NAFSIAH
Hijrah yang Sepi
Oleh: Eka Sulistya
(Sahabat Tanah Ribath Media)
TanahRibathMedia.Com—Hijrah tidak selalu datang dengan sorak-sorai. Tidak selalu disambut pelukan hangat atau ucapan bangga dari sekitar. Ada hijrah yang berjalan pelan, senyap, dan sering kali hanya diketahui oleh diri sendiri dan Allah. Aku berada di fase itu—berubah tanpa banyak yang sadar, bertahan tanpa banyak yang menemani.
Awalnya aku kira hijrah akan membuat hidup terasa lebih ringan. Nyatanya, justru sebaliknya. Ada jarak yang tercipta dengan lingkungan lama. Obrolan tak lagi nyambung, candaan yang dulu terasa biasa, kini mengusik hati. Aku tidak membenci mereka, hanya saja arah kami sudah berbeda. Perbedaan itu pelan-pelan menghadirkan kesepian.
Ada hari-hari ketika aku bertanya dalam diam, “Apakah aku terlalu berlebihan?”
“Mengapa setelah mencoba taat, hidup justru terasa lebih berat?”
Pertanyaan-pertanyaan itu datang tanpa diundang, terutama saat aku merasa sendirian. Aku belajar bahwa hijrah bukan hanya soal meninggalkan, tapi juga tentang kehilangan. Kehilangan kebiasaan, kehilangan penerimaan, bahkan kehilangan versi diri yang dulu selalu ingin disukai semua orang.
Namun di tengah sepi itu, aku mulai menyadari satu hal penting: hijrah memang tidak dijanjikan ramai. Allah tidak pernah mengatakan bahwa jalan menuju-Nya akan penuh manusia. Bahkan Allah mengingatkan, “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (TQS. Al-An’am: 116).
Ayat ini terasa menenangkan. Bahwa merasa berbeda bukan berarti salah, dan merasa sendiri bukan berarti tersesat.
Hijrah mengajarkanku untuk berdamai dengan kesunyian. Ada malam-malam panjang ketika aku hanya duduk di atas sajadah, menumpahkan lelah yang tak bisa diceritakan kepada siapa pun. Doaku sederhana, kadang berantakan, tapi jujur. Di sanalah aku belajar bahwa Allah paling dekat justru ketika dunia terasa menjauh.
Rasulullah ï·º bersabda, “Islam datang dalam keadaan asing, dan akan kembali menjadi asing. Maka beruntunglah orang-orang yang asing.” (HR. Muslim).
Hadis ini dulu terasa jauh, kini terasa nyata. Menjadi asing bukan berarti aneh, tapi karena memilih bertahan pada nilai yang tidak lagi populer. Ada harga yang harus dibayar, dan kesepian sering kali menjadi salah satunya.
Aku juga belajar bahwa hijrah bukan tentang berubah sempurna dalam waktu singkat. Ada jatuh bangun. Ada hari di mana iman terasa kuat, ada hari di mana aku hanya bertahan agar tidak mundur. Tapi aku teringat firman Allah, “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153). Ayat ini menjadi pegangan ketika langkah terasa berat. Bahwa bertahan, meski tertatih, tetap bernilai di sisi-Nya.
Kini aku mengerti, hijrah yang sepi bukan tanda kegagalan. Justru ia adalah proses pemurnian. Allah sedang menyaring niat, meluruskan tujuan, dan mengajarkan bahwa taat tidak membutuhkan penonton. Yang dibutuhkan hanyalah hati yang terus kembali, meski pelan.
Jika hari ini hijrahmu terasa sunyi, percayalah, kamu tidak sendiri. Ada banyak jiwa yang sedang berjalan di jalan yang sama, meski tak saling mengenal. Yang terpenting, ada Allah yang tidak pernah absen melihat setiap langkah kecilmu. Hijrah mungkin sepi di mata manusia, tetapi tidak pernah sepi di hadapan-Nya. Pada akhirnya, hijrah bukan tentang siapa yang menemani perjalanan kita, melainkan tentang siapa yang menjadi tujuan kita.
Via
NAFSIAH
Posting Komentar