Telusuri
  • Pedoman Media
  • Disclaimer
  • Info Iklan
  • Form Pengaduan
Tanah Ribath Media
Pasang Iklan Murah
  • Home
  • Berita
    • Nasional
    • Lensa Daerah
    • Internasional
  • Afkar
    • Opini Tokoh
    • Opini Anda
    • Editorial
  • Remaja
    • Video
  • Sejarah
  • Analisa
    • Tsaqofah
    • Hukum
  • Featured
    • Keluarga
    • Pernikahan
    • Pendidikan Anak
    • Pendidikan Remaja
    • FiksiBaru
Tanah Ribath Media
Telusuri
Beranda OPINI Momentum Meneladani Metode Perjuangan Nabi ﷺ
OPINI

Momentum Meneladani Metode Perjuangan Nabi ﷺ

Tanah Ribath Media
Tanah Ribath Media
15 Sep, 2026 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp

Oleh: Rini Ummu Aisy
(Sahabat Tanah Ribath Media)

TanahRibathMedia.Com—Bulan Agustus menjadi salah satu momentum yang menghadirkan suasana kemenangan bagi rakyat Indonesia. Berbagai kegiatan dan perayaan digelar di berbagai tempat dengan penuh kegembiraan. Pada bulan yang sama, umat Islam juga memperingati momentum kelahiran Rasulullah ﷺ yang dirayakan di berbagai penjuru Indonesia dan di belahan dunia lainnya.

Setiap tahun, peringatan Maulid Nabi ﷺ diisi dengan berbagai kegiatan, seperti pembacaan shalawat, tabligh akbar, hingga pawai. Namun, tidak jarang substansi peringatan tersebut berhenti pada aspek ritual dan emosional semata. Kita sering menyaksikan pengajian yang berlangsung berjam-jam, bahkan hingga larut malam. Sayangnya, semangat mengikuti kegiatan tersebut terkadang tidak berlanjut dalam kehidupan sehari-hari. Ada kalanya jamaah begitu larut dalam euforia hingga lalai menunaikan shalat fardhu. Naudzubillahi min dzalik, semoga kita senantiasa dijauhkan dari hal demikian.

Pembahasan tentang ittiba’ kepada Rasulullah ﷺ dalam momentum Maulid sering kali hanya diarahkan pada keteladanan akhlak beliau. Padahal, keteladanan Rasulullah ﷺ juga mencakup perjuangan beliau dalam mengubah kehidupan masyarakat yang berada dalam kondisi jahiliyah—yakni kehidupan yang dipenuhi penghambaan kepada selain Allah, dunia, dan hawa nafsu—menuju kehidupan yang menjadikan penghambaan hanya kepada Allah Swt.

Tuntutan untuk melakukan perubahan sebenarnya telah tumbuh di tengah umat Islam. Namun, arah perubahan dan metode yang ditempuh masih belum sepenuhnya merujuk pada metode perjuangan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ.

Kecintaan kepada Rasulullah ﷺ tidak semestinya hanya diwujudkan melalui ungkapan di lisan atau berbagai bentuk perayaan. Kecintaan tersebut seharusnya melahirkan keterikatan terhadap risalah yang beliau bawa sekaligus kesungguhan untuk mengikuti petunjuknya.

Allah Swt. berfirman:

“Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (TQS. Ali ‘Imran: 31)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa kecintaan kepada Allah Swt. memiliki konsekuensi, yaitu mengikuti Rasulullah ﷺ. Dengan demikian, cinta bukan sekadar pengakuan, melainkan harus dibuktikan melalui ketaatan dan ittiba’ kepada beliau.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih dia cintai daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis tersebut menegaskan bahwa kecintaan kepada Rasulullah ﷺ bukan sekadar ucapan yang keluar dari lisan. Kecintaan itu harus tertanam dalam hati dan diwujudkan dalam kehidupan nyata dengan berusaha mengikuti ajaran serta petunjuk yang beliau bawa.

Di tengah kehidupan umat saat ini, kesadaran bahwa penghambaan kepada selain Allah masih berlangsung secara sistemik sering kali terabaikan. Demokrasi, kapitalisme, dan liberalisme dipandang sebagai sistem kehidupan yang menjadikan kepentingan duniawi dan hawa nafsu sebagai salah satu orientasi utama kehidupan.

Sistem kapitalisme, demi mempertahankan keberlangsungannya, akan terus menghadapi berbagai gagasan yang menghendaki perubahan terhadap sistem tersebut. Karena itu, suara umat Islam yang menyerukan perubahan kehidupan berdasarkan Islam akan menghadapi berbagai tantangan.

