Telusuri
  • Pedoman Media
  • Disclaimer
  • Info Iklan
  • Form Pengaduan
Tanah Ribath Media
Pasang Iklan Murah
  • Home
  • Berita
    • Nasional
    • Lensa Daerah
    • Internasional
  • Afkar
    • Opini Tokoh
    • Opini Anda
    • Editorial
  • Remaja
    • Video
  • Sejarah
  • Analisa
    • Tsaqofah
    • Hukum
  • Featured
    • Keluarga
    • Pernikahan
    • Pendidikan Anak
    • Pendidikan Remaja
    • FiksiBaru
Tanah Ribath Media
Telusuri
Beranda OPINI Bencana Terus Menghantam dan Lambatnya Penanganan
OPINI

Bencana Terus Menghantam dan Lambatnya Penanganan

Tanah Ribath Media
Tanah Ribath Media
05 Des, 2025 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp


Oleh: Nur Saleha, S.Pd
(Sahabat Tanah Ribath Media)

TanahRibathMedia.Com—Musim penghujan dan cuaca ekstrem akhir-akhir ini kembali menorehkan duka: banjir rob, longsor, hingga tanah bergerak melanda berbagai wilayah. Banyak warga menjadi korban, evakuasi berjalan lamban, dan bantuan darurat terasa insidental. Kondisi ini memanggil kita untuk berhenti menunggu — dan mulai bertindak. Dengan perspektif Islam, kita diajak untuk mengubah cara pandang, memperbaiki tata kelola lingkungan, memperkuat mitigasi, serta bekerja bersama membantu korban secara layak.


Mitigasi masih Rapuh

Beberapa peristiwa terbaru menggambarkan kerentanan kita. Di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, hujan deras pada November 2025 menyebabkan tanah bergerak lalu longsor — menimpa belasan rumah dan menewaskan beberapa warga. Sementara di Banjarnegara terjadi longsor besar, dan hingga kini tim penyelamat masih mencari warga yang diduga tertimbun tanah (news.detik.com, 19-11-2025).

Tak hanya di dataran tinggi, wilayah pesisir pun terdampak. Di Kepulauan Seribu, sejumlah RT terendam banjir rob setinggi 10–20 cm, memaksa warga mengungsi dan bergantung pada bantuan darurat (antaranews.com, 23-11-2025).

BNPB mencatat banyak kejadian bencana dalam sepekan terakhir — mulai dari tanah longsor, gerakan tanah, hingga banjir — akibat hujan tinggi dan kondisi geologi yang labil. Dampaknya pun besar: ratusan keluarga kehilangan rumah, ribuan jiwa terdampak, serta fasilitas umum rusak (bnpb.go.id, 22-11-2025).

Namun, proses evakuasi dan bantuan darurat berjalan lamban. Cuaca buruk, medan sulit, dan keterbatasan personel membuat banyak korban belum tertolong tepat waktu (news.detik.com, 19-11-2025).

Solusi Islam

Ada beberapa penyebab mengapa bencana terus berulang dan dampaknya makin besar.

Pertama, tata kelola ruang hidup dan lingkungan masih buruk. Alih fungsi lahan, eksploitasi alam, minimnya reboisasi, dan lemahnya pengelolaan lingkungan membuat wilayah makin rentan terhadap banjir, longsor, dan rob.

Kedua, mitigasi bencana di tingkat individu, masyarakat, dan negara masih lemah. Banyak warga belum memahami risiko di lingkungan mereka; sementara pemerintah belum menerapkan peta risiko, infrastruktur defensif, dan sistem peringatan dini secara merata.

Ketiga, tanggap darurat masih bersifat reaktif dan insidental. Evakuasi lamban, distribusi bantuan tidak optimal, dan relokasi korban kurang terencana.

Dalam pandangan Islam, bencana bukan sekadar fenomena alam, tetapi juga panggilan untuk introspeksi dan tanggung jawab. Dimensi ruhiyah mengingatkan agar manusia tidak merusak bumi, sedangkan dimensi siyasiyah menegaskan kewajiban negara dalam menjaga keselamatan rakyat, menyiapkan mitigasi, dan mengelola lingkungan dengan adil.

