OPINI
Buta Aksara di Negeri yang Memuliakan Ilmu
Oleh: Faidah Alfiyah
(Sahabat Tanah Ribath Media)
TanahRibathMedia.Com—Kemajuan suatu bangsa tidak bisa dilepaskan dari kemampuan masyarakatnya dalam membaca dan menulis. Namun, ironisnya, di negeri yang memiliki semboyan "cerdas dan berkarakter" ini, masalah buta aksara masih menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, jumlah penduduk usia 15 tahun ke atas yang buta aksara di Indonesia mencapai 1,97 juta orang. Angka ini memang menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya, tetapi masih sangat besar.
Lebih memprihatinkan lagi, masalah ini juga menyasar anak usia sekolah dasar. Data BPS dan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menunjukkan bahwa pada tahun 2023 terdapat sekitar 4,3% anak SD kelas 1-3 yang belum lancar membaca. Artinya, dari setiap 100 anak, ada 4-5 anak yang masih kesulitan mengeja kata sederhana. Padahal membaca adalah kunci untuk mengakses semua ilmu di jenjang selanjutnya.
Pemerintah sebenarnya sudah mengalokasikan dana yang tidak sedikit untuk sektor pendidikan. Sesuai amanat UUD 1945 Pasal 31 ayat 4, anggaran pendidikan minimal 20% dari APBN. Pada APBN 2024, alokasi untuk fungsi pendidikan mencapai Rp665,2 triliun. Dana ini digelontorkan untuk berbagai program, seperti Bantuan Operasional Sekolah (BOS), Program Indonesia Pintar (PIP), Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K), pembangunan sekolah, pelatihan guru, hingga program pemberantasan buta aksara melalui pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM).
Jumlahnya sangat besar. Harapannya, dengan dana sebesar ini, masalah buta aksara bisa segera selesai. Sayangnya, besarnya anggaran tidak berbanding lurus dengan hasil yang dicapai. Beberapa faktor penyebabnya antara lain:
1. Ketimpangan akses dan kualitas. Sekolah di kota dan di daerah 3T ( Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) memiliki kualitas yang sangat berbeda. Banyak anak putus sekolah karena faktor ekonomi dan jarak.
2. Kurangnya peran keluarga. Literasi dasar dimulai dari rumah. Namun tidak semua orang tua memiliki waktu dan kemampuan untuk mendampingi anak membaca.
3. Program yang belum tepat sasaran. Program pemberantasan buta aksara untuk orang dewasa sering berhenti di tengah jalan karena kurangnya motivasi peserta dan kurangnya tindak lanjut.
4. Krisis keteladanan. Ketika budaya membaca tidak lagi menjadi gaya hidup masyarakat, maka anak-anak pun tumbuh tanpa meneladani kebiasaan itu.
Akibatnya, kita masih melihat anak lulus SD tetapi belum bisa membaca, dan orang dewasa yang hanya bisa menandatangani nama dengan cap jempol.
Islam adalah Solusi Hakiki untuk Menghapus Buta Aksara
Islam adalah agama yang sangat memuliakan ilmu. Wahyu pertama yang turun bukanlah tentang ibadah mahdah, tetapi perintah untuk membaca. Allah Ta'ala berfirman dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1-5:
"Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia. Yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya."
Ayat ini adalah deklarasi bahwa membaca adalah pondasi peradaban. Islam tidak hanya memerintahkan umatnya untuk membaca, tetapi juga mewajibkan menuntut ilmu. Rasulullah ï·º bersabda:
"Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim." (HR. Ibnu Majah)
Islam bisa menjadi solusi untuk masalah buta aksara ini yaitu:
1. Membangun kesadaran spiritual. Ketika membaca dikaitkan dengan ibadah dan perintah Allah, maka motivasinya bukan lagi sekadar ijazah atau pekerjaan. Orang tua akan semangat mengajari anaknya mengaji dan membaca karena itu adalah amal jariyah.
2. Menghidupkan majelis ilmu di masyarakat. Dulu masjid dan pesantren adalah pusat peradaban dan literasi. Tradisi mengaji, halaqah, dan membaca kitab harus dihidupkan kembali. Anak-anak diajarkan membaca Al-Qur'an sejak dini, yang otomatis melatih kemampuan membaca.
3. Menanamkan qanaah dan tanggung jawab. Islam mengajarkan bahwa setiap orang tua adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Dengan begitu, orang tua akan merasa berdosa jika membiarkan anaknya tidak bisa membaca.
4. Zakat dan wakaf untuk pendidikan. Dana umat yang besar melalui zakat, infak, dan wakaf bisa digerakkan untuk membangun rumah baca, menyediakan guru ngaji gratis, dan beasiswa bagi anak yang kesulitan biaya sekolah.
Buta aksara bukan hanya masalah teknis, tetapi juga masalah iman dan kepedulian. Ketika setiap muslim merasa bahwa mengajarkan satu huruf kepada saudaranya adalah pahala, maka insyaAllah masalah ini akan selesai. Data BPS menunjukkan PR kita masih banyak. Dana APBN sudah besar, tetapi hasilnya belum optimal. Saatnya kita kembali kepada solusi yang paripurna yaitu Islam.
Dengan menjadikan "Iqra" sebagai gerakan bersama, dari keluarga, masjid, sekolah, hingga pemerintah, maka cita-cita Indonesia bebas buta aksara bukan lagi mimpi. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang mencintai ilmu, dan umat yang mulia adalah umat yang membaca.
Wallahu a'lam bissawab.
Via
OPINI
Posting Komentar