tahun 2025 (PP Tunas), yang akan mulai berlaku Maret 2026. Sekilas, kebijakan ini terdengar menenangkan hati para orang tua. Seolah negara hadir membantu kita menjaga anak-anak di tengah dunia digital yang semakin liar. Beberapa negara lain, seperti Australia bahkan telah lebih dulu melangkah. Namun, sebagai seorang ibu atau calon ibu, saya justru diliputi kegelisahan. Apakah ini sungguh perlindungan, atau sekadar formalitas?
Akar Masalah yang Lebih Dalam dari Sekadar Usia
Aturan ini ternyata masih menyisakan banyak celah. Anak tetap bisa mengakses media sosial tanpa akun pribadi. Mereka bisa meminjam akun orang dewasa, membuat akun palsu, atau bersembunyi di balik layar yang tak kita pahami sepenuhnya. Lebih menyedihkan lagi, game online tidak ikut dibatasi, padahal kecanduannya telah diakui dunia sebagai gangguan mental. Anak-anak kita dijauhkan dari satu pintu, tetapi dibiarkan masuk dari pintu lain yang tak kalah berbahaya. Bagi yang sudah menjadi ibu pasti tahu betul bahwa anak-anak selalu lebih cerdas dari yang kita kira. Larangan tanpa perlindungan sistemik hanya akan membuat mereka belajar bersembunyi, bukan belajar memahami.
Masalah sesungguhnya bukan hanya soal usia dan akun. Anak-anak kita hidup di tengah sistem digital global yang rakus. Media sosial dan game online dirancang bukan untuk mendidik, melainkan untuk membuat penggunanya betah berlama-lama. Setiap detik perhatian anak adalah keuntungan, Setiap emosi mereka adalah data, sedangkan sistem ini dikendalikan oleh korporasi besar dari negara adidaya kapitalis, sementara negara dan orang tua sering kali hanya menjadi penonton yang kelelahan. Kita, para ibu, akhirnya berjuang sendirian. Mengatur ‘screen time’ sambil memasak, menenangkan tantrum sambil lelah, dan merasa bersalah setiap kali anak lebih memilih gawai daripada pelukan. Sementara sistem yang membuat anak-anak kecanduan justru terus dibiarkan hidup dan berkembang.
Islam dan Amanah Menjaga Generasi
Islam tidak membiarkan para ibu memikul beban ini sendirian. Dalam Islam, menjaga akal dan jiwa anak adalah amanah bersama, terutama amanah negara. Negara tidak boleh hanya mengatur dari kejauhan, tetapi harus benar-benar melindungi. Segala sesuatu yang merusak akal, akhlak, dan masa depan generasi wajib dicegah, bukan dikompromikan.
Namun, perlindungan sejati tidak mungkin terwujud selama negara tidak berdaulat secara digital. Selama teknologi dikuasai kepentingan kapitalisme global, anak-anak kita akan terus menjadi sasaran empuk. Islam mengajarkan bahwa negara harus berdiri tegak, memiliki kedaulatan, dan berani mengatur teknologi sesuai dengan nilai kebenaran, bukan sekadar mengikuti arus dunia.
Dalam naungan Khilafah, penerapan syariat Islam secara kafah menjadikan teknologi sebagai alat kebaikan, bukan jebakan. Media diarahkan untuk membangun iman dan akhlak. Konten dijaga agar menenangkan jiwa, bukan merusaknya. Negara hadir sebagai pelindung, sehingga para ibu tidak lagi berjuang sendirian menjaga anak dari dunia yang terlalu kejam bagi usia mereka.
Lebih dari itu, Islam membangun benteng generasi secara menyeluruh. Orang tua dibekali pemahaman, masyarakat saling menjaga, sekolah mendidik dengan nilai Islam, dan negara memastikan sistemnya selaras. Anak-anak tidak hanya “dibatasi”, tetapi diarahkan, dicintai, dan dijaga.
Penutup
Pembatasan medsos mungkin terdengar tegas di atas kertas, tetapi bagi para ibu, itu belum cukup. Anak-anak kita terlalu berharga untuk diserahkan pada kebijakan setengah hati. Mereka adalah amanah dari Allah, calon khairu ummah, calon pemimpin peradaban Islam. Sudah seharusnya mereka tumbuh dalam sistem yang benar-benar melindungi dan bukan hanya membatasi, tetapi menjaga dengan penuh kasih dan tanggung jawab.
Via
opini
Posting Komentar