PUISI
Lebaran yang Tak Lagi Sama
Oleh: Eka Sulistya
TanahRibathMedia.Com—Takbir berkumandang,
orang-orang saling berpelukan,
tawa bertebaran di setiap sudut rumah
tapi tidak di hatiku.
Ada yang hilang, Bu
Bukan sekadar kehadiran,
tapi jiwa dari rumah ini.
Dulu, kau adalah awal dari segalanya
yang paling pagi terbangun,
yang paling sibuk tanpa mengeluh,
yang diam-diam menyelipkan doa
di setiap langkah kami.
Kini, waktu tetap berjalan,
hari raya tetap datang,
namun rasanya…
semuanya hanya sekadar terjadi,
tanpa makna yang utuh.
Tak ada lagi suaramu
yang memanggil dengan penuh kasih.
Tak ada lagi tangan hangat
yang kami raih penuh hormat.
Aku baru mengerti sekarang
rumah bukan tentang dinding dan atap,
tapi tentang siapa yang menunggu di dalamnya.
Dan sejak kau tiada,
rumah ini tak lagi benar-benar sama.
Di hari yang seharusnya penuh bahagia ini,
aku hanya bisa menengadah,
membisikkan doa yang tak pernah selesai:
“Ya Allah, jaga ibuku dalam kasih-Mu,
terangi tempat peristirahatannya,
dan pertemukan kami kelak
di tempat terbaik yang Engkau janjikan.”
Bu…
kami masih di sini,
melanjutkan hidup dengan cara kami,
meski sering kali harus pura-pura kuat.
Dan jika rindu ini punya arah,
maka setiap takbir yang bergema
akan selalu membawanya pulang kepadamu.
Lebaran ini…
bukan tentang apa yang kami miliki,
tapi tentang siapa yang tak lagi bisa kami peluk.
Untukmu, Bu
yang namanya tak pernah absen
dalam setiap doa.
Via
PUISI
Posting Komentar