OPINI
Isra Mikraj, Momentum untuk Kembali kepada Islam Kaffah
Oleh: Ratna Kurniawati, SAB
(Sahabat Tanah Ribath Media)
TanahRibathMedia.Com—Bulan Rajab merupakan bulan di mana ada suatu momentum spiritual yang luar biasa dan istimewa bagi umat Islam. Peristiwa pada tanggal 27 Rajab yakni ketika Rasulullah saw. melakukan perjalanan di malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha kemudian bersama malaikat Jibril naik ke atas langit ketujuh atas izin Allah Swt. dan kembali dengan menerima perintah salat 5 waktu.
Isra Mikraj bukan semata tentang peristiwa naik ke langit ke tujuh dan bagaimana ketika Rasulullah saw. menerima wahyu dari Allah Swt. berupa perintah salat untuk disampaikan kepada umatnya. Seperti kita ketahui bahwa momen Isra Mikraj sering diperingati dengan perayaan sholawat dan ceramah. Tentu hal tersebut baik sebagai salah satu cara dalam mensyiarkan Islam di tengah gempuran pemikiran Barat yang mulai merebak di tengah negeri-negeri muslim.
Namun, di balik peristiwa Isra Mikraj bukan hanya pengalaman spiritual Rasulullah saw. semata tetapi ada pesan penting ketika Islam mulai dipinggirkan dan dikambinghitamkan sebagai ajaran yang mengerikan yang dapat memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa. Islam bukan hanya ibadah ritual semata dan hukum Islam dapat diterapkan dalam semua aspek kehidupan tidak hanya pada momen perayaan hari besar, pernikahan dan kematian saja.
Momen Isra Mikraj mengajarkan kepada kita bagaimana perjuangan Rasulullah dalam mendakwahkan agama Islam di Makkah dengan perlakuan buruk dari kaum Quraisy seperti cacian, hinaan, teror, fitnah, boikot hingga ancaman pembunuhan. Dengan berbagai kesulitan tersebut Rasullulah Saw tetap menyampaikan ajara Islam dengan dukungan istri beliau Siti Khadijah ra dan paman beliau Abu Thalib. Namun, kedua pelindung tersebut tidak berselang lama wafat hingga Rasulullah saw. mengalami kesedihan mendalam karena kehilangan orang yang dicintai dan membantu dakwahnya. Kemudian di tengah tahun kesedihan Allah Swt. menghadiahkan peristiwa Isra Mikraj.
"Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya (Rasulullah Muhammad saw) pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (TQS. Al-Isra': 1)
Sejarah telah mencatat bahwa setelah peristiwa Isra Mikraj ada peristiwa baiat Aqobah kedua dimana ada titik balik politik bagi jalan hijrahnya Rasulullah saw. ke Madinah untuk mendirikan Daulah Islam menjadikan masyarakat Islam yang berdaulat.
Oleh karena itu, peristiwa Isra Mikraj bukan hanya makna seremonial semata tetapi bagaimana hukum Allah Swt dapat diterapkan dalam setiap aspek kehidupan. Apalagi setelah Daulah Islam runtuh pada tanggal 3 Maret 1924 yang menjadikan umat Islam terpecah belah menjadi negara bangsa hingga lebih dari satu abad dengan sistem kufur yakni sekuler kapitalis.
Sekularisme kapitalis membuat tatanan dunia menjadi rusak karena bertentangan dengan sistem Islam seperti larangan riba, prinsip keadilan, kepemimpinan yang amanah serta menganggap salat adalah ibadah ritual semata. Islam hanya sebagai agama privat bukan agama yang dapat mengatur segala lini kehidupan.
Banyak wilayah dunia Muslim mengalami eksploitasi sumber daya, perang berkepanjangan, kemiskinan struktural, krisis kemanusiaan hingga menghilangkan martabat manusia. Umat Islam yang seharusnya bersatu malah terkotak-kotak dalam nation state.
Momentum Isra Mikraj seharusnya Islam bukan hanya agama ritual semata namun sebuah sistem yang dapat mengatur semua lini kehidupan. Oleh karena itu, umat harus bangkit dengan pemikiran yang cemerlang dalam memahami agama, serta memaknai sejarah. Perubahan besar tersebut sebagaimana Rasulullah saw. contohkan dengan membangun masyarakat melalui dakwah, dialog, keteladanan dan kesabaran. Sudah saatnya kita menjadi bagian dalam perubahan besar menuju Islam Kaffah.
Wallahualam bishawab
Via
OPINI
Posting Komentar