Telusuri
  • Pedoman Media
  • Disclaimer
  • Info Iklan
  • Form Pengaduan
Tanah Ribath Media
Pasang Iklan Murah
  • Home
  • Berita
    • Nasional
    • Lensa Daerah
    • Internasional
  • Afkar
    • Opini Tokoh
    • Opini Anda
    • Editorial
  • Remaja
    • Video
  • Sejarah
  • Analisa
    • Tsaqofah
    • Hukum
  • Featured
    • Keluarga
    • Pernikahan
    • Pendidikan Anak
    • Pendidikan Remaja
    • FiksiBaru
Tanah Ribath Media
Telusuri
Beranda Opini Penistaan Agama Tumbuh Subur dalam Sistem Demokrasi Sekuler
Opini

Penistaan Agama Tumbuh Subur dalam Sistem Demokrasi Sekuler

Tanah Ribath Media
Tanah Ribath Media
01 Jul, 2024 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp

Oleh : Rheiva Putri R. Sanusi, S.E. 
(Aktivis Muslimah)

TanahRibathMedia.Com—Berbagai peristiwa penistaan agama terus terjadi di beberapa tahun terakhir ini, tak terkecuali pada tahun 2024. Kasus terbaru adalah seorang pendakwah bernama Abuya Shufron Al-Batani yang disapa Buya Mama Ghufron mengaku telah merilis 500 kitab yang bertuliskan bahasa Suryani. Hal ini menjadi viral di media sosial ketika publik menantang pembuktian Abuya Mama Ghufron telah menulis 500 kitab dalam tulisan Bahasa Suryani. Namun Abuya Mama Ghufron tetap mempertahankan diri bahwa dirinya benar-benar telah menulis 500 kitab tersebut (TV One News, 13-6-2024).

Hal ini sangat membahayakan masyarakat jika dibiarkan terus berulang begitu saja. Sebab bagi masyarakat awam terutama mereka yang baru saja belajar Islam, bisa saja terpengaruh oleh ajaran-ajaran sesat. Apalagi jika hal ini dipelajari oleh para generasi muda yang nantinya menjadi penerus generasi tentu akan membahayakan masa depan. Maka penistaan agama harus diberikan tindakan tegas agar tidak terus terjadi.

Namun pada penistaan agama yang terjadi sebelumnya dan banyaknya respon amarah dari masyarakat nyatanya tak dapat menghentikan aksi-aksi serupa. Peristiwa penistaan agama ini terus berulang bahkan makin banyak terjadi. Hal ini disebabkan karena negara belum mampu membendung berbagai ajaran yang tidak sejalan dengan agama Islam. Belum lagi tidak adanya tindakan tegas dari negara dalam memberikan sanksi bagi pelakunya. Sanksi yang saat ini berlaku dalam sistem demokrasi adalah sanksi buatan manusia yang tentu saja tidak akan menyelesaikan solusi hingga ke akar permasalahan. Akibatnya masyarakat tidak jera dan tidak takut untuk melakukan berbagai penistaan agama.

Belum lagi dukungan sistem sekuler yang mendukung adanya kebebasan. Tak jarang ada yang menormalisasi perbuatan seperti ini atas dasar kebebasan berpendapat. Akibatnya para pelaku penistaan agama dapat menjadikan kebebasan sebagai dalih pembenaran perbuatannya. Lalu orang-orang yang memberikan komentar negatif atau tidak setuju dengan perbuatannya tergolong melanggar hak orang tersebut. Faktor-faktor inilah yang berkolaborasi menjadikan penistaan agama tumbuh subur saat ini.

Agama Islam hadir sebagai agama penyempurna yang mana di dalamnya memiliki berbagai aturan yang berasal dari Allah Swt. sebagai pencipta manusia. Dalam hal ini, Islam mengatur peran negara sebagai penjaga akidah umat dan menetapkan segala aktivitas perbuatan berstandar dan terikat pada hukum syara. Imam Al-Mawardi dalam kitabnya Al-Ahkam as-Sulthaniyyah menyebutkan tugas utama pemimpin adalah hirasatuddin wa siyasatuddunya (menjaga agama dan mengatur dunia dengan agama). 

