Telusuri
  • Pedoman Media
  • Disclaimer
  • Info Iklan
  • Form Pengaduan
  • Home
  • Berita
    • Nasional
    • Lensa Daerah
    • Internasional
  • Afkar
    • Opini Tokoh
    • Opini Anda
    • Editorial
  • Remaja
    • Video
  • Sejarah
  • Analisa
    • Tsaqofah
    • Hukum
  • Featured
    • Keluarga
    • Pernikahan
    • Pendidikan Anak
    • Pendidikan Remaja
    • FiksiBaru
Tanah Ribath Media
Beranda OPINI Melampaui Batas Nasionalisme, Melawan Hegemoni Global; Sebuah Pelajaran dari Perang Iran melawan AS
OPINI

Melampaui Batas Nasionalisme, Melawan Hegemoni Global; Sebuah Pelajaran dari Perang Iran melawan AS

Tanah Ribath Media
Tanah Ribath Media
24 Apr, 2026 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp

Oleh: Putri Ramadhini
(Sahabat Tanah Ribath Media)

TanahRibathMedia.Com—Iran telah di embargo selama hampir 50 tahun oleh AS sejak revolusi pada tahun 1979 (https://www.cnnindonesia.com/internasional/20260312163901-120-1337358/hampir-50-tahun-embargo-diserang-as-israel-kenapa-iran-masih-kuat). Namun ternyata, embargo di berbagai bidang ini tetap tidak dapat membuat Iran kalah begitu saja dalam perang melawan AS. Kombinasi faktor geografis selat Hormuz dan pegunungan Zagros, aliansi geopolitik bersama jaringan proksi Houthi di Yaman dan Hizbullah di Lebanon, serta kekuatan militer  berupa senjata perang rudal balistik, drone, dan armada angkatan laut taktis, menjadikan Iran sebagai kekuatan yang harus diperhitungkan  (https://international.sindonews.com/read/1676713/43/mengapa-iran-sangat-sulit-untuk-ditaklukkan-meski-dikeroyok-as-dan-israel-ini-analisisnya-1770962563).

Kesulitan menghadapi Iran sendirian, AS meminta bantuan kepada sekutunya. Namun, para sekutu AS mulai dari para pemimpin negara di Eropa hingga Australia pun menolak terlibat. Presiden Donald Trump menyerukan koalisi internasional. Ia meminta bantuan negara-negara sekutu untuk mengirimkan kapal perang ke kawasan dan membantu AS membuka blokade Selat Hormuz. Namun, NATO selaku sekutu AS menolak permintaan Trump itu (https://www.kompas.id/artikel/as-iran-menegang-lagi-setelah-trump-ancam-hancurkan-pembangkit-iran). Para pemimpin Eropa telah menolak keterlibatan langsung dalam operasi militer AS-Israel terhadap Iran (https://www.cnbcindonesia.com/news/20260319095039-4-720216/sekutu-as-pecah-eropa-tegaskan-ke-trump-tak-mau-terlibat-perang-iran). Australia memastikan tak akan mengirim kapal perang untuk mengamankan Selat Hormuz (https://www.kompas.id/artikel/iran-yang-jadi-penentu-akhir-perang-bukan-as).

Bagi banyak pengamat internasional, Iran justru muncul sebagai pemenang dalam pertempuran fase ini. Teheran dinilai mampu meredam gempuran, membalas dengan kekuatan dan martabat, serta menolak untuk menyerah (https://www.cnbcindonesia.com/news/20260409074042-4-725148/iran-sesungguhnya-menang-perang-lawan-as-ini-buktinya). Jika satu negara dengan sumber daya terbatas dan di bawah tekanan embargo selama puluhan tahun seperti Iran mampu menciptakan kebuntuan militer bagi negara adidaya seperti AS. Ketangguhan Iran menjadi bukti nyata, bahwa secara logika, jika satu Iran saja sulit ditembus, maka seluruh jaringan negeri-negeri muslim yang bersatu akan menjadi tak terkalahkan.

Hegemoni global negara adidaya seperti AS bertahan dengan memastikan kaum muslim tetap terfragmentasi melalui strategi divide and conquer (pecah belah dan kuasai). Strategi ini berhasil menjadikan kaum muslim terpecah menjadi unit negara-negara kecil dengan batas semu nasionalisme  yang mudah diintervensi dan diadu domba. 

