IBRAH
Cintai Takdirmu, Maka Tenang Tiap Hari
Oleh: Kartika Soetarjo
(Sahabat Tanah Ribath Media)
Sahabat fillah, kita santai sejenak, yuk!
TanahRibathMedia.Com—Dulu, di sebuah desa, tinggallah sepasang suami istri yang baru saja dianugerahi keturunan setelah lama sabar dalam penantian. Suatu hari, rumah mereka kedatangan seorang peramal yang diyakini oleh penduduk setempat bahwa ramalannya selalu benar. Peramal tersebut mengatakan bahwa anak mereka akan menemukan ajalnya dengan cara dimakan buaya.
Sontak saja, suami istri itu kaget.
Semenjak mendengar perkataan peramal, suami istri itu menjaga ketat putra semata wayangnya. Mereka menerapkan peraturan yang menurut mereka akan menyelamatkan putranya.
Tidak boleh pergi ke sungai. Tidak boleh ke rawa. Tidak boleh pergi ke laut, pokoknya anak mereka tidak boleh pergi ke tempat-tempat yang menurut mereka mengandung buaya.
Singkat cerita, besarlah anak mereka. Dan satu hari sang anak bertanya, apa alasan orang tuanya selalu melarang dirinya pergi ke tempat-tempat tersebut.
Karena dirasa sudah waktunya harus tahu, maka diceritakanlah perkataan peramal waktu itu, kepada anaknya.
Akibat selalu dikurung, dan nyaris tidak pernah bergaul dengan siapa pun, sang anak pun tidak tahu, seperti apa buaya itu. Takdir Allah, di rumah mereka itu ada gambar buaya yang menempel di dinding kayu rumahnya. Maka, diberi tahulah anaknya, bahwa inilah yang namanya buaya itu. Ketika melihat gambar buaya tersebut, sang anak marah besar. Karena dia menganggap binatang ini yang menyebabkan hidupnya dikekang.
Maka dirobeklah gambar buaya itu. Gambar matanya ditusuk, gambar punggungnya dirobek-robek, gambar kepalanya diinjak-injak. Saking marahnya, ia lepas kontrol. Hingga tangannya tertusuk duri dari kayu di mana gambar buaya tersebut menempel. Hingga menyebabkan tangannya bengkak.
Berhari-hari tangan sang anak yang bengkak tak kunjung reda. Lama-lama, tangannya pun infeksi, dengan sigap, sang anak dibawa berobat oleh orang tuanya. Namun, walaupun sudah berobat ke berbagai tempat, tetap saja tangan sang anak tak kunjung membaik. Dan akhirnya, ajal pun menjemputnya.
"Sang anak memang selamat dari keganasan buaya Rawa, tapi tidak selamat dari tipu daya buaya darat. Eh, maksudnya gambar buaya yang ada di darat."
Sahabat, kisah ini saya dapatkan dari seorang laki-laki yang bersedia menjadi pendamping hidup saya dari dulu, sekarang, dan insyaa Allah selamanya, saat kami duduk santai berdua sambil menyelamatkan puing-puing prasasti kuker (kue kering) peninggalan kerajaan lebaran. Dalam acara "ngobrol yang gak penting itu penting!"
Terlepas dari fiktif atau fakta, kisah ini mengajarkan beberapa hal kepada kita. Pertama, kita tidak boleh percaya kepada perkataan dukun, peramal, zodiak, atau sejenisnya. Dulu sebelum Rasulullah saw. lahir, pintu Lauhul Mahfudz selalu terbuka, membuat syetan dan antek-anteknya bebas naik turun Bumi - Lauhul Mahfudz, untuk mengintip, dan mencuri takdir manusia. Hasilnya dibisikan kepada dukun-dukun yang ada di bumi. Jadi, zaman dulu perkataan dukun atau peramal, memang benar adanya.
