Nasional
Ahmad Sastra: Frasa "Islam ala Prabowo" secara Perspektif Bahasa Merupakan Bentuk Personifikasi Agama
TanahRibathMedia.Com—Ketua Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa (FDMPB) Dr. Ahmad Sastra mengkritik munculnya frasa "Islam ala Prabowo" yang digunakan sebagai judul sebuah buku yang membahas bagaimana nilai-nilai Islam dipandang tercermin dalam kehidupan dan kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
“Frasa "Islam ala Prabowo" dari perspektif filsafat bahasa merupakan bentuk personifikasi melalui penyandingan nama agama dengan nama seorang tokoh,” ulasnya dalam web ahmadsastra.com bertajuk: Kajian Linguistik dan Analisis Wacana atas Frasa “Islam ala Prabowo” yang diterima pada Ahad (6-9-2026).
Menurutnya, sebagian pembaca, memahaminya hanya sebagai gaya bahasa untuk menjelaskan praktik keberagamaan seseorang. Namun, bagi pembaca lain, katanya, frasa tersebut berpotensi menimbulkan kesan bahwa terdapat bentuk atau varian Islam yang dikaitkan dengan identitas personal tertentu.
“Perbedaan tafsir inilah yang menjadi sumber perdebatan publik. Secara epistemologis, agama memiliki kedudukan yang berbeda dengan pengalaman individual. Islam adalah sistem ajaran yang bersifat normatif, sedangkan pengalaman seorang Muslim, termasuk seorang pemimpin, adalah ekspresi atau praktik keberagamaan yang selalu terbuka untuk dievaluasi,” bebernya.
Jika maksudnya adalah mendeskripsikan praktik keberagamaan seorang tokoh, sarannya, diksi yang lebih presisi secara konseptual adalah, misalnya, "Cara Prabowo Mengamalkan Ajaran Islam" atau "Berislam menurut Praktik Prabowo", karena subjeknya adalah praktik seseorang, bukan substansi Islam itu sendiri.
“Ini lebih tepat sebagai judul buku agar tak meninggalkan polemik baru. Labelisasi Islam untuk person apalagi presiden akan meninggalkan dampak buruk yang panjang,” tandasnya.
Presiden, siapapun itu, urainya, selama negeri ini menerapkan sistem sekularisme, maka para pemimpin di negeri ini juga tak pernah menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai sumber aturan dan perundang-undangan.
“Dalam perspektif epistemologi Islam, agama adalah sistem nilai yang bersumber dari wahyu dan memiliki rujukan normatif yang tetap. Karena itu, penyandingan nama agama dengan figur politik memerlukan kehati-hatian agar tidak menimbulkan kesan bahwa substansi agama bergantung pada individu tertentu,” pungkasnya.[] Erlina
Via
Nasional
Posting Komentar