Telusuri
  • Pedoman Media
  • Disclaimer
  • Info Iklan
  • Form Pengaduan
Tanah Ribath Media
Pasang Iklan Murah
  • Home
  • Berita
    • Nasional
    • Lensa Daerah
    • Internasional
  • Afkar
    • Opini Tokoh
    • Opini Anda
    • Editorial
  • Remaja
    • Video
  • Sejarah
  • Analisa
    • Tsaqofah
    • Hukum
  • Featured
    • Keluarga
    • Pernikahan
    • Pendidikan Anak
    • Pendidikan Remaja
    • FiksiBaru
Tanah Ribath Media
Telusuri
Beranda Opini Paus Fransiskus ke Indonesia, Waspada Toleransi Kebablasan
Opini

Paus Fransiskus ke Indonesia, Waspada Toleransi Kebablasan

Tanah Ribath Media
Tanah Ribath Media
15 Sep, 2024 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp


Oleh: Ratna Kurniawati, SAB
(Sahabat Tanah Ribath Media)

TanahRibathMedia.Com—Setelah hampir 35 tahun, Indonesia kedatangan pemimpin gereja Katolik dunia Paus Fransiskus pada tanggal 3-6 September 2024 sekaligus menjadi negara pertama dalam rangkaian lawatannya di Asia Pasifik. Setelah berkunjung dari Indonesia  kemudian melanjutkan lawatannya ke Papua Nugini, Timor Leste, dan Singapura (Kompaspedia.kompas.id,  3-9-2024).

Adapun rangkaian agenda dari Paus Fransiskus di Indonesia yaitu pertemuan dengan Presiden Jokowi, pejabat dan diplomat, anggota serikat Jesuit, tokoh agama Kristen, tokoh antar agama dan umat Katolik pada acara Misa Akbar yang akan digelar di Gelora Bung Karno.

Sebagai umat Islam perlu diingatkan bahwa kita tidak boleh toleransi kebablasan. Toleransi harus memegang prinsip akidah Islam tidak boleh kebablasan. Toleransi di sini bukan berarti kita turut berpartisipasi dalam rangkaian acara dan merasa bangga atas keikutsertaan dalam acara tersebut. Toleransi juga tidak boleh mengatakan bahwa semua agama sama dan benar dan sama-sama mengantarkan pada keselamatan. Dengan membiarkan mereka melakukan acara maupun membiarkan merayakan  hari besar merupakan bentuk toleransi yang dapat kita lakukan. 

Namun, sungguh disayangkan malah toleransi kita kebablasan seperti saat di masjid Istiqlal kedatangan Paus Fransiskus disambut dengan pembacaan Al-Quran surat Al Baqarah ayat 62 dan surat Al Hujurat ayat 13 yang dianggap sebagai cerminan bentuk toleransi. Belum lagi perlakuan Imam Masjid Besar Istiqlal Nasaruddin Umar yang mencium kening Paus Fransiskus merupakan penghormatan yang berlebihan dan cenderung menyucikan tokoh agama lain. Miris memang Indonesia sebagai mayoritas Islam justru merendah dan mengalah dengan agama lain seperti pada saat penyiaran misa secara langsung di tv nasional yang menabrak waktu azan maghrib kemudian diminta menggeser penayangan azan maghrib dan disampaikan lewat running text. 

Lagi-lagi umat Islam diminta mengalah kepada kaum minoritas untuk mencegah terjadi gesekan antar agama. Apabila kita sebagai umat Islam melakukan protes dianggap sebagai intoleran dan tidak menghormati agama lain. Pada saat bulan Ramadan pun kita juga diminta toleransi kepada orang yang tidak berpuasa. Atas doktrin toleransi umat Islam selalu berada posisi rendah dan terzalimi. 

Beginilah gambaran ketika peneran sistem sekularisme di negara kita. Sekularisme adalah pemisahan agama dari kehidupan. Urusan agama merupakan urusan individu masing-masing dan tidak ada sangkut pautnya dan diatur oleh negara. Pemerintah beranggapan bahwa urusan salat adalah urusan individu masing-masing sehingga apabila warganya yang muslim tidak salat bukan merupakan tanggung jawab pemerintah. Namun yang aneh giliran urusan misa negara sampai turun tangan hingga mengubah peringatan azan dengan running text. Umat Islam hanya diperlukan ketika mendulang suara pada saat pemilihan umum, ketika sudah terpilih dan berkuasa seolah lupa mengurusi urusan umat. 