Namun setelah Rasulullah saw. lahir, pintu Lauhul Mahfudz ditutup rapat oleh Allah, hingga iblis dan konco-konconya tidak bisa lagi mengintip, apalagi mencuri takdir manusia. Jadi jika sekarang masih ada dukun yang meramal nasib manusia, itu dusta! Kalau pun kenyataan sesuai dengan perkataannya, itu takdir Allah semata. Kita tidak boleh meyakini bahwa perkataan dukun itu benar. Karena ketika kita membenarkan perkataan dukun, maka syirik jadinya. Naudzubillahimindzalik.
Kedua, ketakutan yang berlebihan adalah penjara. Orang tua dalam kisah ini berupaya melindungi sang anak dari "ramalan". Namun ketakutan mereka justru membuat sang anak tidak tenang dan terkekang. Pada akhirnya, upaya menghindar dari takdir dengan cara yang salah (percaya peramal), justru membawa kepada takdir itu sendiri.
Ketiga, iman kepada takdir menghasilkan ketenangan. Mencintai takdir bukan berarti pasrah tanpa usaha. Melainkan menerima hasil akhir dengan lapang dada setelah maksimal berusaha. Ketenangan hati justru muncul saat kita tahu bahwa apa pun yang terjadi, itulah yang terbaik menurut Allah, meskipun pahit terasa.
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (TQS, Al-Baqarah: 216)
Rasulullah saw. menceritakan tentang iman:
انتؤمن بالله،وملاءكته وكتبه،ورسله،واليوم الاخر،وتؤمن بالقدر خيره وشره.
Dalam tulisannya yang berjudul Iman Paling Susah itu Iman ke Takdir, Profesor Dr. H. Nadirsyah Hosen, LL. M., M, A. (Hons), Ph, D, seorang Dosen di Melbourne Australia menyatakan, bahwa Rasulullah saw. tidak hanya menyebutkan, tapi Rasulullah mengulang. "Engkau beriman (Tu'mina)..., dan engkau beriman (Tu'mina) kepada takdir. Seakan Rasulullah saw. berhenti sejenak disana, dan seperti ingin berkata: "Bagian ini tidak sama dengan yang lain, bahwa iman yang paling sulit itu adalah iman kepada takdir. Kenapa? Karena, beriman kepada Allah, kita masih berasa dekat. Beriman kepada Rasul, kita masih bisa belajar dan meneladani. Beriman kepada hari akhir, kita masih bisa berharap keadilan."
Tapi beriman kepada takdir...
Berarti menerima sesuatu yang paling tidak kita pahami.
Takdir tidak selalu datang dalam bentuk yang kita inginkan. Ia datang dalam bentuk yang kita butuhkan. Meski kita belum siap menerimanya.
Kadang ia mengetuk sebagai kehilangan, kadang ia hadir sebagai kegagalan.
Kadang ia pun menjelma sebagai penundaan yang melelahkan.
Dan di situlah iman diuji bukan di kepala, tapi di dada.
Kita mudah mengatakan, "saya percaya Allah Maha Adil", tapi menjadi sulit ketika hidup terasa tidak adil.
Takdir baik atau buruk tidak akan pernah salah alamat. Ia tidak akan keliru mengetuk pintu. Yang sering salah adalah cara kita membacanya. Kita percaya bahwa semua akan baik-baik saja ketika terpuruk, tapi kita ragu. Dan kita ingin percaya bahwa akan baik-baik saja ketika di puncak, tapi diam-diam kita takut kehilangan. Disitulah mungkin rahasia pengulangan itu.
Iman kepada takdir itu, ketika kita yakin bahwa Allah tidak pernah salah menetukan, walau kadang kita tidak mengerti jalan-Nya. Di situlah letak iman paling dalam. Bukan yang paling depan, tapi yang paling bertahan, walau jiwa sedang berantakan.
Wallahu 'alam bisshawwab.
Via
IBRAH
Posting Komentar