OPINI
Menggali Makna Maulid
Oleh: Nurul Lailiya
(Aktivis Muslimah)
TanahRibathMedia.Com—Ketika Shafar telah usai, Rabi'ul Awal akhirnya tiba. Sebuah bulan yang mulia karena pada bulan itu sang pemimpin umat Islam sedunia dilahirkan tepatnya pada tanggal 12 Rabi'ul Awal. Beliaulah Nabi Muhammad saw. Sebagai peringatan atas kelahiran Beliau umat Islam melaksanakannya dengan mengadakan maulid.
Pada masa Rasulullah saw. dan sahabat tidak pernah ada peringatan khusus terkait kelahiran Beliau. Nabi Muhammad saw. justru berpuasa setiap hari Senin, hari saat Beliau lahir dan hari pertama wahyu diturunkan. Para sahabat juga banyak yang mengikuti Nabi untuk berpuasa di hari Senin. Di luar itu para sahabat selalu fokus mengikuti ajaran dan sunnah Beliau yang lain.
Menurut catatan sejarah, perayaan maulid sebagai hari kelahiran Nabi Muhammad saw. dimulai 300 tahun setelah hijrah yaitu oleh dinasti Fathimiyah di Mesir. Dalam perkembangannya perayaan Maulid Nabi pun menyebar di seluruh dunia di antaranya Malaysia, Mesir, Turki, Pakistan, India, dan Indonesia.
Kegiatan yang diselenggarakan untuk mengisi maulid biasanya berupa pembacaan sholawat, tabligh akbar bahkan pawai. Akan tetapi peringatan itu hanya sebatas rutinitas tahunan yang fokusnya hanya seputar semangat spiritualitas dan pengerahan massa tapi tidak pernah menyentuh inti dari misi kelahiran Nabi Muhammad saw. itu sendiri.
Para da'i pengisi tabligh akbar selalu mengangkat sosok Nabi Muhammad dari sisi keluhuran akhlak, kemuliaan derajat serta kehebatan mu'jizat dan karomah Beliau saja dan itu berlangsung setiap tahun tiap kali peringatan maulid diadakan. Maka tidak sedikit jama'ah yang sudah hafal dengan alur ceramah para da'i tersebut.
Jama'ah tidak pernah dikenalkan Nabi Muhammad saw. sebagai sosok yang menyampaikan syari'at Islam yang kemudian tercantum dalam Al Quran dan Al Hadist sebagai rangkaian aturan hidup di bidang ekonomi, sosial, politik dan keamanan agar mendapatkan berkah dari Allah Swt. karena sebelum Nabi Muhammad diutus, kehidupan ekonomi, sosial, politik dan keamanan umat berada dalam kekacauan.
Akan lebih baik bila para da'i juga menyadarkan jama'ah pada kedudukan Al Qur'an yang sesungguhnya. Bahwa Al Qur'an adalah wahyu Allah Swt. yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw dengan perantara Malaikat Jibril sebagai petunjuk untuk mengatur kehidupan yang kacau itu hingga menjadi kehidupan yang penuh berkah. Al Qur'an adalah panduan hidup yang lengkap dan tidak hanya sebuah kitab suci yang dibaca dan dihafal tapi isinya hanya dijalankan sebagian sementara bagian isi yang lain ditinggalkan.
Patut pula para da'i itu merefleksikan keadaan umat Islam saat ini. Ajak para jama'ah untuk berpikir bahwa keadaan kita saat ini boleh dibilang sama dengan keadaan umat manusia saat Nabi Muhammad belum diutus. Riba tersebar luas, minuman keras dijual bebas, judi merajalela, pajak kian mencekik bahkan prostitusi difasilitasi. Sementara itu harga kebutuhan pokok melangit, layanan Pendidikan, dan kesehatan sulit dijangkau. Banjir, gempa, dan kebakaran hutan juga melanda negeri yang masyarakatnya mayoritas umat Islam. Tuntun masyarakat untuk menyadari bahwa semua kesengsaraan itu akibat dari kelalaian manusia dalam menjalankan aturan hidup dari Allah Swt.
Para da'i sebaiknya menyadarkan umat bahwa selama ini mereka memang menyandang identitas sebagai pemeluk agama Islam namun mereka tidak hidup dalam aturan Islam yang berasal dari Allah Swt tapi dari aturan kapitalistik sekuler buatan manusia. Padahal Allah Swt. telah mengingatkan kita dalam surat Al Maidah ayat 50 yang artinya:
“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang meyakini agamanya?”
Maka bila kita merasa sudah yakin dengan kebenaran Islam dan menjadi pengikut Nabi Muhammad saw, mari bersama-sama kita hempaskan sistem kapitalis sekuler ini jauh-jauh dan menggantinya dengan sistem yang berhak mengatur kita yaitu sistem Islam yang datang dari kasih sayang Allah.
Via
OPINI
Posting Komentar