OPINI
Aksi Walkout Delegasi Indonesia dan Kemunafikan Panggung Diplomasi Global
Oleh: Mei Widiati, M.Pd.
(Sahabat Tanah Ribath Media)
TanahRibathMedia.Com—Aksi walkout yang dilakukan oleh delegasi Indonesia bersama sejumlah perwakilan negara lain saat Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, hendak menyampaikan pidatonya dalam Sidang Majelis Umum PBB di New York menuai sorotan tajam publik. Langkah meninggalkan ruang sidang ini disuarakan sebagai bentuk protes keras terhadap kejahatan kemanusiaan dan genosida yang terus menerus dilancarkan oleh entitas Zionis terhadap rakyat Palestina (UIYOfficial, 29-9-2026).
Namun, di balik gegap gempita pujian atas aksi simbolik tersebut, akal sehat kita mesti bertanya: sejauh mana efektivitas sebuah aksi walkout menghentikan pembantaian di Gaza dan meruntuhkan cengkeraman penjajah? PBB terbukti hanyalah panggung retorika tanpa taring. Resolusi demi resolusi mandul di atas meja dewan keamanan, sementara darah kaum Muslimin terus tumpah setiap hari di tanah para anbiya.
Akar Masalah: Sekularisasi Politik Internasional dan Kapitalisasi Kepentingan Global
Mengapa dunia Islam seolah tak berdaya dan hanya bisa melakukan aksi-aksi simbolik yang nir-solusi seperti walkout? Jawabannya terletak pada cengkeraman dua penyakit mematikan: Sekularisasi Politik Internasional dan Kapitalisasi Sistem Global.
1. Sekularisasi Politik Internasional (Pemisahan Agama dari Kebijakan Luar Negeri): Sistem hubungan internasional hari ini dibangun di atas fondasi sekuler-nasionalis, di mana ikatan persaudaraan seiman (ukhuwah islamiyah) dicabut dan digantikan oleh batas-batas teritorial ciptaan kolonialis (Sykes-Picot). Negara-negara Muslim terjebak dalam sekat nasionalisme sempit, membuat mereka merasa cukup hanya dengan mengecam, beretorika, atau melakukan aksi walkout seremonial tanpa pernah mengerahkan kekuatan riil untuk membela saudara seakidah.
2. Kapitalisasi Sistem Global dan Standar Ganda PBB: Lembaga internasional seperti PBB bukanlah wadah keadilan, melainkan instrumen kapitalisme global yang dikendalikan oleh hegemoni negara-negara adidaya. Hukum internasional diterapkan secara tebang pilih; melindungi kepentingan oligarki global dan penjajah, namun membungkam hak-hak dasar kaum tertindas. Negara-negara terjebak dalam pragmatisme ekonomi dan politik transaksional, di mana hubungan dagang dan sokongan modal kerap kali lebih berharga ketimbang nyawa ribuan anak-anak Palestina.
Allah Swt. telah memperingatkan umat Islam agar tidak tertipu oleh persekongkolan musuh-musuh Allah dan lemahnya posisi tawar ketika meninggalkan hukum-Nya, sebagaimana firman-Nya dalam Surah Al-Anfal ayat 73:
"Dan orang-orang yang kafir, sebagian mereka melindungi sebagian yang lain. Jika kalian (kaum Muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar." (TQS. Al-Anfal: 73)
Solusi Islam: Menghapus Diplomasi Basa-Basi Menuju Kekuatan Militer dan Jihad Kaffah
Aksi walkout di ruang sidang PBB tidak akan pernah mampu menggentarkan nyali penjajah Zionis. Penjajah tidak paham bahasa diplomasi kosong; mereka hanya tunduk di hadapan kekuatan militer yang nyata.
1. Pengerahan Kekuatan Militer Menyeluruh (Jihad Fi Sabilillah): Islam menetapkan bahwa cara hakiki untuk mengusir penjajah dari tanah Palestina bukanlah dengan nota protes atau aksi keluar ruangan, melainkan dengan memobilisasi tentara kaum Muslimin untuk berjihad. Rasulullah saw. bersabda dalam hadis sahih:
"Perangilah kaum musyrikin dengan harta, jiwa, dan lisan kalian." (HR. Abu Dawud dan An-Nasai)
2. Menegakkan Kepemimpinan Global (Khilafah) Sebagai Pelindung Umat: Seluruh penderitaan dan kelemahan umat Islam hari ini berakar dari ketiadaan perisai pemersatu. Penegakkan kembali institusi Khilafah adalah harga mati. Di bawah naungan Khilafah, batas-batas negara bangsa akan dilebur, seluruh potensi militer negeri-negeri Muslim disatukan dalam satu komando agung, dan seluruh bentuk penjajahan di muka bumi akan dibersihkan sampai tuntas.
Aksi walkout di PBB hanyalah pelipur lara sementara di tengah panggung sandiwara global yang dikendalikan kaum kafir. Saatnya umat Islam bangkit meninggalkan sistem sekuler-kapitalis yang membelenggu, dan berjuang menegakkan syariat Islam secara kaffah demi menyongsong kemenangan hakiki dan pembebasan total Masjidil Aqsa!
Wallaahu a’lam bishshawwab.
Via
OPINI
Posting Komentar