SP
Maulid Nabi: Momentum Ittiba kepada Nabi saw.
Oleh: Nani
(Sahabat Tanah Ribath Media)
TanahRibathMedia.Com—Pembahasan ittiba' kepada Nabi Muhammad saw. pada momentum maulid masih dibatasi hanya pada keteladanan akhlak, belum sampai menyentuh kesadaran mengubah sistem jahiliyah (penghambaan pada dunia dan hawa nafsu) menuju sistem Islam yang menegakkan penghambaan hanya kepada Allah Swt.. Salah satu agenda utamanya adalah Gema Sholawat Kebangsaan, gerakan nasional yang mengajak masyarakat memperkuat kecintaan kepada Rasulullah saw. Direktur Penerangan Agama Islam Kementerian Agama Muchlis M. Hanafi, mengatakan Gema Selawat Kebangsaan dirancang sebagai ruang bersama untuk menghidupkan tradisi sholawat sekaligus meneladani akhlak Rasulullah saw. dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Menurutnya, Rabiul awal adalah momentum untuk memperbanyak sholawat dan memperkuat kecintaan kepada Rasulullah saw. Tetapi cinta tidak cukup berhenti pada lantunan sholawat. Cinta harus dibuktikan dengan menjadikan keteladananan serta memunculkan akhlak Rasulullah dengan penuh kasih sayang, persaudaraan yang erat, kepedulian terhadap sesama, serta kecintaan terhadap tanah air (Nasional.sindonews.com, 23-8-2026).
Tuntutan perubahan sebenarnya telah muncul di kalangan umat Islam, namun arah dan metodenya masih sangat jauh dari metode R@
Rasulullah. Setiap tahun umat Islam memperingati maulid nabi dengan berbagai perayaan. Pembacaan sholawat, tabligh Akbar, bahkan pawai, namun substansinya kerap hanya berhenti pada aspek ritual dan emosional.
Sungguh umat saat ini kehilangan kesadaran bahwa penghambaan kepada selain Allah masih terus berlangsung secara sistemik, melalui demokrasi, kapitalisme, dan liberalisme yang menjadikan dunia dan hawa nafsu sebagai tujuan hidup. Maulid tereduksi menjadi ekspresi kecintaan tanpa konsekuensi ideologis, sedangkan cinta terhadap Rasulullah saw. harus mewujudkan kesinambungan terhadap perjuangan serta risalah yang dibawa beliau. Tetapi sistem kapitalisme demi menjaga dan mempertahankan eksistensinya, akan senantiasa terus berusaha menghalangi suara kebangkitan umat Islam yang menuntut perubahan sistem. Semua ini terjadi pada umat karena memang buah dari diterapkannya sistem kapitalisme yang secara sengaja menjauhkan umat dari makna memperingati maulid nabi Muhammad saw. yang sebenarnya. Sudah tampak di tengah-tengah kita kegagalan sistem kapitalisme.
Metode perjuangan Rasulullah saw. sangat jelas ditempuh melalui tiga tahapan: Tasqif (pembinaan pada umat), tafa'ul ma'al ummah (melebur di tengah-tengah umat), dan istilamul hukmi (penerima kekuasaan). Dengan metode tahapan inilah kehidupan Islam akan tegak kembali, sehingga Islam akan benar-benar hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam. Allah Swt. berfirman:
"Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam." (TQS. Al-Anbiya 21: Ayat 107).
Penerapan sistem kapitalisme sekuler di negeri-negeri muslim mewajibkan seluruh umat Islam memperjuangkan penerapan syariat kaffah melalui kepemimpinan Islam (khilafah) sebagai mana dakwah yang dicontohkan Rasulullah saw. di Makkah. Sehingga mengembalikan makan ittiba' sebagai keterikatan pada syariat dan metode perjuangan Rasulullah saw. bukan hanya sekedar ritual saja.
Sudah saatnya kita bangkit, semakin semangat, berusaha dan berjuang untuk saling memahamkan pemahaman Islam yang utuh sesuai dengan risalah Rosulullah saw. agar Islam segera tegak kembali di muka bumi ini untuk mengtur seluruh aspek kehidupan.
Wallahu'allam bish-shawab.
Via
SP
Posting Komentar