Maka di sini perlu peran negara dalam mencegah terjadinya penistaan agama dengan cara menjaga akidah masyarakat. Penerapan aturan Islam secara menyeluruh dan sempurna merupakan langkah awal yang harus dilakukan oleh negara. Sebab penerapan hukum Islam ini akan menjadikan masyarakan terikat dengan hukum syara', sehingga menjadikan seluruh aktivitasnya berstandar halal haram menurut aturan Islam. Maka kemungkinan munculnya ajaran-ajaran yang menyesatkan sangat kecil.

Selanjutnya negara harus memberikan sanksi yang tegas untuk menumpas para penista agama. Negara diharuskan turun langsung untuk mencegah dan menumpasnya. Seperti yang dilakukan oleh Sultan Muhammad I dan Khalifah Abu Bakar yang langsung menyusun strategi penumpasan baik ajaran maupun pelaku penistaan agama. Sanki yang diberikan harus tegas agar membuat jera pelaku dan juga memberikan peringatan bagi masyarakat lain yang melihatnya.

Namun penerapan seperti ini tidak mungkin terjadi pada negara yang tetap menjadikan demokrasi sekuler sebagai sistemnya. Sebab demokrasi sekuler tidak menjadikan negara berperan dalam melindungi akidah masyarakat seperti yang terjadi saat ini. Penjagaan akidah masyarakat hanya akan terlaksana bagi negara yang menjadikan Islam menjadi sandara dalam berbagai aktivitas maupun kebijakan. Maka negara perlu menerapkan sistem yang mau dan mampu untuk menerapkan Islam sebagai sandaran tersebut.
Via Opini
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar

- Advertisment -
Pasang Iklan Murah
- Advertisment -
Pasang Iklan Murah

Featured Post

Ironi 1.000 Ton Impor Beras di Tengah Janji Swasembada Pangan

Tanah Ribath Media- Maret 13, 2026 0
Ironi 1.000 Ton Impor Beras di Tengah Janji Swasembada Pangan
Oleh: Nurhy Niha (Sahabat Tanah Ribath Media) TanahRibathMedia.Com— Besar pasak daripada tiang, begitulah cara kita memaknai kedaulatan pangan hari…

Most Popular

Penyesatan Opini di Balik Topeng BoP

Penyesatan Opini di Balik Topeng BoP

Maret 13, 2026
Normalisasi Gaul Bebas, Bikin Kebablasan

Normalisasi Gaul Bebas, Bikin Kebablasan

Maret 13, 2026
Ironi 1.000 Ton Impor Beras di Tengah Janji Swasembada Pangan

Ironi 1.000 Ton Impor Beras di Tengah Janji Swasembada Pangan

Maret 13, 2026

Editor Post

Tak Habis Pikir

Tak Habis Pikir

Juni 11, 2023
Untuk Engkau yang Merindu Bahagia

Untuk Engkau yang Merindu Bahagia

Juni 09, 2023
Lebih dari 70 Muslimah Hadiri Talk Show Kajian Risalah Akhir Tahun 2023

Lebih dari 70 Muslimah Hadiri Talk Show Kajian Risalah Akhir Tahun 2023

Januari 01, 2024

Popular Post

Penyesatan Opini di Balik Topeng BoP

Penyesatan Opini di Balik Topeng BoP

Maret 13, 2026
Normalisasi Gaul Bebas, Bikin Kebablasan

Normalisasi Gaul Bebas, Bikin Kebablasan

Maret 13, 2026
Ironi 1.000 Ton Impor Beras di Tengah Janji Swasembada Pangan

Ironi 1.000 Ton Impor Beras di Tengah Janji Swasembada Pangan

Maret 13, 2026

Populart Categoris

Tanah Ribath Media

Tentang Kami

Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Contact us: contact@gmail.com

Follow Us

Copyright © 2023 Tanah Ribath Media All Right Reserved
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Advertisement
  • Contact Us