Atas dasar itu, makna ittiba’ kepada Rasulullah ﷺ perlu dikembalikan pada pemahaman yang menyeluruh. Ittiba’ tidak hanya diwujudkan melalui ritual dan kecintaan secara emosional, tetapi juga melalui keterikatan kepada syariat dan keteladanan terhadap perjuangan Rasulullah ﷺ. Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Ali ‘Imran ayat 31, kecintaan kepada Allah harus dibuktikan dengan mengikuti Rasulullah ﷺ.

Penerapan sistem kapitalisme-sekuler di negeri-negeri Muslim mendorong umat Islam untuk berupaya menghadirkan kehidupan yang berlandaskan syariat Islam secara kaffah melalui kepemimpinan Islam (Khilafah), sebagaimana perjuangan dakwah yang dicontohkan Rasulullah ﷺ di Makkah.

Allah Swt. berfirman:

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (TQS. Al-Ahzab: 21)

Rasulullah ﷺ telah memberikan contoh dalam menjalankan dakwah dan perjuangan. Dalam kerangka metode perjuangan yang menjadi pembahasan tulisan ini, tahapan tersebut dikenal dengan tiga marhalah, yaitu tatsqif, tafa'ul ma'al ummah, dan istilamul hukmi (penerimaan kekuasaan). Melalui metode tersebut, kehidupan Islam diharapkan dapat kembali tegak sehingga Islam benar-benar hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Allah Swt. berfirman:

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.” (TQS. Al-Anbiya: 107)

Oleh karena itu, momentum Maulid Nabi ﷺ semestinya tidak berhenti pada kemeriahan acara, pembacaan shalawat, tabligh akbar, maupun pawai semata. Momentum ini hendaknya menjadi sarana untuk kembali memahami risalah yang dibawa Rasulullah ﷺ, menumbuhkan kecintaan yang benar kepada beliau, serta berusaha mengikuti petunjuk dan keteladanan beliau dalam kehidupan.

Sebab, mencintai Rasulullah ﷺ berarti berusaha menaati dan mengikuti ajaran yang beliau bawa. Kecintaan tersebut semestinya melahirkan ittiba’ yang nyata dalam kehidupan seorang Muslim.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Via OPINI
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar

- Advertisment -
Pasang Iklan Murah
- Advertisment -
Pasang Iklan Murah

Featured Post

Perempuan dan Generasi Menanggung Beban Berlapis Akibat Karhutla

Tanah Ribath Media- September 15, 2026 0
Perempuan dan Generasi Menanggung Beban Berlapis Akibat Karhutla
TanahRibathMedia.Com— Karhutla di Kalimantan sudah menjadi musibah tahunan yang belum ada solusinya sampai hari ini, akibat pembukaan lahan yang ma…

Most Popular

Karhutla Berulang: Bencana yang Disengaja?

Karhutla Berulang: Bencana yang Disengaja?

September 09, 2026
Meneladani Kepemimpinan Rasulullah dalam Menghadapi Musibah

Meneladani Kepemimpinan Rasulullah dalam Menghadapi Musibah

September 09, 2026
Al-Qur'an Petunjuk untuk Kita Semua

Al-Qur'an Petunjuk untuk Kita Semua

September 09, 2026

Editor Post

Tak Habis Pikir

Tak Habis Pikir

Juni 11, 2023
Lebih dari 70 Muslimah Hadiri Talk Show Kajian Risalah Akhir Tahun 2023

Lebih dari 70 Muslimah Hadiri Talk Show Kajian Risalah Akhir Tahun 2023

Januari 01, 2024
Anak Terjerat Prostitusi Online, Dimana Perlindungan Negara?

Anak Terjerat Prostitusi Online, Dimana Perlindungan Negara?

Agustus 06, 2024

Popular Post

Karhutla Berulang: Bencana yang Disengaja?

Karhutla Berulang: Bencana yang Disengaja?

September 09, 2026
Meneladani Kepemimpinan Rasulullah dalam Menghadapi Musibah

Meneladani Kepemimpinan Rasulullah dalam Menghadapi Musibah

September 09, 2026
Al-Qur'an Petunjuk untuk Kita Semua

Al-Qur'an Petunjuk untuk Kita Semua

September 09, 2026

Populart Categoris

Tanah Ribath Media

Tentang Kami

Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Contact us: contact@gmail.com

Follow Us

Copyright © 2023 Tanah Ribath Media All Right Reserved
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Advertisement
  • Contact Us