OPINI
Palestina: Ketika Dunia Mulai Diam, Derita Tak Pernah Usai
Oleh: Amirah Desi
(Sahabat Tanah Ribath Media)
TanahRibathMedia.Com—Sejak 7 Oktober 2023, penahanan terhadap warga Palestina oleh Israel terus terjadi, termasuk terhadap perempuan. Setidaknya 700 perempuan Palestina dilaporkan ditahan, sebagian besar berasal dari Tepi Barat dan Yerusalem. Pada April 2026, sekitar 90 perempuan dilaporkan ditahan dan mengalami pemeriksaan yang merendahkan martabat. Di antara mereka terdapat anak di bawah umur, perempuan hamil, jurnalis, hingga pasien kanker (suarapalestina.id, 23-4-2026).
Penderitaan rakyat Palestina tidak berhenti pada penahanan. Serangan terhadap Gaza terus menyisakan ketakutan dan kehancuran. Bahkan kamp pengungsian yang seharusnya menjadi tempat perlindungan pun tidak luput dari serangan. Kamp Al-Shati, misalnya, dilaporkan menjadi sasaran bombardir yang menyebabkan sejumlah warga terluka dan berdampak pada puluhan keluarga yang tinggal di sana.
Selain itu, di Tepi Barat pun terjadi tindakan kekerasan terus terjadi. Gas air mata ditembakkan ke area Rumah Sakit Ramallah hingga menyebar ke fasilitas kesehatan. Kondisi tersebut tentu berisiko mengganggu pasien, tenaga medis, dan pelayanan kesehatan. Bahkan serangan terhadap warga sipil dilaporkan menyebabkan seorang bayi meninggal setelah menghirup gas air mata di Desa Al-Mughayyir, Tepi Barat.
Sungguh, kesaksian tentang perlakuan buruk di dalam tahanan makin menunjukkan beratnya situasi. Seorang aktivis asal Jerman yang ditahan Israel mengungkapkan pengalaman buruk selama berada dalam tahanan. Jika perlakuan semacam itu dapat dialami warga negara asing, bagaimana dengan rakyat Palestina yang hidup di bawah pendudukan dan minim perlindungan?
Ironisnya, pemberitaan mengenai Palestina kini tidak lagi memenuhi ruang media seperti sebelumnya. Akan tetapi, berkurangnya pemberitaan bukan berarti penderitaan telah berakhir. Bagi rakyat Palestina, ketakutan masih menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Di tengah kehancuran dan keterbatasan, mereka tetap harus bertahan tanpa kepastian tentang keselamatan diri, tempat tinggal, maupun masa depan keluarga.
Ketika perhatian dunia perlahan beralih, rakyat Palestina tetap hidup dengan luka, kehilangan, dan kecemasan. Berbagai pembicaraan mengenai gencatan senjata dan upaya mediasi terus berlangsung, tetapi penderitaan di lapangan belum benar-benar berakhir. Rakyat Palestina masih membutuhkan perlindungan dan bantuan nyata, bukan sekadar janji dan pernyataan.
Palestina dan Ikatan Akidah
Bagi umat Islam, Palestina bukan sekadar wilayah geografis atau persoalan politik antarnegara. Akan tetapi, Palestina memiliki kedudukan khusus dalam Islam karena di sanalah terdapat Masjid Al-Aqsa, yang disebut secara langsung dalam Al-Qur'an:
“Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya...” (TQS. Al-Isra: 1)
Masjid Al-Aqsa juga merupakan kiblat pertama kaum Muslim sebelum arah kiblat dialihkan ke Ka'bah. Karena itu, kecintaan terhadap Al-Aqsa bukan semata persoalan nasionalisme, tetapi memiliki akar dalam akidah dan sejarah Islam. Islam mengajarkan bahwa kaum Muslimin merupakan satu kesatuan. Rasulullah ï·º bersabda:
“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh sakit, seluruh tubuh ikut merasakan demam dan tidak bisa tidur.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa penderitaan seorang Muslim seharusnya menjadi perhatian bagi Muslim lainnya. Maka, penderitaan rakyat Palestina semestinya menggugah kepedulian umat dan para pemimpin Muslim.
Kepedulian yang Tidak Boleh Padam
Membela dan membantu saudara yang dizalimi tidak selalu berarti seseorang harus turun langsung ke medan konflik. Bagi masyarakat yang berada jauh dari Palestina dan tidak memiliki kapasitas untuk terlibat secara langsung, kepedulian dapat diwujudkan melalui doa, bantuan kemanusiaan melalui lembaga terpercaya, membantu pengungsi dan korban perang, serta menyebarkan informasi yang benar dan tidak menyesatkan.
Oleh karena itu, perhatian terhadap Palestina jangan sampai padam hanya karena pemberitaan media mulai berkurang. Sebab, bagi mereka yang berada di sana, penderitaan tidak berhenti ketika kamera dan media meninggalkan lokasi. Palestina bukan sekadar persoalan batas wilayah, tetapi bagi umat Islam, terdapat ikatan akidah yang menghubungkan kaum Muslimin dengan Masjid Al-Aqsa dan saudara-saudara mereka di Palestina.
Karena itu, ketika dunia mulai diam, umat Islam semestinya tidak ikut melupakan. Selama kezaliman dan penderitaan masih berlangsung, kepedulian harus tetap hidup.
Wallahu a'lam.
Via
OPINI
Posting Komentar