OPINI
Dilema, Kecanggihan AI akankan Menjadi Ancaman?
Oleh: Zahra Tenia
(Aktivis Muslimah)
TanahRibathMedia.Com—Kecanggihan teknologi telah melahirkan kecerdasan buatan / Artificial intelegence (AI) yang sangat berpengaruh positif bagi kehidupan manusia. Namun, baru-baru ini, para peneliti AI telah mengeluarkan peringatan serius mengenai dampak negatif dari keberadaan AI. Hasil riset akhir September 2026 oleh para peneliti AI yang juga melibatkan tokoh AI modern
Geoffrey Hinton dan Yoshua Bengio mewanti-wanti pemerintah agar bersiap menghadapi ledakan kecerdasan AI. Para peneliti mengungkap keresahan mereka terhadap kecerdasan AI yang kian tidak terkendali lagi oleh manusia. Riset tersebut berjudul "Bagaimana jika otomatisasi R&D AI memicu ledakan kecerdasan?" (CNNIndonesian, 30-9-2026).
Keresahan para peneliti bersandar dari fakta bahwa AI diprediksi dapat mengembangkan dirinya sendiri tanpa bantuan manusia, AI dapat menentukan tujuannya sendiri demi terselesaikannya sebuah tugas. Bapak AI Geoffrey Hinton pernah mengungkapkan dalam interviewnya di acara CBS Saturday Morning bahwa AI dapat menciptakan kepunahan manusia jika tidak diawasi secara ketat.
Meskipun AI dapat menyumbangkan kebaikan, misalkan bidang kesehatan dan teknologi lainnya, tidak dipungkiri ledakan kecerdasan dapat menghadirkan resiko munculnya ancaman biologis dan siber, hilangnya kendali dan keterlibatan manusia serta ancaman antar negara. Fakta ini tentu menjadi sebuah dilema besar, akankah AI yang dikembangkan terus dibiarkan ataukah sebaliknya, dihentikan karena membawa bahaya besar yang tidak dapat dikontrol oleh manusia?
Pengaruh Artificial Intelegence/ AI
Istilah Artificial Intelegence (AI) mulai dikenalkan pertama kali oleh John McCarthy dalam sebuah konferensi musim panas di Dartmouth College, pelao th 1956. Awal mula diciptakan, Al dimaksudkan untuk merancang ilmu komputer agar bisa berfikir layaknya manusia. Mengumpulkan data, menganalisis dan juga, mengambil keputusan. Ada banyak keuntungan ketika teknologi AI terus berkembang, ada banyak pekerjaan manusia yang terbantu dan bahkan tergantikan oleh AI.
Jika idealnya sebuah program / penelitian kesehatan memerlukan waktu lama dan juga tenaga ahli dibidangnya, namun dengan AI semua bisa dilakukan dengan minim persyaratan yang seharusnya dan dapat diselesaikan jauh lebih cepat .Dilansir dari kompas, (05-10-2026) telah ada penemuan obat baru oleh AI yakni Rentosertib yang berfungsi mengobati jaringan paru-paru yang terluka, obat ini sekarang masih dalam uji klinis fase 3.
Tidak hanya dalam lingkup kesehatan, pemanfaatan AI telah menjangkau berbagai bidang termasuk keuangan dan juga sektor ekonomi. Kedepannya manfaat AI akan terus semakin meluas dan menggantikan peran manusia, bahkan dalam sebuah ivent Ai Everything Abu Dhabi rencananya akan dibahas pemerintah berbasis AI, bisa dibayangkan AI akan semakin menguasai dunia.
Sisi negatif AI muncul ketika AI digunakan oleh segelintir orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Tidak dipungkiri hari ini banyak kejahatan dengan memanfaatkan AI untuk memanipulasi korban, peningkatan skala serangan siber dan juga kampanye disinformasi massal. Dampak negatif kecerdasan AI berikutnya adalah ketika ledakan AI terjadi, berupa kemampuan menyalin kode dirinya sendiri, memperbaiki diri dan menjadi super lebih canggih, tidak terkontrol oleh manusia, berbuat sesuai dengan logikanya sendiri, dan akhirnya menyusun sebuah cara yang berujung pada kesimpulan untuk tetap membahayakan manusia, tidak ada rasa peduli, etika ataupun moral dan rasa kasihan karena AI hanyalah robot. Semua keputusan dilogika sendiri berdasarkan data yang ada, dan dikerjakan demi efisiensi tugas yang diperintahkan.
Solusi Islam
AI adalah bagian dari ilmu dan teknologi yang status hukumnya mubah, boleh. AI berkedudukan sebagai wasilah/ alat yang memiliki potensi untuk dimanfaatkan dalam kebaikan maupun keburukan. Ketika terjadi ledakan kecerdasan oleh AI maka, jelas AI tidak lagi dapat dikontrol oleh manusia, artinya AI sepenuhnya akan mengambil alih peran manusia dalam kehidupan. Termasuk dalam kepemimpinan, dan pengaturan alam semesta. Jelas ini sesuatu yang haram, dan bertentangan dengan ajaran Islam.
Dalam Islam, peran Khalifah/ pemimpin diamanahkan kepada manusia sebagai makhluk ciptaan Allah yang sempurna, yang memiliki akal dan juga perasaan, berbeda dengan AI yang tidak memiliki akal dan perasaan. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al Anam:165
وَهُوَ الَّذِيْ جَعَلَكُمْ خَلٰۤىِٕفَ الْاَرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجٰتٍ لِّيَبْلُوَكُمْ فِيْ مَآ اٰتٰىكُمْ ۗ
Artinya:
“Dan Dialah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di bumi dan Dia meninggikan sebagian kamu atas sebagian yang lain beberapa derajat, untuk mengujimu atas apa yang diberikan-Nya kepadamu.”
Islam memberikan akal kepada manusia untuk menimbang semua perbuatannya dengan asas halal dan haram, dan pada AI tidaklah demikian. AI hanya berkedudukan sebagai alat oleh karenanya baik dan buruknya AI akan sangat tergantung pada siapa dan berada di sistem apa AI digunakan.
Berkaitan dengan tantangan ledakan kecerdasan AI maka Islam akan mewajibkan setiap ilmuwan muslim dan regulator muslim (baca:penguasa muslim) untuk membatasi dan menetapkan rem darurat pada AI sebelum sistem tersebut mencapai titik kritis yang mustahil dikontrol oleh manusia. Islam memberikan panduan kaidah fiqih terkenal: “Lā ḍarar wa lā ḍirār” (Tidak boleh mendatangkan bahaya dan tidak boleh membalas bahaya). Meski keberadaan AI sangat menguntungkan, namun jika ledakan AI membawa bahaya yang jauh lebih besar, maka pengembangan AI lebih baik dihentikan.
Khatimah
Dalam sistem Islam, keberadaan AI dan ledakan kecerdasnnya tidak perlu menjadi dilema. Melalui kontrol iman dan penerapan syari'at secara Kaffah, kedudukan AI akan tetap sebagaimana fungsi awalnya, yakni wasilah yang akan membantu pekerjaan manusia. Maka layaknya alat bantu yang lain, penggunaaanya akan tepat dan memberikan kemaslahatan bagi manusia bila diatur dengan sistem yang benar. Oleh karena itu perlu dihadirkan sistem sempurna yakni dengan kembalinya Islam dalam sistem Khilafah.
Wallahu alam bishowab.
Via
OPINI
Posting Komentar