Telusuri
  • Pedoman Media
  • Disclaimer
  • Info Iklan
  • Form Pengaduan
Tanah Ribath Media
Pasang Iklan Murah
  • Home
  • Berita
    • Nasional
    • Lensa Daerah
    • Internasional
  • Afkar
    • Opini Tokoh
    • Opini Anda
    • Editorial
  • Remaja
    • Video
  • Sejarah
  • Analisa
    • Tsaqofah
    • Hukum
  • Featured
    • Keluarga
    • Pernikahan
    • Pendidikan Anak
    • Pendidikan Remaja
    • FiksiBaru
Tanah Ribath Media
Telusuri
Beranda Opini Subsidi LPG Jadi BLT, Bukan Solusi
Opini

Subsidi LPG Jadi BLT, Bukan Solusi

Tanah Ribath Media
Tanah Ribath Media
31 Jul, 2024 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp

Oleh: Susi Ummu Humay
(Sahabat Tanah Ribath Media)

TanahRibathMedia.Com—Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Eddy Soeparno mengungkapkan di dalam setiap tabung LPG 3 kg, ada subsidi pemerintah Rp33 ribu. Jadi apabila harganya sekarang adalah Rp20 ribu, berarti harga asli atau harga keekonomiannya Rp53 ribu. Maka harga gas LPG 3 kg akan naik tinggi jika dipasarkan tanpa subsidi dari pemerintah. 

Eddy menyarankan pemerintah melaksanakan pembatasan penjualan LPG 3 kg. Dan berharap pemerintah bisa mendetilkan siapa saja yang berhak mendapatkan LPG bersubsidi. Selain itu subsidi yang diberikan pemerintah melalui produk juga bisa dialihkan langsung kepada masyarakat yang berhak secara tunai.

Sebelumnya, pemerintah menargetkan subsidi dan kompensasi energi dapat terpangkas Rp671 triliun pada tahun 2025. Hal ini akan tercapai jika transformasi subsidi dan kompensasi energi bisa dijalankan dalam jangka pendek atau tahun depan.

Mulai dari pengendalian subsidi LPG 3 kilogram (kg), penerapan tarif adjustment untuk pelanggan listrik non subsidi golongan rumah tangga kaya (3.500 VA ke atas) dan golongan pemerintah, serta pengendalian subsidi dan kompensasi atas BBM Solar dan Pertalite.(21/07/2024) Dilansir dari CNBC Indonesia. 

Pemerintah berusaha menyelesaikan masalah ini, tetapi tampaknya upaya itu tidak berhasil karena solusi yang dipilih memang sebatas tambal sulam.

Subsidi dalam bentuk BLT dianggap solusi agar subsidi tepat sasaran sehingga mengurangi beban anggaran negara. Padahal perubahan ini berpotensi menimbulkan masalah baru, seperti naiknya harga barang, turunnya daya beli serta potensi korupsi.

Kita dapat memahami bahwa upaya pemerintah dalam memenuhi kebutuhan rakyat bukan berdasar untuk memudahkan rakyat. Alasan yang sebenarnya adalah hitung-hitungan untung rugi dan pemberian subsidi sekecil mungkin.

Sistem kapitalisme yang diadopsi negara ini menjadikan peran negara sebatas regulator. Pemerintah bertugas membuat regulasi agar kebijakan bisa berjalan. Untuk kepentingan oligarki bukan untuk dinikmati seluruh rakyat. Bahkan, pemerintah menjadi fasilitator dengan menfasilitasi para investor mengelola SDA minyak bumi dan gas.

Akhirnya, minyak bumi dan gas banyak yang dikuasai asing. Sedangkan negara harus mengimpor bahan bakar dari luar untuk memenuhi kebutuhan rakyat. Kalaupun ada hasil minyak dan gas dari dalam negeri, jumlahnya tidak mencukupi kebutuhan seluruh rakyat. 

Meski negeri ini memiliki sendiri kekayaan migas, namun rakyat tak bisa menikmati pemanfaatannya dengan murah bahkan gratis. 

Islam memiliki pandangan khusus mengenai LPG. LPG merupakan bagian dari hasil pengelolaan minyak bumi sehingga LPG termasuk kekayaan milik umum. Dalam Islam, komoditas yang masuk pada kekayaan milik umum haram dimiliki individu atau negara. 

Rasulullah saw, bersabda:
"Kaum muslim berserikat dalam tiga perkara yaitu padang rumput, air, dan api.” (HR Abu Dawud dan Ahmad). 

Hadis tersebut menunjukkan bahwa SDA (rumput, air, dan api) adalah harta milik umum. Haram diprivatisasi, apalagi membiarkan asing mengelolanya. Negara wajib mengelola sendiri dan hasilnya untuk kepentingan rakyat. Negara tidak boleh mengambil untung atas pengelolaan itu. Jadi, hasil pengelolaan SDA, termasuk LPG, akan diberikan gratis kepada rakyat atau negara akan menjual dengan harga murah sebagai ganti biaya produksi. Wallahu a'lam bish-shawwab
Via Opini
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar

- Advertisment -
Pasang Iklan Murah
- Advertisment -
Pasang Iklan Murah

Featured Post

Ironi 1.000 Ton Impor Beras di Tengah Janji Swasembada Pangan

Tanah Ribath Media- Maret 13, 2026 0
Ironi 1.000 Ton Impor Beras di Tengah Janji Swasembada Pangan
Oleh: Nurhy Niha (Sahabat Tanah Ribath Media) TanahRibathMedia.Com— Besar pasak daripada tiang, begitulah cara kita memaknai kedaulatan pangan hari…

Most Popular

Penyesatan Opini di Balik Topeng BoP

Penyesatan Opini di Balik Topeng BoP

Maret 13, 2026
Ironi 1.000 Ton Impor Beras di Tengah Janji Swasembada Pangan

Ironi 1.000 Ton Impor Beras di Tengah Janji Swasembada Pangan

Maret 13, 2026
Normalisasi Gaul Bebas, Bikin Kebablasan

Normalisasi Gaul Bebas, Bikin Kebablasan

Maret 13, 2026

Editor Post

Tak Habis Pikir

Tak Habis Pikir

Juni 11, 2023
Untuk Engkau yang Merindu Bahagia

Untuk Engkau yang Merindu Bahagia

Juni 09, 2023
Lebih dari 70 Muslimah Hadiri Talk Show Kajian Risalah Akhir Tahun 2023

Lebih dari 70 Muslimah Hadiri Talk Show Kajian Risalah Akhir Tahun 2023

Januari 01, 2024

Popular Post

Penyesatan Opini di Balik Topeng BoP

Penyesatan Opini di Balik Topeng BoP

Maret 13, 2026
Ironi 1.000 Ton Impor Beras di Tengah Janji Swasembada Pangan

Ironi 1.000 Ton Impor Beras di Tengah Janji Swasembada Pangan

Maret 13, 2026
Normalisasi Gaul Bebas, Bikin Kebablasan

Normalisasi Gaul Bebas, Bikin Kebablasan

Maret 13, 2026

Populart Categoris

Tanah Ribath Media

Tentang Kami

Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Contact us: contact@gmail.com

Follow Us

Copyright © 2023 Tanah Ribath Media All Right Reserved
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Advertisement
  • Contact Us