Telusuri
  • Pedoman Media
  • Disclaimer
  • Info Iklan
  • Form Pengaduan
Tanah Ribath Media
Pasang Iklan Murah
  • Home
  • Berita
    • Nasional
    • Lensa Daerah
    • Internasional
  • Afkar
    • Opini Tokoh
    • Opini Anda
    • Editorial
  • Remaja
    • Video
  • Sejarah
  • Analisa
    • Tsaqofah
    • Hukum
  • Featured
    • Keluarga
    • Pernikahan
    • Pendidikan Anak
    • Pendidikan Remaja
    • FiksiBaru
Tanah Ribath Media
Telusuri
Beranda Opini Riba, Bentuk Eksploitasi Sumber Daya Keuangan Masyarakat
Opini

Riba, Bentuk Eksploitasi Sumber Daya Keuangan Masyarakat

Tanah Ribath Media
Tanah Ribath Media
13 Des, 2023 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp


Oleh: Khasanah Isma
(Praktisi Pendidikan dan Pemerhati Sosial) 

TanahRibathMedia.Com—Disadari atau tidak, Indonesia adalah sebuah negara yang  bermayoritas muslim di dunia yang telah terjerat ekonomi riba. Bentuknya bermacam-macam ada yang terjebak dalam pinjaman bank, leasing kendaraan, cicilan rumah KPR, Multi Level Marketing (MLM) dalam dunia bisnis, bahkan yang terbesar adalah terjebak dalam pinjaman online.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan bahwa  setiap tahunnya perkiraan kredit perbankan di Indonesia tumbuh double digit sebesar 28,11 persen yang jika dinominalkan mencapai 51,46 Triliun, per Mei 2023. (bisnis.com,8-7-2023). 

Kondisi ini sangat memprihatinkan, sebab fakta di lapangan mengungkapkan bahwa ketergantungan utang dengan bunga (riba) ini justru menyasar kepada masyarakat menengah ke bawah, hal ini terjadi karena pemerintah memberi ruang  secara luas kepada para kapitalis (pemilik modal) untuk menjadikan rakyat di negeri ini sebagai sumber daya keuangan yang dieksploitasi, sehingga wajar bila praktik keharaman ini mudah menjangkit masyarakat. 

Banyak hal yang dapat mempengaruhi seseorang terjerumus riba yang sangat membahayakan, di antaranya  perilaku masyarakat kita yang  konsumtif dan sangat hedonis sehingga mengukur kebahagiaan itu sebatas terpenuhinya materi. Akhirnya memaksakan diri untuk memiliki sesuatu yang ia tidak mampu bahkan sebetulnya tak terlalu butuh, maka untuk mendapatkan apa yang diinginkannya ia rela menempuh dengan jalan riba. Padahal sebelumnya ia sebagai muslim tahu atau sedikitnya pernah mendengar bahwa riba itu haram dalam Islam. 

Sebagai contoh, meminjam uang dengan tambahan uang dalam pengembaliaanya itu haram, namun apa daya jika nafsu sudah meraja, halal dan haram pun tak lagi menjadi pertimbangan, akal hanya berpikir jangka pendek agar keinginan segera terpenuhi, padahal sebagai muslim tentunya kita harus bersabar dalam menerima hukum yang Allah tetapkan, serta rida dalam menjalani sulitnya kehidupan. 

Ada pula sebagian masyarakat yang memang terjebak riba karena ketidaktahuannya terkait  transaksi  yang seperti apa yang termasuk kedalam riba. Namun, juga tak sedikit dari masyarakat yang terjebak keharaman ini karena alasan untuk memenuhi mahalnya harga kebutuhan hidup. 

Dampak dari riba itu sangat luar biasa, gara-gara riba banyak orang  yang awalnya hidup merasa bahagia, namun karena tak mampu membayarnya akhirnya menderita terlilit utang dengan bunga yang tinggi, bahkan sudah banyak yang  bunuh diri akibat  terjebak pinjaman riba. Itu baru dampak di dunia, lalu bagamana diakhirat?

Allah menegaskan dalam surat Al-Baqarah ayat 275,  bahwa orang yang memakan riba itu tidak dapat berdiri, melainkan seperti  berdirinya orang yang sedang kerasukan setan.

"Orang-orang yang memakan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena gila. Yang demikian itu karena mereka berkata bahwa jual beli sama dengan riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Barang siapa mendapat peringatan dari Tuhannya, lalu dia berhenti, maka apa yang telah diperolehnya dahulu menjadi miliknya dan urusannya (terserah) kepada Allah. Barang siapa mengulangi, maka mereka itu penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya."

Ayat ini bermakna, selalu ada kebingungan dan kegelisahan pada diri mereka, obsesi mereka tertuju pada penambahan materi dan keserakahan. Mengapa bisa demikian? 
Karena riba adalah salah satu dosa besar, sedang dosa itu sifatnya menggelisahkan. 

