OPINI
Arus Balik, Arus Masalah: Urbanisasi sebagai Bukti Gagalnya Sistem
Oleh: Yulfianis
(Ibu Rumah Tangga dan Aktivis Dakwah)
TanahRibathMedia.Com—Idulfitri seharusnya menjadi momentum spiritual kemenangan setelah sebulan menundukkan hawa nafsu. Namun dalam realitas kapitalistik hari ini, Lebaran justru berubah menjadi ajang reproduksi kesenjangan sosial. Para perantau pulang dengan simbol-simbol “kesuksesan kota” pakaian mewah, gaya hidup konsumtif, dan cerita kehidupan yang tampak gemerlap.
Tanpa disadari, ini bukan sekadar silaturahmi, melainkan proses ideologis yang menanamkan satu keyakinan berbahaya bahwa kesejahteraan hanya bisa diraih di kota. Dari sinilah urbanisasi menemukan momentumnya bukan sekadar perpindahan fisik, tetapi perpindahan cara pandang hidup.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), angka Net Recent Migration (Migrasi Risen Neto) Indonesia tahun 2025, secara nasional, migrasi risen neto tercatat sekitar 1.2 juta jiwa, menandakan arus masuk ke kota lebih besar daripada arus keluar. BPS juga mencatata, dari total jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 287.6 juta jiwa pada tahun 2025, sekitar 54.8 persen penduduk tinggal di perkotaan, sementara 45.2 persen sisanya tinggal di pedesaan (www.metrotvnews.com, 20-03-2026).
Kota: Magnet Palsu Bernama “Kesuksesan”
Kapitalisme telah menjadikan kota sebagai pusat segala hal yaitu ekonomi, pendidikan, industri, hingga hiburan. Desa dipinggirkan, bukan karena tak punya potensi, tetapi karena memang tidak dirancang untuk berkembang.
Akibatnya, masyarakat desa didorong secara sistemik untuk meninggalkan kampung halaman mereka. Mereka datang ke kota dengan harapan besar, namun yang menanti justru kenyataan pahit. Lapangan kerja terbatas, biaya hidup tinggi, dan persaingan brutal menciptakan kemiskinan urban yang sistemik. Kota dalam sistem kapitalisme bukanlah ruang kesejahteraan, melainkan arena kompetisi bebas yang hanya dimenangkan oleh mereka yang memiliki modal.
Allah Swt. berfirman:
“Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir…”. (TQS. Al-Baqarah: 212)
Ayat ini menyingkap hakikat gemerlap dunia yang tampak indah sering kali hanyalah ilusi yang menipu manusia.
Desa Ditinggalkan, Kota Dihancurkan
Urbanisasi besar-besaran melahirkan dua kerusakan sekaligus yaitu: pertama, desa kehilangan generasi mudanya. Lahan terbengkalai, inovasi terhenti, dan potensi lokal mati perlahan. Padahal desa memiliki sumber daya yang cukup untuk mandiri, pertanian, peternakan, dan kehidupan sosial yang kuat.
Kedua, kota mengalami ledakan masalah sosial yaitu pemukiman kumuh, pengangguran, kriminalitas, hingga dehumanisasi manusia.
Ini bukan kebetulan. Ini adalah konsekuensi logis dari sistem yang membiarkan distribusi kekayaan timpang dan pembangunan terpusat.
Kapitalisme: Akar Ideologis Ketimpangan
Masalah urbanisasi bukan sekadar ekonomi, tetapi ideologi. Kapitalisme menanamkan tiga prinsip utama yang merusak yaitu Kebebasan kepemilikan tanpa batas, kekayaan menumpuk pada segelintir orang. Pertumbuhan sebagai tujuan utama pembangunan hanya fokus pada pusat ekonomi. Materialisme sebagai standar hidup manusia diukur dari apa yang dimiliki, bukan siapa dirinya. Akibatnya, desa tidak dianggap penting kecuali sebagai penyedia tenaga kerja murah dan sumber daya mentah.
Allah Swt. menegaskan:
“Supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.” (TQS. Al-Hasyr: 7)
Namun kapitalisme justru melakukan sebaliknya yaitu memusatkan kekayaan, memperlebar jurang, dan menciptakan ketergantungan desa kepada kota.
Negara Gagal, Rakyat Menanggung Beban
Dalam sistem hari ini, negara lebih berperan sebagai fasilitator kepentingan modal daripada pengurus rakyat. Program pembangunan desa sering kali hanya bersifat kosmetik tidak menyentuh akar persoalan.
Anggaran terserap di pusat, proyek dikuasai elit, sementara desa hanya menerima sisa. Akibatnya infrastruktur desa tertinggal, lapangan kerja minim, pendidikan dan kesehatan tidak merata
Ini bukan sekadar kelalaian, tetapi kegagalan sistemik dalam mengurus rakyat.
Rasulullah ï·º bersabda:
“Imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menjadi standar yang jelas yang hari ini justru diabaikan.
Islam: Solusi Ideologis yang Menyeluruh
Islam tidak sekadar menawarkan solusi teknis, tetapi solusi ideologis yang mendasar. Dalam sistem Islam Negara wajib memenuhi kebutuhan dasar setiap individu. Pembangunan dilakukan merata, sumber daya alam dikelola sebagai milik umum. Distribusi kekayaan dijaga agar tidak timpang.Tidak ada dikotomi desa dan kota, karena keduanya mendapatkan pelayanan yang sama dari negara. Sejarah mencatat bagaimana Umar bin Khattab turun langsung memastikan tidak ada rakyatnya yang kelaparan. Ini bukan romantisme sejarah, tetapi bukti bahwa sistem Islam mampu menghadirkan keadilan nyata.
Saatnya Menggugat Sistem, Bukan Sekadar Gejala
Urbanisasi Lebaran bukan sekadar fenomena tahunan ia adalah alarm keras atas rusaknya sistem yang kita gunakan hari ini. Selama kapitalisme tetap menjadi fondasi, maka desa akan terus ditinggalkan, Kota akan semakin sesak, Kesenjangan akan makin tajam.
Solusi bukan sekadar membangun desa atau membatasi urbanisasi, tetapi mengganti sistem yang melahirkan ketimpangan itu sendiri. Hanya dengan kembali pada sistem yang adil yang bersumber dari wahyu keseimbangan antara desa dan kota dapat terwujud.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Via
OPINI
Posting Komentar