Telusuri
  • Pedoman Media
  • Disclaimer
  • Info Iklan
  • Form Pengaduan
  • Home
  • Berita
    • Nasional
    • Lensa Daerah
    • Internasional
  • Afkar
    • Opini Tokoh
    • Opini Anda
    • Editorial
  • Remaja
    • Video
  • Sejarah
  • Analisa
    • Tsaqofah
    • Hukum
  • Featured
    • Keluarga
    • Pernikahan
    • Pendidikan Anak
    • Pendidikan Remaja
    • FiksiBaru
Tanah Ribath Media
Beranda opini Hari Tahanan, Bukti Genosida Berlangsung di Balik Jeruji
opini

Hari Tahanan, Bukti Genosida Berlangsung di Balik Jeruji

Tanah Ribath Media
Tanah Ribath Media
29 Apr, 2026 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp


Oleh: Alfira Khairunnisa 
[Muslimah Peduli Umat dan Aktivis Idari (Ikatan Daiyah Riau)] 

TanahRibathMedia.Com— Tanggal 17 April bukan sekadar tanggal di kalender. Bagi Palestina, ini Hari Tahanan. Hari di mana luka penjajahan dibuka kembali. 17 April, hari tahanan Palestina dan gelombang protes global. Setiap 17 April diperingati sebagai Yaum al-Asir al-Filastini. Tahun ini eskalasi kemarahan global memuncak. Aksi solidaritas digelar di Jakarta, London, New York, Istanbul, sampai Kuala Lumpur. Tuntutan sama: Bebaskan Palestina.

Pemicunya makin panas setelah parlemen Zionis mengesahkan UU hukuman mati bagi tahanan Palestina yang dituduh “terorisme”. UU ini jadi legalisasi untuk membunuh tahanan secara “resmi”. Dunia paham: ini bukan penegakan hukum, ini eksekusi genosida dengan stempel parlemen (dompetdhuafa.org, 24-4-2026). 

Satu Juta Warga Palestina Pernah Dipenjara Sejak 1967

Data lembaga Addameer: sejak pendudukan 1967, sekitar 1 juta warga Palestina – 20% dari total populasi – pernah merasakan penjara Zionis. Artinya, di tiap keluarga Palestina pasti ada mantan tahanan. Hari ini saja ada 9.600 warga Palestina ditahan. Dari jumlah itu, 3.660 ditahan administratif tanpa dakwaan, tanpa pengadilan, bisa diperpanjang tak terbatas. 200 anak-anak, 80 perempuan, 22 jurnalis, dan puluhan anggota parlemen. Penjara jadi senjata kolonial untuk mematahkan perlawanan (alhaq.org, 17-4-2026). 

Kondisi tahanan dengan siksaan sistematis hingga mati. Kesaksian yang lolos dari balik tembok mengerikan: tahanan diperkosa dengan benda tumpul, dipukuli sampai organ pecah, disetrum, digantung terbalik berhari-hari, dilaparkan, dilarang tidur, dan dibiarkan luka infeksinya membusuk. Sejak 7 Oktober 2023, minimal 60 tahanan gugur karena siksaan (greenleft.org.au, 21-4-2026). 

Nama-nama seperti Walid Daqqah yang meninggal setelah 38 tahun dipenjara dalam kondisi sakit, jadi simbol. Laporan B’Tselem menyebut penjara Zionis hari ini sudah berubah jadi “kamp penyiksaan”. 

Penjara adalah Wajah Asli Proyek Penjajahan

Kekejaman zionis adalah proyek imperialisme barat. Penjara-penjara itu tidak berdiri sendiri. Kekejaman yang berlangsung adalah bagian dari proyek imperialisme global. Zionis Israel adalah anak emas kapitalisme Barat. AS mengucurkan $3,8 miliar bantuan militer per tahun. Inggris kirim komponen F-35. Jerman suplai kapal selam. Senjata, dana, dan veto DK PBB dipakai untuk menjaga eksistensi entitas penjajah. Tujuannya geopolitik: menjaga Timur Tengah tetap terpecah, minyak tetap mengalir ke Barat, dan dunia Islam tidak punya poros kekuatan. 

