OPINI
Ledakan AI Tanpa Kendali: Mengapa Teknologi Membutuhkan Syariat?
Oleh: Saffana Afra
(Sahabat Tanah Ribath Media)
TanahRibathMedia.Com—Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam beberapa tahun terakhir mengalami kemajuan yang sangat pesat. Teknologi yang semula hanya digunakan untuk menjalankan tugas-tugas sederhana kini mampu menghasilkan tulisan, gambar, kode pemrograman, menganalisis data, hingga membantu berbagai pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan kemampuan manusia. Meskipun menawarkan berbagai kemudahan, perkembangan AI turut memunculkan kekhawatiran mengenai arah pengembangannya dan pengaruhnya terhadap kehidupan manusia.
Sejumlah peneliti kecerdasan buatan, termasuk tokoh yang kerap disebut sebagai salah satu “Bapak AI” dunia, kembali mengingatkan pemerintah agar mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan terjadinya ledakan kecerdasan (intelligence explosion). Istilah tersebut merujuk pada kondisi ketika sistem AI berkembang dengan sangat cepat dan mampu meningkatkan kemampuan intelektualnya secara signifikan, bahkan berpotensi melampaui kemampuan manusia dalam berbagai bidang (cnnindonesia.com, 30-9-2026).
Perkembangan tersebut tentu tidak selalu berarti ancaman. Kehadiran AI berpotensi membawa berbagai manfaat dalam menunjang kehidupan manusia. Dalam bidang medis, misalnya, AI dapat membantu menganalisis data kesehatan, mendukung proses penelitian, serta membantu tenaga medis dalam berbagai pekerjaan. Dalam bidang teknologi, pendidikan, industri, dan berbagai sektor lainnya, AI juga dapat meningkatkan efisiensi dan membuka berbagai kemungkinan baru.
Namun, perkembangan teknologi yang berlangsung dengan sangat pesat juga menimbulkan berbagai risiko yang perlu diperhatikan. Setidaknya terdapat sejumlah ancaman yang perlu diperhatikan. Pertama, AI berpotensi dimanfaatkan untuk memperbesar ancaman biologis dan siber. Kemampuan AI dalam mengolah informasi dan mengotomatisasi pekerjaan dapat digunakan untuk tujuan yang bermanfaat, tetapi pada saat yang sama dapat pula disalahgunakan untuk tindakan yang merugikan manusia.
Kedua, terdapat kekhawatiran mengenai semakin berkurangnya kendali dan keterlibatan manusia terhadap sistem AI yang semakin kompleks. Ketika keputusan penting semakin banyak diserahkan kepada sistem otomatis, muncul pertanyaan mengenai sejauh mana manusia masih mampu memahami, mengawasi, dan mengendalikan keputusan yang dihasilkan teknologi tersebut.
Ketiga, perkembangan AI juga dapat berhubungan dengan persoalan keamanan dan konflik antarnegara. Pengembangan teknologi AI dapat mendorong persaingan antarnegara dalam mencapai kepentingan ekonomi, militer, serta strategis masing-masing. Jika perkembangan tersebut tidak disertai aturan dan pengendalian yang memadai, teknologi AI berpotensi memperbesar risiko konflik dan peperangan.
Dengan demikian, perkembangan AI menunjukkan bahwa teknologi pada dasarnya memiliki dua sisi. Di satu sisi, teknologi dapat menjadi sarana untuk memberikan kemudahan dan menyelesaikan berbagai persoalan manusia. Di sisi lain, teknologi yang sama dapat digunakan untuk melakukan kejahatan dan menghasilkan kerusakan. Persoalannya bukan hanya terletak pada kecanggihan teknologi, tetapi juga pada siapa yang menguasainya, untuk tujuan apa teknologi tersebut digunakan, serta nilai dan aturan apa yang menjadi landasan penggunaannya.
