SP
Ketika Lumpur Lebih Diperjuangkan daripada Rakyatnya
TanahRibathMedia.Com—Bencana lumpur telah merenggut rumah, lingkungan, dan penghidupan ribuan warga.
Namun di tengah rasa kehilangan itu, publik justru dikejutkan oleh pernyataan Presiden yang menyoroti ketertarikan pihak swasta untuk memanfaatkan lumpur tersebut.
Wacana yang mengemuka bukan lagi soal evakuasi, pemulihan psikologis, atau jaminan hidup para korban, melainkan potensi ekonomi, nilai komersial, dan peluang pemasukan bagi daerah. Seakan-akan bencana ini adalah berkah bisnis, bukan musibah yang menghancurkan hidup.
Ketika Hati Masyarakat Teriris
Mari kita jujur. Siapa yang tidak tercengang mendengar narasi seperti ini? Di saat rumah-rumah terkubur lumpur, di saat orang tua tidak tahu dari mana makan hari ini, di saat anak-anak tidur di tenda darurat sambil menahan trauma justru muncul narasi: “Ada peluang investasi di balik lumpur.” Tak salah jika masyarakat marah, kecewa, bahkan merasa dikhianati. Apakah negara benar-benar hadir untuk mereka? Atau rakyat hanya angka di kolom kerugian, sementara potensi keuntungan lebih diprioritaskan? Perasaan itu valid karena kemanusiaan tidak boleh dikalahkan oleh kalkulator ekonomi.
Sikap dan arah kebijakan harus diluruskan kembali. Yang dibutuhkan masyarakat saat ini bukan perhitungan laba, tapi sebuah tindakan nyata, yaitu pemulihan menyeluruh dan cepat bagi seluruh warga terdampak, pemetaan kebutuhan jangka pendek hingga jangka panjang (hunian, psikososial, pekerjaan, pendidikan), pengungkapan tanggung jawab pihak penyebab bencana dan memastikan mereka ikut menanggung biaya pemulihan, penghentian sementara seluruh wacana komersialisasi hingga korban benar-benar pulih, kebijakan yang memuliakan manusia, bukan materi.
Solusi dimulai dari kesadaran bahwa rakyat bukan objek kapitalisasi. Islam tidak pernah menempatkan rakyat di belakang persoalan ekonomi justru sebaliknya. Pemimpin adalah pelayan umat, bukan pengelola proyek pribadi. Kekuasaan adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban di sisi Allah. Harta benda umat dan sumber daya alam adalah hak rakyat, bukan komoditas yang bisa diperjualbelikan ketika rakyat sedang menderita.
Rasulullah saw. bersabda:
“Pemimpin adalah pengurus rakyat, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka.”
Ayat dan hadis menegaskan bahwa egara wajib hadir membela rakyat yang terlukai, sebelum melihat peluang ekonomi. Saatnya Kita Bergerak Bersama untuk pemulihan pasca bencana. Bencana tidak boleh menjadi industri. Penderitaan tidak boleh menjadi pintu keuntungan. Karena itu, kita perlu bersuara:
- Tuntut pemerintah mengutamakan pemulihan rakyat, bukan pasar.
- Awasi setiap kebijakan dan narasi yang bergeser dari kemanusiaan.
- Edukasi masyarakat bahwa kita berhak atas keadilan dan perlindungan.
Bangsa ini hanya bisa pulih jika negara ingat jati diri dan perannya: melayani rakyat, bukan modal.
Hikmah
(Sahabat Tanah Ribath Media)
Via
SP
Posting Komentar