Dari prinsip Islam dan realitas di lapangan, beberapa langkah nyata dapat ditempuh:

1. Edukasi ruhiyah dan lingkungan— melalui masjid, sekolah, dan media: umat diajak memahami bahwa menjaga alam adalah bagian dari iman.
2. Pemetaan risiko & tata ruang berbasis data dan nilai pemerintah, masyarakat, dan ulama menyusun peta wilayah rawan, memberi peringatan dini, dan menyiapkan mitigasi.
3. Infrastruktur mitigasi yang nyata dan merata drainase, penguat lereng, reboisasi, tanggul, jalur evakuasi, serta sistem peringatan dini.
4. Program relokasi dan hunian layak warga zona merah perlu hunian aman yang manusiawi serta pendampingan sosial psikologis.
5. Prosedur tanggap darurat cepat dan efisien  evakuasi, bantuan logistik, layanan kesehatan, dan informasi publik harus siap dan terkoordinasi.
6. Partisipasi masyarakat dan solidaritas umat dapat bersinergi: infak, sedekah, gotong royong menanam pohon, membersihkan sungai, dan membangun pos tanggap bencana.


Khatimah

Negeri ini terlalu sering ditimpa bencana, dari banjir rob di pesisir, hingga longsor di pegunungan. Tetapi kita tidak boleh berhenti pada rasa prihatin. Islam mengajarkan bahwa menjaga alam dan keselamatan manusia adalah amanah mulia.

Dengan menggabungkan kesadaran ruhiyah, kebijakan siyasiyah, dan tindakan nyata, kita dapat mengubah siklus duka menjadi gerakan kolektif: mitigasi, perlindungan lingkungan, dan solidaritas sesama. Semoga Allah melindungi negeri ini dari bencana dan menjadikannya tempat yang aman, sejahtera, dan beradab bagi semua. Aamiin.
Via OPINI
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar

- Advertisment -
Pasang Iklan Murah
- Advertisment -
Pasang Iklan Murah

Featured Post

Ironi 1.000 Ton Impor Beras di Tengah Janji Swasembada Pangan

Tanah Ribath Media- Maret 13, 2026 0
Ironi 1.000 Ton Impor Beras di Tengah Janji Swasembada Pangan
Oleh: Nurhy Niha (Sahabat Tanah Ribath Media) TanahRibathMedia.Com— Besar pasak daripada tiang, begitulah cara kita memaknai kedaulatan pangan hari…

Most Popular

Penyesatan Opini di Balik Topeng BoP

Penyesatan Opini di Balik Topeng BoP

Maret 13, 2026
Ironi 1.000 Ton Impor Beras di Tengah Janji Swasembada Pangan

Ironi 1.000 Ton Impor Beras di Tengah Janji Swasembada Pangan

Maret 13, 2026
Normalisasi Gaul Bebas, Bikin Kebablasan

Normalisasi Gaul Bebas, Bikin Kebablasan

Maret 13, 2026

Editor Post

Tak Habis Pikir

Tak Habis Pikir

Juni 11, 2023
Untuk Engkau yang Merindu Bahagia

Untuk Engkau yang Merindu Bahagia

Juni 09, 2023
Lebih dari 70 Muslimah Hadiri Talk Show Kajian Risalah Akhir Tahun 2023

Lebih dari 70 Muslimah Hadiri Talk Show Kajian Risalah Akhir Tahun 2023

Januari 01, 2024

Popular Post

Penyesatan Opini di Balik Topeng BoP

Penyesatan Opini di Balik Topeng BoP

Maret 13, 2026
Ironi 1.000 Ton Impor Beras di Tengah Janji Swasembada Pangan

Ironi 1.000 Ton Impor Beras di Tengah Janji Swasembada Pangan

Maret 13, 2026
Normalisasi Gaul Bebas, Bikin Kebablasan

Normalisasi Gaul Bebas, Bikin Kebablasan

Maret 13, 2026

Populart Categoris

Tanah Ribath Media

Tentang Kami

Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Contact us: contact@gmail.com

Follow Us

Copyright © 2023 Tanah Ribath Media All Right Reserved
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Advertisement
  • Contact Us