Melampaui batas nasionalisme, kesatuan negeri muslim yang diikat dalam institusi Khilafah akan mampu mengalahkan hegemoni global. Khilafah menghapus sekat geopolitik dan mengintegrasi wilayah teritorial.  Jika nasionalisme membuat umat muslim beda negara merasa sebagai orang yang berbeda karena perbedaan paspor atau bendera, maka Khilafah menyatukan semua umat muslim menjadi satu warga negara, sehingga memudahkan untuk saling membantu tanpa terikat administrasi rumit antar negara. Kontrol atas wilayah-wilayah strategis umat muslim di bawah satu komando akan menjadi perisai yang melindungi stabilitas keamanan negara dari serangan luar.  Seluruh angkatan bersenjata dari berbagai wilayah di lebur menjadi satu. Jika satu wilayah umat muslim di serang, maka seluruh wilayah umat muslim yang lain akan bersatu dan melakukan perlawanan. Khilafah akan menjadi negara dengan kekuatan militer yang tangguh.

Penghapusan sekat ekonomi dalam naungan Khilafah dilakukan dengan penerapan pengelolaan  sumber daya alam oleh negara berdasarkan aturan islam. Hal ini akan menciptakan kemandirian energi karena komoditas strategis di distribusikan ke seluruh wilayah Khilafah secara adil sesuai kebutuhan, melampaui batas negara, sehingga tidak mudah goyah oleh gejolak global. Penggunakan mata uang tunggal emas dan perak akan memutus ketergantungan pada mata uang asing dan menghilangkan persaingan tidak sehat antar negara muslim yang saling menjatuhkan harga komoditas demi kepentingan domestik. Khilafah akan tumbuh menjadi sebuah poros ekonomi yang kuat.

Iran adalah sebuah contoh nyata dari ketangguhan. Jika satu negara saja bisa membuat negara adidaya berpikir ribuan kali untuk menyerang, maka gabungan dari 50 lebih negeri muslim dengan miliaran penduduk dan kekayaan alam yang tak terbatas adalah kekuatan super sebenarnya. Kesatuan umat adalah kebutuhan bagi dunia untuk mengakhiri dominasi sepihak AS. Ini bukan tentang keinginan untuk menindas pihak lain, melainkan tentang menciptakan keadilan global di mana tidak ada satu negara pun yang bisa bertindak sebagai "polisi dunia" secara semena-mena. Jika Iran adalah percikan yang menunjukkan bahwa melawan arus hegemoni itu mungkin dilakukan, maka kesatuan umat islam dalam institusi Khilafah adalah api besar yang akan menerangi jalan menuju rahmat bagi seluruh alam.

“Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiyā': 107)
Via OPINI
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama Tak ada hasil yang ditemukan
Postingan Lebih Baru

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar

- Advertisment -
Pasang Iklan Murah
- Advertisment -
Pasang Iklan Murah

Featured Post

Melampaui Batas Nasionalisme, Melawan Hegemoni Global; Sebuah Pelajaran dari Perang Iran melawan AS

Tanah Ribath Media- April 24, 2026 0
Melampaui Batas Nasionalisme, Melawan Hegemoni Global; Sebuah Pelajaran dari Perang Iran melawan AS
Oleh: Putri Ramadhini (Sahabat Tanah Ribath Media) TanahRibathMedia.Com— Iran telah di embargo selama hampir 50 tahun oleh AS sejak revolusi pada t…

Most Popular

Dampak Judi Online terhadap Kerusakan Moral Generasi dalam Sistem Kapitalisme

Dampak Judi Online terhadap Kerusakan Moral Generasi dalam Sistem Kapitalisme

April 19, 2026
Negeri di Atas Kertas: Memutus Rantai Sandera Energi Global

Negeri di Atas Kertas: Memutus Rantai Sandera Energi Global

April 19, 2026
Dana Umat Mengentaskan Kemiskinan, Solutifkah?

Dana Umat Mengentaskan Kemiskinan, Solutifkah?

April 19, 2026

Editor Post

Tak Habis Pikir

Tak Habis Pikir

Juni 11, 2023
Lebih dari 70 Muslimah Hadiri Talk Show Kajian Risalah Akhir Tahun 2023

Lebih dari 70 Muslimah Hadiri Talk Show Kajian Risalah Akhir Tahun 2023

Januari 01, 2024
Untuk Engkau yang Merindu Bahagia

Untuk Engkau yang Merindu Bahagia

Juni 09, 2023

Popular Post

Dampak Judi Online terhadap Kerusakan Moral Generasi dalam Sistem Kapitalisme

Dampak Judi Online terhadap Kerusakan Moral Generasi dalam Sistem Kapitalisme

April 19, 2026
Negeri di Atas Kertas: Memutus Rantai Sandera Energi Global

Negeri di Atas Kertas: Memutus Rantai Sandera Energi Global

April 19, 2026
Dana Umat Mengentaskan Kemiskinan, Solutifkah?

Dana Umat Mengentaskan Kemiskinan, Solutifkah?

April 19, 2026

Populart Categoris

Tanah Ribath Media

Tentang Kami

Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Contact us: contact@gmail.com

Follow Us

Copyright © 2023 Tanah Ribath Media All Right Reserved
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Advertisement
  • Contact Us