OPINI
Digitalisasi, Potensi Generasi Menjadi Budak Korporasi Semakin Nyata
Oleh: Ummu Rosyid
(Sahabat Tanah Ribath Media)
TanahRibathMedia.Com—Berbagai negara saat ini mulai melakukan pembatasan medsos untuk anak di bawah umur. Salah satunya negara Australia yang membatasi anak di bawah usia 16 tahun untuk tidak mengakses media sosial. Hal ini juga diikuti oleh negara lain yang melihat urgensi dalam pembatasan media sosial pada anak di bawah umur yaitu seperti Malaysia dan beberapa negera Eropa lainnya (kompas.com, 13-12-2025).
Di era digital saat ini, medsos menjadi trend atau kebutuhan kehidupan sehari-hari. Mulai dari kerjaan, sekolah sampai bisnis. Oleh sebab itu generasi sekarang juga tidak jauh-jauh dari digital sehingga bisa disebut era digital. Informasi sangat banyak yang didapat dari media sosial menjadikan tantangan besar bagi generasi muda saat ini. Anak muda saat ini lebih sering menghabiskan waktu dengan Screan time, mager menjadikan anak muda tidak tau atau lalai dalam kehidupan nyata sehari - hari. Mereka sibuk dengan dunia maya, sehinggal lupa akan kehidupan nyata.
Algoritma media sosial bisa menjadi jebakan yang sangat ampuh bagi menjajah generasi saat ini. Algoritma yang di rancang untuk memefilter, merekomendasikan konten, dan memberikan peringkat ternyata dapat merugikan atau memberikan dampak pola lingkungan yang buruk. Bisa menjebak mereka pada cara berfikir atau akfivitas tertentu. Oleh sebab itu anak muda yang kritis akan kebijakan penguasa saat ini adalah bibit unggul bagi perubahan masa depan, apalagi di barengi dengan pemahaman tsaqofah islam yang benar.
Anak muda adalah sasaran empuk bagi dunia digital saat ini. Potensi mereka yang cerdas menjadi tujuan utama bagi korporasi digital. Seolah-olah sihir, medsos mampu membuat anak muda terlena, lupa dengan dunia nyata. Mereka nyaman dan puas berinteraksi dengan dunia maya. Padahal sejatinya, tanpa Islam mereka berpotensi terseret arus sekularisme dan kapitalisme yang semakin dalam.
Sehingga dampak bagi generasi muda adalah mereka menyerap informasi dari media sosial, menjadikannya sebagai rujukan dalam berpikir yang tentu saja bisa mengendalikan tingkah laku, termasuk arah pandang dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Mereka lebih sekuler, padahal mereka adalah generasi muslim yang seharusnya percaya diri dengan identitas keislamannya, yang selalu terikat dengan hukum Syariat ketika berpikir, berucap dan bertindak.
Ide-ide sekuler dan kapitalis sangat banyak berseliweran di media sosial sehingga tidak ada filter bagi mereka yang mengkonsumsi nya. Sehingga dibutuhkannya benteng perlindungan pemikiran dari ide-ide sekuler yang banyak meracuni anak muda saat ini.
Ada beberapa pemahaman yang bisa membentengi anak-anak dari derasnya pemikiran sekuler yang ada di media sosial. Pertama menanamkan pemikiran yang shahih terhadap anak muda yang bersumber dari Sang Pencipta bukan yang lainnya. Seperti kita adalah ciptaan Allah maka selayaknya kita berbuat sesuai aturan dari Allah, bahwa kita tidak bisa membuat aturan sendiri selain aturan dari Allah.
Kedua ideologi Islam harus menjadi landasan berpikir mereka, karena tidak ada solusi selain ideologi Islam. Hanya ideologi Islam yang mampu membuat perubahan yang tidak hanya memimpikan perubahan saja akan tetapi benar-benar mewujudkan perubahan yang sahih bagi generasi anak muda saat ini. Karena pemahaman ini yang menjadikan rahmatan lil alamin tidak ada kemaksiatan tidak ada pemikiran sekuler Yang ada hanyalah ketaatan kepada Sang Khalik.
Ketiga jangan menduplikasi beberapa aktivitas yang bersifat liberal, bagaimanapun juga seorang muslim tidak boleh mengikuti kebiasaan orang-orang liberal. Seperti kebiasaan mengucapkan Natal, merayakan Valentine dan lain-lain.
Individu muslim membutuhkan lingkungan yang kondusif mendukung nuansa keimanan yang baik, menjalankan dengan seksama, sistemis dan lain-lain. Dukungan dari keluarga, masyarakat, dan negara. Semua itu bisa dilakukan ketika ada partai ideologis yang berperan di tengah-tengah masyarakat, karena itu penting sebagai jembatan agar anak muda saat ini terarah bukan menjadi budak digitalisasi.
Partai politik yang memperjuangkan tegaknya Islam Kaffah bisa menjadi wadah bagi anak-anak muda yang kritis akan kebijakan pemerintah yang buruk. Harapannya mereka bisa mempergunakan media sosial dengan bijak atau tidak ikut arus dunia digital yang ada di media sosial, serta bisa mencerdaskan anak bangsa dalam meningkatkan taraf berfikir umat.
Via
OPINI
Posting Komentar