Betapa bencinya Allah terhadap para pelaku riba, hingga Allah pun menegaskan  bahwa para pelaku riba sama dengan ia menyatakan perang dengan Allah.

Bayangkan saudaraku, kita menantang Allah untuk berperang,  bukankah itu berarti adalah manusia yang sombong, yang tidak sadar diri bahwa ia adalah makhluk yang diciptakan Allah Swt.. 

Tinggalkan Sistem Kapitalisme

Lalu siapa yang  dapat menghentikan riba di tengah masyarakat? Tentu saja para penguasa yang mempunyai peran penting, selain harus mengedukasi masyarakat tentang bahayanya riba, pemerintah juga perlu membuat aturan tegas agar sistem jual beli, pinjam meminjam, kredit dan sebagainya tidak mengandung riba. 

Mustahil riba akan musnah tanpa adanya kebijakan politik. Namun pertanyaannya, apakah bisa hal tersebut diwujudkan, jawabannya adalah tidak, selama masih menggunakan sistem demokrasi kapitalisme, riba tidak dapat terhapus secara integeral (keseluruhan), sebab dalam sistem ekonomi kapitalisme pemerintah memberikan ruang kepada para pemilik modal guna mengembangkan investasinya dengan cara apapun, termasuk mengembangkan usaha pinjam meminjam. 

Mengingat bisnis pinjaman uang adalah memproduksi uang guna menghasilkan uang, maka tentulah rakyat yang utamanya menjadi  barang komoditi, apalagi diketahui bahwa pelaku UMKM sekitar hampir 40 persennya menggunakan modal usaha mereka dengan mengandalkan pinjaman, yang dimana masyarakat menengah ke atas menggunakan fasilitas perbankan pengajuan pinjaman, sementara bagi masyarakat menengah  ke bawah umumnya menggunakan pinjaman online (pinjol). 

Meski suku bunganya jauh lebih besar,  namun alternatif pinjol masih tetap menyedot banyak peminatnya, hal ini dikarenakan proses pengajuannya tak serumit ketika mengajukan pinjaman ke bank, akhirnya banyak masyarakat yang kecanduan pinjaman online karena kemudahan yang diperolehnya, namun ketika sudah terjebak bunganya yang tinggi banyak korban pjnjol yang melakukan bunuh diri. Tidak ada cara lain untuk meruntuhkan sendi  ekonomi ribawi, kecuali dengan meninggalkan sistem kapitalisme, lalu menggantinya dengan penerapan aturan islam secara  kafah di setiap sendi kehidupan. 


Wallahu'alam bishawab
Via Opini
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar

- Advertisment -
Pasang Iklan Murah
- Advertisment -
Pasang Iklan Murah

Featured Post

Ironi 1.000 Ton Impor Beras di Tengah Janji Swasembada Pangan

Tanah Ribath Media- Maret 13, 2026 0
Ironi 1.000 Ton Impor Beras di Tengah Janji Swasembada Pangan
Oleh: Nurhy Niha (Sahabat Tanah Ribath Media) TanahRibathMedia.Com— Besar pasak daripada tiang, begitulah cara kita memaknai kedaulatan pangan hari…

Most Popular

Penyesatan Opini di Balik Topeng BoP

Penyesatan Opini di Balik Topeng BoP

Maret 13, 2026
Ironi 1.000 Ton Impor Beras di Tengah Janji Swasembada Pangan

Ironi 1.000 Ton Impor Beras di Tengah Janji Swasembada Pangan

Maret 13, 2026
Normalisasi Gaul Bebas, Bikin Kebablasan

Normalisasi Gaul Bebas, Bikin Kebablasan

Maret 13, 2026

Editor Post

Tak Habis Pikir

Tak Habis Pikir

Juni 11, 2023
Untuk Engkau yang Merindu Bahagia

Untuk Engkau yang Merindu Bahagia

Juni 09, 2023
Terhubung tapi Terasing: Mengungkap Kesepian akibat Media Sosial di Era Kapitalisme Liberalisme

Terhubung tapi Terasing: Mengungkap Kesepian akibat Media Sosial di Era Kapitalisme Liberalisme

Oktober 02, 2025

Popular Post

Penyesatan Opini di Balik Topeng BoP

Penyesatan Opini di Balik Topeng BoP

Maret 13, 2026
Ironi 1.000 Ton Impor Beras di Tengah Janji Swasembada Pangan

Ironi 1.000 Ton Impor Beras di Tengah Janji Swasembada Pangan

Maret 13, 2026
Normalisasi Gaul Bebas, Bikin Kebablasan

Normalisasi Gaul Bebas, Bikin Kebablasan

Maret 13, 2026

Populart Categoris

Tanah Ribath Media

Tentang Kami

Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Contact us: contact@gmail.com

Follow Us

Copyright © 2023 Tanah Ribath Media All Right Reserved
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Advertisement
  • Contact Us