Tahanan 1 juta orang itu adalah “biaya” yang harus dibayar Palestina agar proyek ini jalan. Jadi ini bukan konflik dua negara, tapi penjajahan yang dibacking penuh oleh adidaya kapitalis.

Hukum Internasional dan PBB: Macan Ompong Berstandar Ganda

Sudah 75 tahun PBB mengeluarkan 45 resolusi soal Palestina. Hasilnya nol. Konvensi Jenewa IV melarang penyiksaan tahanan, tapi Israel melanggar tiap hari. ICC mau mengadili? Langsung diancam sanksi oleh AS. HAM yang diteriakkan Barat hanya berlaku jika korbannya Ukraina atau warga kulit putih. Saat korban muslim Palestina, narasinya berubah jadi “hak Israel membela diri”. 

PBB tidak mau dan tidak mampu melindungi, karena PBB memang dibuat oleh pemenang PD II untuk menjaga status quo mereka. Lembaga ini instrumen penjajah, bukan pelindung terjajah. Berharap ke PBB sama dengan menyerahkan domba ke serigala. Akar masalah semua ini adalah umat Islam kehilangan junnah. Pelanggaran HAM, siksaan, UU hukuman mati – semua itu gejala. Penyakitnya adalah ketiadaan junnah, perisai umat. Nabi ï·º bersabda: “Imam/Khalifah itu perisai, orang berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya.” HR. Muslim. 

Sejak Khilafah Utsmaniyah diruntuhkan 1924, umat Islam kehilangan institusi pemersatu dan pelindung. Akibatnya Palestina dijajah, Rohingya dibantai, Uyghur dikamp, Kashmir diisolasi, dan tidak ada satu tentara pun yang dikirim resmi atas nama umat. Dulu Shalahuddin al-Ayyubi membebaskan Al-Quds karena ada negara di belakangnya. Sekarang 57 negara muslim punya 5 juta tentara, tapi tidak ada komando. Masalahnya bukan kurang kecaman, tapi tidak ada pedang.

Solusi Syar’i Bukan Diplomasi Basi

Sadar Ideologis, Palestina adalah Qodhiyyah Islamiyyah. Langkah pertama adalah meluruskan mindset. Palestina bukan isu kemanusiaan, bukan isu Arab, bukan isu nasionalisme. Al-Aqsa adalah kiblat pertama, tanah Isra’ Mi’raj, tanah wakaf Islam. Membelanya adalah akidah. Allah berfirman: “Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya.” QS. Al-Isra: 1. 

Membebaskan Palestina hukumnya fardhu ‘ain bagi penduduk sana, dan fardhu kifayah bagi umat Islam seluruh dunia sampai tegak Khilafah yang mengirim tentara. Dengan kesadaran ini, kepedulian tidak musiman saat viral, tapi jadi bagian dari iman yang diperjuangkan sampai mati.

Maka umat wajib bergerak, haram hukumnya pasrah ke PBB. Diam adalah dosa. Berharap ke PBB adalah pengkhianatan. Allah memerintahkan: “Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan membela orang-orang yang lemah dari laki-laki, perempuan, dan anak-anak yang berdoa: Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri yang zalim penduduknya ini.” QS. An-Nisa: 75. 

Ayat ini turun untuk konteks kaum tertindas. Solusi syar’i untuk penjajahan adalah jihad, bukan meja perundingan yang 75 tahun tidak menghasilkan apa-apa kecuali tambah luasnya tanah jajahan. Kewajiban umat hari ini: pertama, dakwah menyadarkan umat dan tentara negeri muslim bahwa Palestina butuh pembebasan militer. Kedua, menuntut penguasa negeri-negeri muslim untuk mengerahkan tentara. Ketiga, mendukung siapa pun yang berjuang menegakkan institusi yang mampu berjihad.