Dalam pidatonya Paus Fransiskus mengkampanyekan toleransi dengan gaya Barat agar diadopsi oleh umat Islam. Promosi toleransi dan pluralisme merupakan bagian dari moderasi beragama ala barat yang di kampanyekan dalam dunia Islam untuk mengukuhkan hegemoninya terhadap Islam. Umat Islam di setting dan di kondisikan agar semakin jauh dari Islam dan kebangkitan Islam untuk menguasai dunia. 

Padahal dalam Islam permasalahan toleransi bukanlah hal baru dan asing karena Islam sudah mengajarkan bagaimana harus bersikap pada agama selain Islam. Sejarah sudah membuktikan selama kurang lebih 13 abad Islam menguasai dunia dan memimpin dunia yang pada waktu itu ada tiga agama Yahudi, Nasrani, Islam mereka hidup dengan damai berdampingan dan tunduk pada aturan Islam.

Kita sebagai umat Islam sebaiknya tidak terjebak narasi Barat seperti toleransi, moderasi beragama, dan dialog antar agama. Umat Islam tidak boleh hanya menerima saja dan berdiam diri terhadap kafir yang merendahkan agama Islam karena orang kafir tidak ridha akan kebangkitan Islam. Oleh karena itu, kita harus berjuang untuk penerapan syariat Islam secara kafah sehingga terwujudnya kesejahteraan dan kemuliaan di tengah umat serta segera merealisasikan janji Allah Swt. untuk membebaskan Roma. Wa'llahualam bishawab.
Via Opini
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar

- Advertisment -
Pasang Iklan Murah
- Advertisment -
Pasang Iklan Murah

Featured Post

Ironi 1.000 Ton Impor Beras di Tengah Janji Swasembada Pangan

Tanah Ribath Media- Maret 13, 2026 0
Ironi 1.000 Ton Impor Beras di Tengah Janji Swasembada Pangan
Oleh: Nurhy Niha (Sahabat Tanah Ribath Media) TanahRibathMedia.Com— Besar pasak daripada tiang, begitulah cara kita memaknai kedaulatan pangan hari…

Most Popular

Penyesatan Opini di Balik Topeng BoP

Penyesatan Opini di Balik Topeng BoP

Maret 13, 2026
Ironi 1.000 Ton Impor Beras di Tengah Janji Swasembada Pangan

Ironi 1.000 Ton Impor Beras di Tengah Janji Swasembada Pangan

Maret 13, 2026
Normalisasi Gaul Bebas, Bikin Kebablasan

Normalisasi Gaul Bebas, Bikin Kebablasan

Maret 13, 2026

Editor Post

Tak Habis Pikir

Tak Habis Pikir

Juni 11, 2023
Untuk Engkau yang Merindu Bahagia

Untuk Engkau yang Merindu Bahagia

Juni 09, 2023
Lebih dari 70 Muslimah Hadiri Talk Show Kajian Risalah Akhir Tahun 2023

Lebih dari 70 Muslimah Hadiri Talk Show Kajian Risalah Akhir Tahun 2023

Januari 01, 2024

Popular Post

Penyesatan Opini di Balik Topeng BoP

Penyesatan Opini di Balik Topeng BoP

Maret 13, 2026
Ironi 1.000 Ton Impor Beras di Tengah Janji Swasembada Pangan

Ironi 1.000 Ton Impor Beras di Tengah Janji Swasembada Pangan

Maret 13, 2026
Normalisasi Gaul Bebas, Bikin Kebablasan

Normalisasi Gaul Bebas, Bikin Kebablasan

Maret 13, 2026

Populart Categoris

Tanah Ribath Media

Tentang Kami

Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Contact us: contact@gmail.com

Follow Us

Copyright © 2023 Tanah Ribath Media All Right Reserved
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Advertisement
  • Contact Us