Dalam perspektif Islam, kemampuan manusia untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak terlepas dari kedudukan manusia sebagai makhluk yang diberikan akal. Akal merupakan salah satu bentuk kemuliaan yang diberikan Allah kepada manusia agar manusia mampu memahami berbagai tanda kekuasaan-Nya sekaligus menjalankan tugas sebagai khalifah fil ardh, yaitu mengelola kehidupan di muka bumi sesuai dengan ketentuan Allah. Allah berfirman, “(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (TQS. Al-Baqarah: 30)
Karena itu, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi semestinya tidak dipandang sekadar sebagai pencapaian intelektual manusia. Perkembangan tersebut juga harus diarahkan agar tidak bertentangan dengan akidah dan syariat Islam. Islam memberikan perhatian terhadap berbagai hasil pemikiran manusia. Dalam perspektif pemikiran Islam, hasil pemikiran dan produk manusia dapat dilihat dari aspek hadarah, yaitu pemikiran yang berkaitan dengan pandangan hidup atau ideologi tertentu, dan madaniyah, yaitu produk material yang bersifat netral dan dapat dimanfaatkan selama tidak bertentangan dengan syariat.
AI merupakan salah satu buah perkembangan teknologi yang dibuat oleh manusia. Namun, AI tidak bekerja dalam ruang yang sepenuhnya bebas nilai. Sistem AI dikembangkan melalui data, informasi, algoritma, tujuan, serta keputusan manusia. Berbagai informasi dan pemikiran yang dimasukkan ke dalam sistem dapat memengaruhi hasil yang diberikan AI. Dengan kata lain, kecanggihan teknologi tidak secara otomatis menjadikan hasilnya selalu benar atau selalu memberikan kemaslahatan.
Di sinilah persoalan mendasar mengenai AI perlu ditempatkan. Teknologi yang sangat canggih tetap membutuhkan manusia yang memiliki panduan dalam menggunakannya. Jika teknologi digunakan oleh manusia yang memiliki akidah yang kokoh dan tunduk kepada syariat, AI dapat diarahkan sebagai sarana untuk memberikan kemaslahatan, membantu menyelesaikan persoalan manusia, dan mendukung berbagai aktivitas yang bermanfaat.
Sebaliknya, apabila pengembangan dan penggunaan AI tidak disertai dengan batasan moral serta hukum yang tegas, teknologi tersebut berpotensi dimanfaatkan untuk tujuan yang merusak. Orientasi terhadap keuntungan, kekuasaan, dominasi, atau kepentingan tertentu dapat memengaruhi arah pengembangan dan pemanfaatan teknologi. Oleh sebab itu, persoalan AI pada akhirnya bukan semata-mata persoalan teknologi, melainkan juga persoalan manusia, nilai, dan sistem kehidupan yang menjadi landasannya.
Ledakan kecerdasan AI dengan segala potensinya menunjukkan bahwa manusia membutuhkan arah dalam mengembangkan dan menggunakan teknologi. Kemajuan teknologi yang tidak disertai kendali nilai dapat menghadirkan risiko yang semakin besar seiring meningkatnya kemampuan teknologi tersebut.
Dalam Islam, kehidupan manusia tidak cukup hanya diatur oleh kemampuan akal dan perkembangan teknologi. Kehidupan juga membutuhkan pedoman yang berasal dari wahyu Allah. Akidah menjadi landasan pemikiran, sedangkan syariat menjadi aturan yang mengarahkan perbuatan manusia. Dengan demikian, AI dan perkembangan teknologi lainnya perlu dipandang sebagai instrumen yang digunakan untuk menunjang kehidupan manusia, bukan sebagai faktor yang menentukan arah kehidupan manusia.
Karena itu, tantangan terbesar dalam menghadapi perkembangan AI bukan hanya bagaimana membuat teknologi semakin cerdas, tetapi bagaimana memastikan kecerdasan tersebut digunakan untuk tujuan yang benar dan tidak membawa kerusakan. Teknologi semestinya berada dalam kendali manusia, sementara manusia sendiri harus berada dalam kendali aturan yang mampu menjaga kemaslahatan kehidupan.
Sehingga penerapan syariat dalam kehidupan menjadi landasan agar perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak berjalan tanpa arah. AI dapat menjadi bagian dari kemajuan peradaban apabila dikembangkan dan dimanfaatkan dalam kerangka yang sesuai dengan akidah dan syariat. Dengan demikian, kemajuan teknologi tidak sekadar menghasilkan manusia yang semakin canggih dalam menciptakan mesin, tetapi juga manusia yang mampu menggunakan kecerdasannya secara bertanggung jawab untuk menjaga kehidupan di muka bumi.
Via
OPINI
Posting Komentar