Solusi Tuntas: Tegaknya Khilafah Islamiyyah  

Sejarah sudah membuktikan. Palestina direbut 1099 saat umat terpecah. Dibebaskan 1187 oleh Shalahuddin saat ada Daulah. Direbut lagi 1917 saat Khilafah sakit. Dijajah sampai hari ini karena Khilafah tidak ada. Khilafah adalah satu-satunya institusi yang punya 3 syarat pembebasan: kewenangan syar’i untuk maklumat jihad, kekuatan militer dari penyatuan negeri-negeri Islam, dan kewajiban karena Khalifah adalah raa’in yang akan ditanya Allah soal darah muslim. Tanpa Khilafah, akan ada 9.600 tahanan lagi tahun depan. Dengan Khilafah, penjara-penjara itu diratakan dalam hitungan hari, seperti yang dilakukan Al-Mu’tashim saat membebaskan satu muslimah yang dilecehkan di Amuriyyah. Itu junnah yang kita butuhkan.

Hari Tahanan 17 April harus jadi tamparan: 1 juta orang dipenjara, 9.600 masih di dalam, disiksa, diperkosa, dibunuh. Ini bukan statistik, ini darah. Berhenti berharap pada sistem yang justru memelihara penjajah. Solusinya bukan donasi dan doa saja, tapi kerja politik ideologis untuk mengembalikan perisai umat. Karena tanpa Khilafah, Hari Tahanan akan terus diperingati dengan air mata. Dengan Khilafah, 17 April akan jadi Hari Pembebasan.
Wallahu'alambishoab.
Via opini
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama Tak ada hasil yang ditemukan
Postingan Lebih Baru

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar

- Advertisment -
Pasang Iklan Murah
- Advertisment -
Pasang Iklan Murah

Featured Post

Hari Tahanan, Bukti Genosida Berlangsung di Balik Jeruji

Tanah Ribath Media- April 29, 2026 0
Hari Tahanan, Bukti Genosida Berlangsung di Balik Jeruji
Oleh: Alfira Khairunnisa  [Muslimah Peduli Umat dan Aktivis Idari (Ikatan Daiyah Riau)]  TanahRibathMedia.Com— Tanggal 17 April bukan sekadar tangg…

Most Popular

Melampaui Batas Nasionalisme, Melawan Hegemoni Global; Sebuah Pelajaran dari Perang Iran melawan AS

Melampaui Batas Nasionalisme, Melawan Hegemoni Global; Sebuah Pelajaran dari Perang Iran melawan AS

April 24, 2026
Anak Menghabisi Ibu Kandung akibat Kecanduan Judol: Siapa yang Bertanggung Jawab?

Anak Menghabisi Ibu Kandung akibat Kecanduan Judol: Siapa yang Bertanggung Jawab?

April 26, 2026
Demi Penghematan BBM, WFH Diberlakukan, Solusikah?

Demi Penghematan BBM, WFH Diberlakukan, Solusikah?

April 26, 2026

Editor Post

Tak Habis Pikir

Tak Habis Pikir

Juni 11, 2023
Lebih dari 70 Muslimah Hadiri Talk Show Kajian Risalah Akhir Tahun 2023

Lebih dari 70 Muslimah Hadiri Talk Show Kajian Risalah Akhir Tahun 2023

Januari 01, 2024
Untuk Engkau yang Merindu Bahagia

Untuk Engkau yang Merindu Bahagia

Juni 09, 2023

Popular Post

Melampaui Batas Nasionalisme, Melawan Hegemoni Global; Sebuah Pelajaran dari Perang Iran melawan AS

Melampaui Batas Nasionalisme, Melawan Hegemoni Global; Sebuah Pelajaran dari Perang Iran melawan AS

April 24, 2026
Anak Menghabisi Ibu Kandung akibat Kecanduan Judol: Siapa yang Bertanggung Jawab?

Anak Menghabisi Ibu Kandung akibat Kecanduan Judol: Siapa yang Bertanggung Jawab?

April 26, 2026
Demi Penghematan BBM, WFH Diberlakukan, Solusikah?

Demi Penghematan BBM, WFH Diberlakukan, Solusikah?

April 26, 2026

Populart Categoris

Tanah Ribath Media

Tentang Kami

Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Contact us: contact@gmail.com

Follow Us

Copyright © 2023 Tanah Ribath Media All Right Reserved
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Advertisement
  • Contact Us